Iklan
The VICE Guide to Right Now

Hasil Penelitian: Partikel Karbon Polusi Udara Bisa Menembus Plasenta Ibu Hamil

Partikel karbon hitam, yang biasanya keluar dari pembangkit listrik tenaga batu bara atau knalpot mobil, dapat masuk ke plasenta janin. Dampaknya mencakup berat badan rendah, keguguran, sampai kelahiran prematur.

oleh Shamani Joshi; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
20 September 2019, 11:24am

Foto ilustrasi ibu hamil via  Pixabay.

Generasi muda ogah punya anak karena perubahan iklim, dan temuan baru sepertinya akan memperkuat tekad mereka. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Natural Communications, hasil pemeriksaan 25 ibu hamil non-perokok di Hasselt, Belgia menunjukkan ibu yang terpapar polusi udara berpotensi menurunkannya kepada janin melalui plasenta.

Penelitian tersebut menemukan ribuan partikel karbon hitam kecil per meter kubik, yang biasanya keluar dari pembangkit listrik tenaga batu bara atau asap knalpot mobil, dalam sel plasenta lima kelahiran prematur dan 23 kelahiran yang diperiksa.

Bagian tubuh perempuan yang memompa darah ke janin yang sedang berkembang terbukti bisa ditembus partikel polusi udara. 10 dari semua ibu yang diperiksa tinggal di dekat jalanan sibuk, dan jumlah partikel di dalam plasenta janin mereka sangat tinggi. Oleh karena itu, para peneliti berasumsi partikelnya masuk ke plasenta lewat paru-paru. Hal ini dapat menjadi langkah pertama menjelaskan betapa polusi udara bisa menyebabkan keguguran, berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur karena segala jenis kerusakan pada janin di tahap penting ini dapat memiliki konsekuensi.

“Tahap kehidupan ini sangat rentan. Semua sistem organ masih dalam perkembangan. Kita harus mengurangi paparan demi kelangsungan hidup generasi selanjutnya,” Profesor Tim Nawrot dari Universitas Hasselt memberi tahu The Guardian. Dia menganjurkan agar ibu hamil menghindari jalanan sibuk, walaupun mengurangi polusi udara adalah tanggung jawab pemerintah.

Dengan menggunakan teknik laser untuk mendeteksi partikel polusi—yang memiliki sidik jari unik—studi tersebut juga memeriksa plasenta perempuan yang pernah keguguran. Partikelnya bahkan sudah ada dalam janin 12 minggu. “Kami melihat ada partikel di semua perempuan, jadi bukan kebetulan saja,” kata Profesor Grigg dari Queen Mary University of London. “Itu berarti ada partikel di dalam tubuh kita setiap harinya.” Grigg mengatakan penelitiannya dapat menjadi pengingat penting untuk mengurangi polusi udara, tetapi kita tidak perlu khawatir berlebihan karena berat total partikel terlalu kecil untuk disimpulkan tanpa penelitian lebih lanjut pada subjek tersebut.

“Tapi karbon hitam bisa merusak plasenta,” kata Jennifer Salmond, associate professor fakultas lingkungan di Universitas Auckland, kepada AFP. “Aspek paling mengkhawatirkan dari studi ini yaitu partikel karbon hitam dari udara yang dianggap tidak mencemar oleh standar WHO bisa terkumpul dalam plasenta.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE IN.