Panduan Nonton

Deretan Film Laga Menarik Tapi Kurang Terkenal Ini Bisa Kamu Tonton di Netflix

Bagi sebagian orang daftar ini berisi film-film yang bermutu jelek atau jeblok di pasaran. Tapi buat pecinta film action, daftar berikut berisi film-film penting wajib ditonton.

oleh Emerson Rosenthal
25 Maret 2018, 2:30am

Kolase foto oleh VICE US.

Ada terlalu banyak film action di luar sana.

Awalnya, daftar film yang kami susun berikut hendak berisi 43 judul. Saya langsung sadar sejumlah film action terlalu populer. Kalian mungkin saja sudah berulang kali menontonnya. Saya, ambil contoh, sudah nonton semua film Batman, termasuk yang jeleknya enggak ketulungan macam Batman and Robin. Sebagian pembaca pasti juga sudah mengkhatamkan Kill Bill Vol. 1 dan Vol.2. Kalian saya tebak pasti telah menamatkan saga duet polisi beda karakter, Lethal Weapons. Serta, bohong besar kalau ada orang mngaku tidak pernah menonton film-film Marvel Cinematic Universe, dari Iron Man sampai Black Panther (ya iyalah, kalau kamu males nonton film-film seperti yang disebut barusan, yang semuanya dari genre action, ngapain juga baca daftar ini.)

Saya sudah berkali-kali diminta redaksi VICE menyusun senarai film-film pilihan bisa ditonton lewat Netflix. Mulai dari barisan film horor terkeren sampai film-film keren yang paling enak ditonton saat teler. Saatnya kita membahas film laga yang jangan sampai dilewatkan kalau kalian berlangganan layanan streaming film. Karena film laga populer terlalu biasa, ada baiknya daftar berikut fokus sama yang kurang terkenal.

Di bawah ini adalah sederet film action underrated terbaik yang bisa kamu tonton di Netflix, yang diurutkan dari yang paling tua sampai yang paling baru.

The Daughter of Dawn (1920)

Saya enggak yakin kalau karyawan Netflix manapun tak tahu kalau situs mereka punya film ini. Konon, kopi asli film bisu dari tahun 1920 disangka hilang sampai secara ajaib kembali ditemukan pada 2014. Setelah direstorasi tiga tahun kemudian oleh Oklahoma Historical Society. Komposor Comanche David Yeagley dipercaya untuk menggarap score yang menyertai penafsiran Norbert A Myles atas legenda Amerika. Film ini melibatkan 300 suku asli Amerika dan berlatar belakang pemandangkan menakjubkan Pegunungan Witchita. Mungkin agak sedikit aneh membaca sebuah daftar film action yang dimulai sebuah film bisu, tapi lihat dulu deh adegan berburu bison di film ini, baru kamu boleh kementar.

The African Queen (1951)

Film tayang tak lama setelah seri Indiana Jones Raiders of the Lost Ark dirilis. Film garapan John Huston tersebut menceritakan petualang seorang misionaris (Katharine Hepburn) dan seorang kapten kapal uap tangguh (Humphrey Bogard) menjelajhi alam liar Afrika Timur. Bisa dibilang, inilah film action-adventure paling keren yang pernah diproduksi di Hollywood, sayangnya kurang terkenal. Kalau kamu baru sekali nonton film-film Humphrey Bogart, baiknya memang nonton Casablanca dulu, tapi asal kamu baru dalamt film inilah sang aktor legendaris diganjar Oscar.

In Like Flint (1967)

Sebuah konspirasi kelompok feminis ingin menggulingankan sitem patriarki dan menguasai dunia di tengah keriuhan dekade ‘60an. Rencana ini tidak bisa terwujud selama masih ada mata-mata super bernama Derek Flint. Sekuel film Our Man Flint ini, pernah disebut-sebut dalam film Austin Powers. “Hey! In Like Flint, that’s my favorite movie!” kata Austin Powers. Sekarang kamu ngerti deh apa maksud kalimat itu.

Young Tiger, a.k.a., Police Woman, a.k.a., Rumble in Hong Kong (1973)

Film action bertema kejahatan produksi Hong Kong ini di pasaran judulnya beda-beda. Saya sendiri menemukan sekurang-kurangnya lima judul yang berlainan padahal sama-sama cerita ini. Perbedaan judul tadi enggak terlalu penting sih. Soalnya, film laga satu ini penting dan perlu kalian saksikan karena di sinilah Jackie Chan berperan sebagai penjahat.

Khoon Khoon (1973)

Enggak nemu Dirty Harry di Netflix? Santai. Tonton saja remake versi Bollywoodnya berikut.

Battle Royale (2000)

Film cult ini enggak tayang di bioskop, karena sadis dan mengganggu banget. Tapi, lewat DVD bajakan ataupun file torrent, Battle Royale segera meraih status sebagai favorit para penggemar film-film hyperviolent produksi Jepang. Sebelum Saw, The Hunger Games, dan The Belko Experiment menampilkan plot sejenis, 42 pelajar SMA dengan kalung peledak di lehernya dipaksa saling bunuh di hutan belantara. Makanya, enggak aneh jika Quention Tarantino mengakui Battle Royale “salah satu film favoritnya dalam 17 tahun terakhir.”

Way of the Gun (2000)

Sesudah penulis skenario The Usual Suspects, Christopher McQuarrie, meraih Oscar dalam katagori Naskah Orisinil Terbaik pada 1996, dia memulai debutnya sebagai seorang sutradara, menggarap kisah seru petualangan dua penjahat kroco, yang diperankan oleh Ryan Philippe dan Benicio Del Toro. Duo penjahat tersebut nekat menculik seorang perempuan yang meminjamkan rahimnya pada seorang gembong pencuci uang kaya raya. Film ini punya adegan ancam mengancam yang seru, tembakan-tembakan yang royal ngobral peluru dan bahkan Janeane Garofalo.

Hostage (2005)

Ini salah satu dari sedikit film Bruce Willis yang jeblok. Dalam Hostage, Bruce Willis berperan sebagai negosiator sandera. Hostage karya Floren Emilion ini memang miskin pujian tapi kalau mau ditonton, film action-thriller ini sebenarnya cool abis.

Inside Man (2006)

Sebagian orang gak bakal nyangka kalau Spike Lee-lah yang menyutradari film heist yang dibintangi Clive Owen, Jodie Foster, Christopher Plummer, Willem Dafoe, Chiwetel Ejiofor, dan Denzel Washington ini. Semua talenta dalam film ini berhasil ditunjukkan dengan seimbang oleh sutradara yang pernah menggarap film komedi semacam Do the Right Thing.

Next (2007)

Coba bayangkan Nicolas Cage mengambil peran Julianne Moore di sitcom That’s So Raven tapi dengan setting bencana alam nuklir dan naskahnya ditulis Philip K. Dick. Next kira-kira sekeren itu. Tonton deh kalau enggak percaya.

Defiance (2008)

Daniel Craig, Liev Schreiber, Jamie Bell, dan George MacKay bermain di film karya sutradara The Siege Edward Zwick yang merupakan dramatisasi dari perjuangan Bielski bersaudara menyelamatkan ratusan warga Yahudi dari eksekusi di Belarus pada tahun 1940an. Biar asik, jangan nonton film ini mengecek akurasi sejarah di dalamnya. Tontonlah film ini untuk menyaksikan James Bond, Sabretooth dan Billy Elliot menggayang Nazi.

Ip Man (2008)

Kisah luar biasa tentang master Wing Chun yang pernah jadi guru Bruce Lee melahirkan franchise internasional yang sukses lantaran kisahnya diangkat dari kisah nyata yang menarik dan koreografi pertarungan gesit yang digarap Sammo Hung. semua quadrilogy Ip Man tersedia di Netflix. Jadi, kalau kamu ternyata suka film ini, langsung saja tonton maraton semua film Ip Man lainnya.

Fighting (2009)

Channing Tatum dan Terrence Howard star bermain dalam film garapan sutradara A Guide to Recognizing Your Saints, Dito Montiel. Walau dikenal sebagai seorang sutradara drama, Montiel secara mengejutkan bisa menggarap film tentang pertarungan jalanan yang memukau. Plotnya berkisah tentang seorang hustler yang berusaha keluar dari kelamnya jalanan New York dengan menjotos satu persatu lawannya dengan tangan kosong. Jangan lupa, Tatum tak selalu bermain keren seperti dalam Magic Mike, tapi di Fighting, aksi Tatum boleh diacungi jempol.

13 Assassins (2010)

Sutradara nyentrik yang pernah menyutradarai Audition dan Ichi The Killer, Takeshi Miike merombak film samurai hitam putih tahun 1963 garapan Eiichi Kudo. Hasilnya sebuah film tentang balas dendam penuh darah sekelompok samurai yang memutuskan turun tangan sendiri untuk menghakimi sendiri seorang penguasa lalim. Serius deh, film balas dendam samurai garapan Takeshi Miike, kalau masih males nonton mah, kalian sudah keterlaluan.

Wind River (2017)

Penulis skenario Sicario, Taylor Sheridan, lewat karyanya sebagai sutradara kali ini menyelami alam luar Wyoming, di AS. Dia menggarap film misteri pembunuhan bertempo lamban. Peter Travers melalui reviewnya mengatakan, “laga terpenting dalam film ini adalah para karakternya.” Mungkin film ini jarang mengumbar adegan ledakan karena memang tidak perlu, toh memang tidak diperlukan dalam jalannya cerita. Gantinya, kita merasakan ketegangan gara-gara pembunuh berantai bebas berkeliaran macam di Insomnia dan Seven. Wind River bukan film yang kamu bisa lupakan begitu saja (walaupun di pasaran dulu jeblok).