Potret indah Dari Ekosistem Danau Urmia di Iran yang sekarat
Semua foto oleh Ebrahim Noroozi 
Kerusakan Lingkungan

Potret Bernuansa Dunia Lain Dari Panorama Danau Sekarat di Iran

Danau Urmia sempat menjadi danau air asin terbesar kawasan Timur Tengah. Sekarang ekosistem danau ini sedang menunggu kematiannya.
KM
seperti diceritakan pada Kieran Morris
7.4.19

Dalam seri Ebrahim Noroozi: Snapshots of Iran, Amuse—situs wisata bagian dari VICE.com— menerbitkan karya fotografer Iran paling hebat.


Ebrahim Noroozi adalah fotografer Iran yang sering membidik hal-hal subtil dari tanah airnya. Lelaki yang sudah tiga kali memenangkan World Press Awards ini tidak takut memfokuskan jepretannya pada subyek gelap, berat, dan mengganggu. Dia pernah memotret para penonton hukuman gantung atau dampak dari kekerasan domestik ekstrem.

Kali ini kita akan menyaksikan salah satu koleksi foto Noroozi paling indah nan tragis yang bertajuk The Lake on its Last Legs.

Permukaan air di Danau Urmia, yang dulunya terkenal sebagai danau air asin terbesar di Timur Tengah, semakin surut dalam dua dekade terakhir. Peningkatan suhu global menyebabkan airnya menyusut hingga 10 persen dari kapasitasnya pada 1995. Ini adalah salah satu bencana lingkungan terburuk yang pernah terjadi di seluruh benua.

"Foto ini menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan manusia terhadap alam. Danaunya berubah dan rusak di depan mata kita. Saya tidak mungkin mengabaikan tragedi ini."

Proyek foto Noroozi tidak menekankan pada tragedi kerusakan ekosistem danau tersebut. Sebaliknya, dia menyulap Danau Urmia bagaikan berada di dunia lain yang menyenangkan, indah, cerah dan memiliki cakrawala tak terbatas.

Sudah banyak yang mengetahui kondisi Danau Urmia saat ini. Aktor kondang Leonardo DiCaprio bahkan telah menjadikannya sebagai masalah lingkungan serius. Tanpa mengecilkan isu lingkungan, Noroozi mencoba menangkap pengalaman manusia, yang mana kita masih bisa menikmati sesuatu selama hal itu masih ada. Meskipun, jelas kita tidak bisa mengendalikan kekuatan alam.

The-Lake-on-Its-Last-Legs-10

Foto-fotonya memperlihatkan para pengunjung yang menikmati pemandangan dan bermain di danau, bahkan walaupun airnya telah surut akibat perubahan iklim. Penampakan ini justru menekankan nilai dari apa yang telah hilang.

Dalam kesempatan ini, Noroozi menceritakan proses terciptanya seri fotografi ini dan apa yang menginspirasi proyeknya. Dia juga menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam mendokumentasikan kekeringan danau.


The-Lake-on-Its-Last-Legs-09
The-Lake-on-Its-Last-Legs-08
The-Lake-on-Its-Last-Legs-07

Saya sebenarnya tidak bermaksud memamerkan keindahan dalam seri foto ini — tapi hasilnya malah sebaliknya. Kita tak bisa memungkiri bahwa danaunya sangat cantik, terutama ketika airnya berubah merah saat musim panas. Ini adalah cerita manusia, tentang manusia dan kemanusiaan. Foto ini menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan manusia terhadap alam. Danaunya berubah dan dirusak di depan mata kita. Saya tidak mungkin mengabaikan tragedi ini.

The-Lake-on-Its-Last-Legs-06
The-Lake-on-Its-Last-Legs-05
The-Lake-on-Its-Last-Legs-04

Danau Urmia dulunya pernah menjadi tempat wisata bagi para turis. Pengunjung bisa menyeberangi danau dengan kapal, tapi sekarang mereka bisa melintasinya dengan berjalan kaki. Perahu usang terdampar di dasar danau. Semakin banyak gundukan garam yang muncul setiap tahunnya. Jarang ada yang membahas bencana lingkungan yang kami hadapi di Iran, dan sebagian besar darinya disebabkan oleh manusia. Kami memancing/bertani berlebihan, menutup aliran air yang dulunya menopang danau, dan berperan dalam perubahan suhu yang mengeringkan danau. Tapi sayangnya, tak ada yang peduli dengan keadaan danaunya.

The-Lake-on-Its-Last-Legs-03
The-Lake-on-Its-Last-Legs-02
The-Lake-on-Its-Last-Legs-01

Subyek utama fotoku selalu tentang kemanusiaan, tak peduli apa yang sedang saya potret. Sama seperti danau, saya yakin kalau kemanusiaan juga semakin rusak dan hancur akibat tindakan semena-mena. Itulah alasannya saya memotret. Saya merasa ini tugas saya sebagai fotografer adalah menunjukkan hal-hal mengerikan yang terjadi di tangan manusia. Dalam seri ini, orang-orang yang diabadikan tidak mengekspresikan sikap tidak berperasaan atau penderitaan.

Mereka malah berusaha menikmati setiap momen yang ada di Danau Urmia, dan menjaga kenangan yang diberikan danau sebelum tempat itu benar-benar punah. Namun, kita juga tidak bisa melupakan bahwa mereka—termasuk saya—adalah alasan dibalik kekeringan itu.

Tengok foto-foto lain dari Ebrahim di Instagram-nya.

Artikel ini pertama kali tayang di Amuse