Iklan
Konflik Palestina-Israel

Jelang Ramadan, Puluhan Rakyat Palestina Tewas Akibat Serangan Militer Israel

Sebelum gencatan senjata dimulai awal pekan ini, 27 orang termasuk dua bayi, tewas dalam bentrokan paling parah di Gaza lima tahun terakhir.

oleh Tim Marcin
07 Mei 2019, 7:04am

Asap mengepul dari perumahan di Jalur Gaza akibat serangan udara militer Israel pada 5 Mei 2019. Foto oleh Hatem Moussa/Associated Press

Tentara Israel dan Otoritas Jalur Gaza sepakat melakukan gencatan senjata Senin (6/5) kemarin setelah sebelumnya kedua pihak terlibat dalam bentrokan yang menewaskan puluhan orang akhir pekan lalu.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan aksi mereka dipicu provokasi serangan roket dari Gaza memakan jiwa sebanyak empat warga Israel. Sedangkan pejabat kesehatan Otoritas Palestina melaporkan seranga Negeri Zionis itu menewaskan 23 orang Palestina—termasuk dua perempuan hamil dan dua bayi.

Kontak senjata akhir pekan lalu menjadi rangkaian kekerasan terburuk setelah perang pada 2014 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang. Tak terima dengan serangan roket dari Gaza, militer Israel membalasnya dengan melancarkan serangan udara selama akhir pekan. Serangan ini ditujukan kepada kelompok militan Hamas yang mengendalikan Gaza, serta kepada Gerakan Jihad Islam Palestina.

Namun, serangannya berakhir pada Senin pagi. Pejabat Palestina memberi tahu bila gencatan senjata telah dicapai. IDF juga mengisyaratkan hal yang sama dengan mencabut pembatasan terhadap warga sipil.

Apa pemicu kontak senjata akhir pekan lalu?

Situasinya memanas pada Jumat setelah seorang penembak jitu menembak dan melukai dua tentara Israel. Dua pejuang Hamas juga tewas dalam pemboman Israel segera setelahnya. Dua warga Palestina dilaporkan dibunuh oleh pasukan Israel dalam demonstrasi mingguan di sepanjang perbatasan. Pertempurannya semakin parah setelah militan Palestina meluncurkan ratusan roket dan Israel membalasnya dengan serangan udara.

IDF menyebutkan ada lebih dari 600 roket yang ditembakkan ke Israel, banyak di antaranya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan anti-rudal Iron Dome. Roket-roket yang meleset menewaskan tiga warga sipil, menggiring puluhan ribu orang berlindung di tempat pengungsian, dan membuat ribuan anak tidak bisa bersekolah. Sementara itu, militer Israel menyerang lebih dari 300 anggota Hamas dan Islamic Jihad.

Konfrontasinya mengakibatkan kematian warga sipil Israel pertama sejak perang pada 2014 lalu. Militan Palestina menggunakan rudal anti-tank untuk membunuh warga Israel yang sedang mengendarai mobilnya di dekat perbatasan. New York Times melansir bahwa ada lelaki lain yang dibunuh saat sedang merokok. Seorang rabbi tewas ketika dia ingin berlindung di dalam mobilnya. Selain itu, ada juga laki-laki yang terbunuh di pabrik semen.

"Iran butuh penyalur dana baru di Timur Tengah"

Ketika keadaannya memburuk, Israel menambahkan jumlah militernya di dekat perbatasan antara Israel dan jalur Gaza yang dikuasai Hamas. IDF menginformasikan bahwa mereka mengawasi terowongan, situs peluncuran roket, pabrik senjata dan situs serangan cyber. Mereka juga membunuh para pejuang individu setelah bertahun-tahun tidak melakukannya.

IDF mengklaim pasukannya melakukan pembunuhan yang ditargetkan kepada lelaki 34 tahun bernama Ahmad Hamed Al-Khudary yang dituduh mendanai kelompok teroris. Militer Israel mengatakan bahwa pembunuhan tu dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada lawan. Video bentrokannya pun diunggah ke Twitter.

“Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina harus menyadari betapa parah situasinya,” kata juru bicara militer Letnan Kolonel Jonathan Conricus kepada Times.


Meskipun “serangan besar-besaran” tersebut diperintahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel membantah tuduhan bahwa kematian warga sipil Palestina disebabkan oleh serangan mereka. Menurut The Guardian, IDF berujar salah satu perempuan hamil tadi tewas karena terkena proyektil Palestina yang salah sasaran.

Presiden Trump, yang berhubungan baik dengan Netanyahu, menyatakan dukungannya kepada Israel. Dia memposting serangkaian twit yang berbunyi, “Kami mendukung Israel 100% dalam pembelaan warga negaranya… Bagi warga Gaza — aksi teroris yang ditujukan terhadap Israel ini tidak akan membawa keberuntungan buatmu. HENTIKAN serangannya dan mulailah berdamai - itu masih bisa terjadi!”

Apa yang bisa terjadi berikutnya?

Aksi saling serangnya dihentikan tepat saat bulan suci Ramadan dimulai. Dalam beberapa minggu terakhir, Hamas memicu protes dan ketegangan di Gaza dengan menuduh Israel telah melanggar janjinya untuk meredakan blokade. Ketegangan itu tampaknya akan tetap ada setelah gencatan senjata diberlakukan Senin dini hari kemarin.

Pemimpin Hamas dan Israel menyebut kemungkinan adanya konfrontasi lain. The Guardian melaporkan bahwa pada Minggu, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh meminta Israel untuk meringankan blokade, mengatakan “putaran konfrontasi” bisa terus terjadi.

“Kampanye militer Israel belum berakhir. Warga diharapkan tetap bersabar dan bersikap bijaksana," kata Netanyahu. "Tapi jangan sepelekan sikap ini, kami juga siap untuk melanjutkan peperangan."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News