Politik Internasional

Korea Utara Akan Buka Restoran Cepat Saji Demi Menghargai Niat Baik Trump

Pyongyang tahu banget nih kalau Trump doyan banget burger.
4.6.18
Foto: Saul Loeb, Korea Summit Press Pool/AFP/Getty Images

Kalau kalian jadi Donald Trump saat ini, kamu pasti menerima analisis CIA dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, badan intelijen Amerika Serikat itu melaporkan bahwa Korea Utara tak berencana menyerahkan persenjataan nuklirnya, berapa kalipun pertemuan antara kedua negara digelar atau dibatalkan. Di sisi lain, negara yang paling susah ditebak itu baru-baru ini mempertimbangkan membuka restoran siap saji guna menghargai itikad baik Donald Trump.

Iklan

“Laporan CIA tidak merinci brand restoran siap saji mana yang akan diundang untuk buka cabang di Korea Utara, namun Kim Jong-un membayangkan restoran tersebut bakal memasok konsumsi jika pertemuan antara pemimpin kedua negara digelar dan restoran ini menunjukkan bahwa dirinya menyambut penanaman modal asing dengan tangan terbuka,” jelas NBC News.

Sudah jadi rahasia umum jika Trump doyan melahap makanan siap saji. Dalam bukunya tentang kampanya pilpres AS 2016, mantan manajer kampanye yang dipecat Trump, Corey Lewandowski dan asisten Trump, David Bossie menulis bahwa “Di atas pesawat on Trump Force One, ada empat makanan siap saji utama: McDonald's, Kentucky Fried Chicken, pizza dan Diet Coke.”

Hal yang sama tak mungkin terjadi di Korea Utara, meski mendiang Kim Jong-il sesumbar jadi penemu hamburger. Ayah dari Kim Jong-un menyebut ciptaannya “ Gogigyeopbbang.” Makanan itu dideskripsikan sebagai “dua tangkup roti dan potongan daging.” Nama memang boleh beda, barangnya mah sama: hamburger.

Walaupun Kim mengaku menemukan hamburger eh Gogigyeopbbang, Korea Utara pernah melarang makanan siap saji dalam kurun waktu yang lumayan lama. Alasannya standar: makanan siap saji dianggap bisa menyebarkan “pengaruh kaum imperialis” yang jahat. Anggapan ini tergusur saat sebuah restoran siap saji ala Amerika pertama dibuka di Pyongyang pada 2009. Samtaesong, nama restoran itu, menyajikan, “daging babi cincang dan roti,” waffle, ayam goreng hingga draft beer. Menurut artikel yang diterbitkan oleh The Telegraph, harga daging cincang dan roti dibanderol seharga Rp23.500, atau nyaris setengah pendapatan harian rata-rata warga Korea Utara.

“Hamburgernya sih di bawah standar, tapi ayam gorengnya sedap dan punya kulit yang renyah,” ujar seorang turis Jepang. “Lagian, kerena mereka memberi saya sebuah sarung tangan plastik untuk makan ayam, tangan saya jadi enggak minyakan. Menurut saya sih kejutan kecil yang menyenangkan.”

Air Koryo, maskapai penerbangan nasional Korea Utara, juga menyajikan burger—atau makanan berbentuk burger yang oleh sejumlah penumpang barat dianggap sebagai sajian terburuk seumur hidup mereka. “Rasanya enggak enak-enak amat dan enggak jelas itu daging apa. Sepertinya sih bukan daging anjing,” kata operator tur Simon Cockerell kepada MUNCHIES. “Enggak satu orangpun naik Air Koryo demi mencicipi makanannya. Cuma kayaknya aku sudah makan burger itu sebanyak 30 kali dan aku melakukannya kalau benar-benar lapar. Satu-satu opsi jadi vegetarian di atas pesawat Air Koryo adalah dengan ‘tidak makan burger ini.’”

Jelas, sampai saat ini, belum ada satupun cabang McDonald’s di seantero wilayah Korea Utara, tapi menurut pengakuan Cockerell bisa ditemukan dengan mudah di Pyongyang. “Kalau kamu punya cukup uang, kami bisa buka restoran apa saja. Hanya saja, kamu tentu enggak bisa ngasih nama restoran macam Uncle Sam's All-American Steak House,” katanya. “Itu sih sudah keterlaluan.”

Jadi, mari kita tunggu brand restoran cepat saji mana yang akan buka di Korea Utara. Barangkali setelah itu, perdamaian antara Negeri Paman Sam dan Korea Utara ditandatangani oleh pemimpin kedua negara sambil makan burger.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES