Hidup dan Mati

Pengalamanku Selamat Terjun Payung Walau Parasutku Gagal Terbuka

Brad Guy terjun dari ketinggian 4.572 meter, menghantam tanah dalam kecepatan 80 km/jam. Dia menceritakan ulang pengalaman mengerikannya itu.
28.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia.

Bayangkan dirimu meloncat keluar dari sebuah pesawat dari ketinggian 4.572 meter dan parasut gagal terbuka dengan sempurn. Kamu harus menghantam daratan dengan kecepatan 80 km/jam. Mestinya kamu mati. Menurut hukum fisika dan biologi manusia, kamu hampir pasti sudah jadi almarhum. Ajaibnya, Brad Guy, masih bernafas setelah parasut milik instrukturnya, serta parasut cadangan, gagal berfungsi dalam sebuah aksi terjun payung 2013 lalu.

Iklan

Saya menghubungi Brad untuk ngobrol-ngobrol santai menceritakan pengalaman buruknya nyaris bersua kematian.

VICE: Hai Brad. Kamu berhasil lolos dari maut insiden terjun payung yang gagal.
Brad Guy: Iya. Kejadiannya empat tahun lalu, tanggal 1 Agustus 2013 di Melbourne, di area bernama Lilydale. Harinya cerah waktu itu—25 derajat, cuacanya indah, tidak ada awan di langit. Kondisi yang bagus bagi saya untuk terjun payung.

Kamu meloncat dari ketinggian berapa?
Waktu itu 15.000 kaki (4.572 meter). Kamu bisa memilih ketinggian sesuai kehendak dan saya memilih opsi yang tertinggi. Waktu itu instruktur sempat bergurau dan bertanya apabila saya memiliki kata-kata terakhir. Berhubung selera humor saya agak gelap, saya menjawab, "Ya, semoga parasutnya berfungsi nanti." Jadi saya kualat sebetulnya. Dan saya sempat sering memikirkan ini—jangan-jangan kecelakaan itu salah saya sendiri?

Seiring instruktur mendorong saya semakin dekat ke tepi pesawat, saya ingat berusaha berpegangan ke semua obyek yang bisa saya pegang. Saya bukan berubah pikiran, tapi lebih kayak 'Anjir, ini ngeri juga ya.' Kemudian kami meloncat. Enam atau tujuh detik pertama itu seru banget. Sensasinya fenomenal. Di titik ini, belum ada rasa takut.

Kapan parasut pertama terbuka?
Saat itu juga. Saya menunggu ada semacam dorongan kuat ketika parasut terbuka, sesuai dengan pelatihan yang dilakukan sebelumnya. Tapi ini tidak terjadi. Di saat itulah saya mulai khawatir. Bill, instruktur di belakang saya sibuk tergopoh-gopoh. Dia berusaha menggoyang kabel-kabelnya agar parasut terbuka. Di saat itulah rasa teror mulai datang dan saya panik. Semua hal yang tidak diinginkan terjadi.

Setelah beberapa saat, parasut kedua keluar. Saya melihat ke atas, parasut putih nyangkut dengan parasut kuning, dan keduanya tidak berfungsi. Di titik ini, kecepatan kami terjun tidak melambat. Saya tidak bisa memproses apa-apa dan mendengar Bill berteriak ke saya—dia berteriak sekeras mungkin, menyuruh kaki saya lurus ke bawah dan tubuh saya terjaga karena kami mulai berputar-putar dan gemeteran. Ketika tahu parasut gagal terbuka, seperti apa pemandangan di bawahmu?
Semuanya mulai terlihat lebih jelas. Semuanya terjadi sangat cepat. Di titik ini, ketika saya melihat kedua parasut terbuka, saya sudah pasrah menerima ajal yang menjemput. Ada semacam rasa tenang aneh, 'Oke, ini bener-bener kejadian nih. Ini akan menjadi rasa sakit terburuk yang pernah saya alami, tapi begitu sampai di bawah, saya bakal langsung koit.' Emosi yang saya rasakan adalah rasa bersalah. Saya merasa sangat bersalah mengajak keluarga dan membuat mereka menyaksikan kematian saya.

Iklan

Kamu sempat mikir ga waktu itu bakal langsung mati?
Saya tahu akan ada rasa sakit, kemudian baru mati. Kombinasi kedua hal itu. Sangat sulit untuk mengingat semua pikiran dalam kepala saya saat itu karena terlalu banyak pikiran yang muncul dan tidak satupun bisa diproses. Tapi saya tahu kematian akan menjemput. Ketika tubuh dan pikiran kamu hendak menyambut kematian—semuanya berhenti berfungsi dan saya mati rasa. Saya siap menghadapi rasa sakitnya, sebelum akhirnya berhenti bernafas.

Seperti apa rasanya beberapa detik terakhir sebelum kamu menghantam tanah?
Saya ingat merasakan benturan beberapa kali dan bukan hanya satu hantaman besar, karena kami terpental dan memantul-mantul, menghantam tanggul sebuah danau di lapangan golf. Kami berakhir di pinggir danau, setengah tenggelam. Saya ingat membuka mata dan melihat langit, menyentuh tanah. Sakit kagetnya, saya berusaha berteriak, tapi saya kelelahan dan terengah-engah berusaha bernafas. Kami mendarat tegak lurus, jadi punggung saya mendarat duluan sementara instruktur mendarat dengan kakinya. Bagian bawah tubuh saya tenggelam di danau sementara sebelah kiri tubuh instrukturlah yang mendarat di dalam air.


Baca juga liputan seru VICE tentang pelaku olahraga ekstrem lainnya:

Saat menghantam tanah, tubuhmu sakit banget?
Saya inget banget rasa sakitnya. Hal pertama yang saya rasakan adalah sesak nafas dan rasa terbakar di seluruh tubuh, dan saya tidak bisa merasakan apapun. Saking sakitnya, saya mati rasa, dan tulang punggung rasanya terbakar. Rasa sakitnya intens banget…saya bahkan tidak bisa menjelaskan. Itu adalah rasa sakit terburuk yang bisa dirasakan seorang manusia. Saya baru saja menghantam bumi dari ketinggian 15.000 kaki dengan kecepatan 80 km per jam.

Saya tidak bisa menggerakan atau merasakan tubuh, tapi dengan tenaga yang tersisa, saya melihat ke arah Bill dan menyadari dia pingsan. Wajahnya berwarna biru dan dia tergeletak di bawah saya. Menggunakan semua tenaga yang ada, saya menggenggam tangannya, berusaha membuat dia sadar. Saya ingat mengatakan, "Bill, tolong bangun dong, kamu harus terus hidup, aku sorry banget." Saya merasa bertanggung jawab. Rasanya lama sekali sebelum dia akhirnya sadar. Saat itu saya sempat mengira telah membunuhnya.

Iklan

Apa yang dikatakan instrukturmu setelah kembali sadar?
Dia mulai berteriak. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa—kaki dan tulang pinggannya patah dan saya tidak bisa bergerak. Saya merasa membebani dia karena kami terikat bersama dan saya memperparah rasa sakitnya. Kami berdua mulai berteriak seperti binatang liar. Akhirnya, tiga pemain golf yang melihat kami mendatangi, melepas kami dari ikatan dan mengangkat kami dari danau. Di titik ini saya masih menangis. Salah satu dari mereka mengatakan, "Kamu gakpapa kok, kamu akan sehat lagi, jangan khawatir." Saya melihat Bill dan dia masih berteriak. Mereka berusaha menjaga punggung dan leher saya tegak. Di saat itulah ambulans datang. Bill diangkat masuk ke dalam helikopter dan dibawa terbang, saya dimasukkan ke dalam ambulans dan melihat keluarga saya berlari mengarungi bukit untuk mendatangi saya. Mereka mengatakan, "Kami sayang kamu, kamu akan baik-baik saja, nanti kita ketemu di rumah sakit." Saya terus meminta maaf. Saya diberikan suntikan morfin dan pakaian saya dirobek-robek dan saya terus menangis. Rasanya kacau sekali.

Saya takjub saat tahu kamu sadar setelah jatuh dari terjun payung.
Saya terus menanyakan diri pertanyaan yang sama. Akan selalu ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Ada banyak faktor yang terlibat dalam keselamatan kami—kesempatannya sangat kecil—dan mereka semua ajaibnya terjadi dan menyelamatkan kami.

Berat parasut memperlambat kecepatan jatuh dan kalian menghantam tanah dalam sudut yang memperlunak hantamannya?
Iya, menurut saya juga begitu. Karena kami jatuh di pinggir danau, dimana tanahnya lebih empuk. Banyak sekali elemen yang harus terjadi agar kami selamat: lokasi pendaratan, bagaimana kami mendarat, dan bahkan cuacanya. Dan semua itu terjadi.

"Aku sempat merasa sangat bersalah saat jatuh, karena mengajak keluargaku ke lokasi terjung payung. Aku seperti menyuruh mereka menyaksikanku mati."

Seperti apa rasanya ketika kamu akhirnya tiba di rumah sakit?
Malam pertama di rumah sakit itu rasanya seperti disiksa. Saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya terus menerus memanggil perawat untuk membius saya, tapi otak saya tidak mau beristirahat. Saya masih histeris. Setiap kali saya menutup mata, saya bisa merasakan sensasi jatuh. Saya mulai tenang sehari setelahnya. Saya mulai bisa merasakan tubuh. Mereka menjelaskan bahwa tulang punggung saya patah dan saya kan sembuh. Saya mengira saya tidak akan bisa berjalan dengan normal dan cacat seumur hidup.

Kamu merasa beruntung gak cederamu gak lebih parah?
Sama sekali enggak. Saya tidak bisa bersikap positif sama sekali. Semuanya terasa suram dan menyiksa. Saya tidak bisa melihat kebahagiaan sama sekali. Saya berpikir, 'Tubuh saya hancur, pikiran saya hancur, seumur hidup akan begini terus deh.' Gejala-gejala depresi mulai mengambil alih tidak lama kemudian. Saya tidak bisa merasa positif sama sekali.

Bagaimana kehidupanmu beberapa bulan setelah insiden mengerikan itu?
Saya mengunci diri di dalam kamar sekitar empat bulan dan tidak bertemu atau berbicara dengan siapapun. Saya duduk di kamar gelap, tidak melakukan apapun. Saya depresi. Saya tidak mau makan, tidak mau mandi, dan meneriaki orang tua setial kali mereka mendekat karena saya merasa seperti seorang monster. Gejala PTSD mulai terasa. Saya terus mengalami mimpi buruk dan flashback. Saya terbangun di siang hari karena mimpi buruk dan berteriak histeris, melempar bantal ke tembok. Ibu saya harus menenangkan saya secara fisik. Tapi perlahan-lahan keadaan mulai membaik. Dengan membuka diri, saya bisa mengedukasi orang untuk mencari bantuan ketika mereka menderita.

Makasih atas jawaban-jawabannya Brad.

Follow penulis artikel ini lewat akun @PatrickBenjam