Mengintip Macam-Macam Kancah Graffiti Asia Tenggara

Dari Malaysia, Indonesia, hingga Vietnam, tiap kancah grafiti punya budaya komunal. Secara estetik pun berbeda dari satu sama lain. Artikel ini semacam kartu pos menggambarkan ragam kancah-kancah tadi.

oleh KRINGE
|
14 Januari 2019, 5:58pagi

Asia Tenggara punya subkultur graffiti yang hidup dan warna-warni. Semua foto oleh penulis

Bagi pelancong yang mencari pengalaman seru dan ketemu pegiat subkultur anak muda, Asia Tenggara tak akan pernah mengecewakan. Itu sendiri yang kualami ketika menjelajahi kancah-kancah kecil kebudayaan graffiti di kawasan ini.

Aku tumbuh besar di sebuah negara tanpa budaya graffiti yang kuat. Sehingga kesempatan melihat subkultur ini dari dekat sangatlah menarik bagiku. Mengingat asal-usul grafiti mulai dari Amerika Serikat, sejak lama aku selalu penasaran bagaimana seni rupa jalanan ini akhirnya bisa hadir di kota-kota yang dekat dengan Singapura, kampung halamanku.

Aku senang diterima dengan tangan terbuka. Lebih dari sekedar seni, aku menemukan komunitas yang begitu hidup, terdiri dari pelukis dan teman tongkrongan yang barangkali tidak pernah sekalipun beraksi dengan pilox.

Masing-masing menghidupi kancah graffiti tersebut dengan kepribadian dan semangat berbeda-beda, yang akhirnya membentuk ciri khas kancah di beberapa negara yang sempat kukunjungi.

Kuala Lumpur, Malaysia

Pagi atau malam sama aja kok. Sama enaknya. Begitu juga dengan melukis graffiti. Kapanpun ayok. Kuala Lumpur adalah hutan urban dengan sentuhan grunge yang pas. Seakan-akan berbagai macam hal bisa terjadi. Kota ini mengingatkanku pada Singapura, tetapi dengan rasa kebebasan yang terasa di mana-mana. Anak muda Malaysia yang biasanya tertindas kini sedang merasakan letupan semangat. Itu yang membuat kancah graffiti dan urban art di Malaysia sedang tumbuh subur.

Huế , Vietnam

Aku merasa asing banget saat melihat sebuah pameran graffiti melibatkan para seniman pembuatnya (biasa dijuluki 'writer') dari 15 negara berbeda. Dunia terlihat begitu sureal dan padat ketika kamu berada di antara begitu banyak orang dan pengalam yang saling bentro di dinding, kanvas tempat writer berkreasi.

Pameran luar biasa itu kusaksikan di desa Huế, Vietnam. Komunitas graffiti lokal yang mengadakan acara tersebut memberi nama acaranya dengan jeli: 'Titik Pertemuan Berbagai Gaya'.

Yogyakarta, Indonesia

Naik sepeda motor adalah kewajiban tiap mendatangi kota ini. Karena hanya dengan fleksibilitas motor itulah, kalian bisa mendatangi tempat-tempat terbaik untuk mencicipi makanan atau menyaksikan ruang kesenian terbaik di Yogyakarta. Suatu malam aku dipinjami jaket, lalu diajak naik sepeda motor tanpa dikasih tahu kami mau kemana.

Tiba-tiba saja, saya dan teman-teman pegiat kancah graffiti Jogja tiba di kaki gunung Merapi sejam kemudian—hanya untuk nonton gunung berapi itu dan nongkrong, ngobrol ngalur-ngidul. Inilah wujud keramahan Indonesia yang terbaik dan menggambarkan eratnya ikatan komunitas graffiti di kota tersebut.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

More VICE
Vice Channels