Lima anak Korea Utara naik bom bom car
Semua foto oleh Stéphan Gladieu
Fotografi

Mengintip Keseharian Rakyat Korea Utara Lewat Foto Penuh Warna

Fotografer Stephan Gladieu memotret rakyat Korut di perkotaan, yang jauh lebih menarik ketimbang selalu fokus pada sepak terjang pemerintahan Kim Jong-un.
23.10.20

Berkunjung ke Korea Utara, dan kalian akan melihat potret para kepala negara terpampang di mana saja kalian berada — mulai dari hotel, gedung perkantoran, museum hingga halte bus.

Dipajangnya potret ini bukan tanpa alasan. Foto-foto tersebut berfungsi sebagai pengingat kesetiaan rakyat terhadap Kim Jong-un beserta ayah dan kakeknya yaitu Kim Il-sung dan Kim Jong-il.

Fotografer Prancis Stephan Gladieu ingin menampilkan kehidupan Korut dengan gaya berbeda. Dia tertarik memberi panggung kepada orang-orang biasa yang luput dari perhatian untuk dipotret layaknya pemimpin mereka.Hasil jepretannya kemudian dijadikan buku fotografi berjudul North Korea.

Berikut wawancara VICE bersama Stephan seputar proyek fotonya.

_DSC1049 - copie.jpg

VICE: Apa alasanmu memilih Korut jadi subyek proyek fotografi?
Stephan Gladieu: Saya terpesona dengan negara ini sejak dulu. Suka saja gitu, tidak ada alasannya. Bisa dibilang, Korut hanyalah sebuah negara kecil yang memiliki 25 juta penduduk tanpa sumber daya alam. Saya ingin mencari tahu kenapa orang-orang bisa tertarik dengan negara ini, padahal tidak banyak yang diketahui dari Korut — selain sejarahnya. Saya merasa harus menyaksikannya langsung dengan mata kepala sendiri.

Lalu mengapa kamu memotret warga biasa?
Media terlalu fokus menyoroti dinasti Kim Jong-un, ayahnya dan kakeknya. Yang dibicarakan tak jauh-jauh dari ketegangan internasional atau ancaman nuklir. Bagaimana dengan rakyatnya? Kenapa tidak pernah dibahas? Seperti apa kehidupan mereka di sana?

Apakah kamu jujur soal proyek ini ketika mengurus visa?
Awalnya tidak karena saya sadar mereka memiliki ideologi dan budaya yang bertentangan dengan negara lain.

Tapi, para pejabat tampak tertarik dengan proyek saya ketika kami akhirnya bertemu. Saya menjelaskan maksud dan tujuanku ke sana. Sebagai fotografer potret, saya ingin mengabadikan orang-orang di negara mereka. Saya sama sekali tidak tertarik memfoto pemandangan karena sudah banyak yang melakukannya. Saya memberi tahu mereka proyek ini murni untuk seni, bukan jurnalistik.

_DSC6314 - copie .jpg

Kendala apa saja yang kamu hadapi selama di sana?
Saya dikawal ke mana saja saya pergi. Dari tiba di bandara sampai pergi ke hotel, mereka selalu mengikutiku. Mereka juga mengatur jadwal dan tempat-tempat yang akan dikunjungi selama 15 hari ke depan. Tempat untuk istirahat makan pun sudah ditentukan.

Itu artinya mereka juga sudah bisa menebak apa saja yang akan saya lihat dan foto di semua tempat yang saya datangi. Keterbatasan ini menjadi kendala terbesar bagi fotografer yang sudah terbiasa bebas seperti saya.

Ditambah lagi, hampir tidak ada ikonografi di sana. Kebanyakan hanya propaganda dan foto-foto kepala negara. Lukisan dinding dan hiasan keramik pun memamerkan kejayaan rezim dan para pemimpin Korut. Semua itu berasal dari aturan ketat yang mengutamakan kesempurnaan. Foto warga tidak ada, karena yang terpampang cuma potret pemimpin mereka.

_DSC1236.jpg

Pernahkah kamu tergoda mengutuk rezim ini melalui foto-fotomu?
Saya dikritik karena tidak mengangkat kekejaman dan krisis kelaparan di sana. Begini deh, menurut kalian apakah pejabat Korut bersedia menunjukkan sisi negatif negaranya? Ya, tidak lah. Negara ini totaliter. Mereka takkan mungkin mau mengajak saya ke tempat-tempat yang menampilkan kebobrokan Korut. Dan lagi, bagaimana caranya saya mengubah sistem mereka? Itu mustahil dilakukan.

_DSC4435 - copie.jpg

Apakah pandanganmu tentang Korut dan penduduknya berubah setelah pergi ke sana?
Proyek ini membuktikan betapa mencengangkannya kediktatoran rezim Korut. Saya sudah tahu dari sebelum mengunjungi negaranya, tapi sekarang semakin yakin kalau mereka memiliki kekuatan tak tertandingi dalam mengatur warganya. Meskipun begitu, banyak juga kok orang Korut yang hidup bahagia. Mereka piknik di akhir pekan, atau berlibur ke taman hiburan.

Saya juga merasakan ketegangan di sekelilingku, yang tentunya berasal dari ketakutan mereka terhadap rezim yang berkuasa.

Seperti apa pandangan orang Korut tentang dunia Barat?
Mereka memandang dunia dengan cara yang sangat berbeda. Kita mungkin tidak setuju dengan nilai-nilai mereka, tapi orang Korut justru takut dengan nilai-nilai yang kita miliki. Mereka merasa negaranya mulai terbuka. Perubahan mencolok telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Gaya berpakaian dan pilihan warna jauh lebih modis sekarang. Sepeda listrik juga sudah ada di sana.

_DSC6729 - copie.jpg

Artikel ini pertama kali tayang di VICE France.