Kerusakan Lingkungan

Mitos Sesat Soal Popok Memicu Pencemaran Parah Sungai dan Laut di Indonesia

Warga di aliran Sungai Brantas Jawa Timur meyakini popok sebaiknya dikubur atau dibuang di sungai agar bayi tenang. Hasilnya, popok jadi polutan terbesar kedua kawasan laut Indonesia.

oleh Elisabeth Glory Victory
06 Desember 2019, 10:43am

Kolase oleh VICE. Kondisi sungai kotor di Indonesia foto oleh Bay Ismoyo/AFP; ilustrasi popok oleh Loic Venance/AFP

Dalam perjalanan panjang menyelamatkan dunia dari kerusakan lingkungan, kita sering mengapresiasi orang-orang yang selalu bawa alat makan sendiri supaya tidak memakai plastik, adanya diskon minuman dari merchant pada pelanggan yang pakai tumbler, dan banyak lagi lainnya. Berbagai inisiatif itu berkutat soal pengurangan plastik. Namun dari berbagai insentif yang dikampanyekan besar-besaran demi lingkungan itu, sedikit sekali yang menyadari satu musuh lain terbesar lautan kita: popok bayi.

Bahkan ada satu problem mengenaskan dipicu pemakaian popok di Indonesia. Lihat saja Sungai Brantas, aliran sungai terpanjang ke-2 di Indonesia, di Jawa Timur kini mengalami kerusakan serius akibat pencemaran limbah popok bekas. Lebih mengenaskan lagi, semua ini akibat mitos suleten.

Apa itu suleten? Buat kalian yang masih belum familiar, suleten itu adalah kepercayaan lokal bahwa semua pakaian yang dipakai bayi akan menyatu dengan jiwanya. Popok termasuk di dalamnya. Jika popok dibuang, dan ujung-ujungnya dibakar, jiwa bayi dapat merasakan panas popok tersebut. Solusinya, agar pantat bayi tetap “dingin”, orang tua membuang popok bekas pakai ke perairan, terutama ke sungai. Jika dibuang ke tempat sampah, bayi dipercaya lebih sering menangis karena merasa 'popoknya terbakar'.

Di Surabaya dan sekitarnya, mitos tersebut masih banyak diamini. Alhasil, ribuan popok akhirnya bermuara ke lautan. Pasalnya warga juga takut membuang popok ke tempat sampah, karena takut apabila setelah dibuang ke TPS, lalu ke TPA, nanti popok bekas anaknya akan dibakar—yang nantinya membuat bayi gampang menangis.

Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif lembaga swadaya Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) yang mendalami polusi popok di sungai-sungai dekat Surabaya, mengakui mitos suleten ini hingga saat ini masih kuat mengakar di masyarakat. "Di Jawa mitosnya masih kuat. Di Jawa Timur, Jawa Tengah, itu yang baru saya tahu. Karena itu area yang kita handle," ujar Prigi saat dihubungi VICE.

Popok memang sekilas tak berbahaya. Padahal dampak merusaknya sudah terekam dengan jelas. Kotoran yang paling banyak ditemukan di laut Indonesia lumayan spesifik. Menurut catatan World Bank pada laporan Indonesia Economic Quarterly: Oceans Of Opportunity, popok menyumbang 21 persen dari sampah lautan di Tanah Air, menduduki peringkat dua. Pada peringkat pertama adalah limbah organik (44 persen) yang dapat dengan mudah terurai, kemudian disusul oleh kantong plastik (16 persen), plastik lainnya (9 persen), kemasan plastik (5 persen), kaca dan logam (4 persen), baru kemudian botol plastik (1 persen).

Mitos yang berdampak buruk pada lingkungan ini bahkan sudah diwariskan kepada generasi muda. Lina, perempuan 21 tahun asal Surabaya yang kini memiliki bayi berusia setahun, masih rajin mengubur popok anaknya di dekat sungai.

Dia sejujurnya tidak terlalu percaya pada mitos suleten. Namun lantaran permintaan dari orang tuanya ia tetap melakukannya. "Ya kan kita juga melakukannya enggak rugi apa-apa. Toh orang tua menyuruh sesuatu pun enggak mungkin jelek tujuannya," ujar Lina.

Tri warga Baruk, Surabaya, yang berusia 41 tahun, bahkan mengatakan bahwa mitos suleten ini hanya satu dari sekian mitos yang ada. Misalnya larangan merendam baju bayi agar tidak pilek, tidak membuang ari-ari sungai agar anak betah di rumah, dan banyak lagi.

Pembuangan popok sendiri telah memiliki pattern yang cukup konsisten. Menurut Riska Darmawanti, Peneliti Senior ECOTON, modus operandi yang paling umum di kalangan pembuang adalah lempar dari jembatan. "Sebenarnya tergantung juga lokasi jembatan itu. Setelah kita survei memang jembatan itu lokasi paling nyaman dan menarik untuk buang sampah. Biasanya pagi itu naik motor bersama istri. Plung, buang ke sungai," ujar Riska.

Di Surabaya, bisa dibilang aliran Sungai Brantas dan anak-anak sungainya sudah mengalami krisis popok. Makanya sejak Juni 2017 berdiri Brigade Evakuasi Popok yang “mengevakuasi”, melitigasi dan juga mengedukasi hal perpopokan. "Kalau bicara jumlah yang pernah kami dapatkan [saat mengevakuasi], di salah satu jembatan kami pernah mendapatkan 300 kilogram popok, dalam dua jam," tambah Riska. Jumlah yang sangat fantastis ini sebenarnya baru ujung dari gunung es yang menggambarkan masalah popok tersebut.

Popok juga bukan limbah sembarangan. Komposisi popok terdiri dari 50 persen plastik dan 42 persen Super Absorbent Polymer (SAP). Jika dibuang sembarangan, popok memiliki dampak yang sangat buruk bagi kualitas air.

Prigi menjelaskan yang paling membedakan popok dari polutan lainnya adalah kandungan SAP. Sebab SAP di dalam popok seiring waktu akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air, dan apabila terurai di perairan dapat berbahaya bagi lingkungan. Prigi juga menyebut senyawa ini dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan. Sehingga membuat ikan menjadi interseks atau memiliki dua kelamin pada satu tubuh, atau lebih beken disebut "ikan bencong".

Penelitian mengenai salah satu sungai tercemar, yaitu sungai Brantas, sedikit mengonfirmasi asumsi tersebut. Berdasar kajian dari tim Universitas Brawijaya dan University of Le Havre Perancis dan pada 2013, sebanyak 20 persen ikan di hilir Sungai Brantas mengalami interseks. Menurut penelitian itu fenomena itu terjadi karena kondisi pencemaran terlanjur parah. Dampaknya, reproduksi ikan terganggu. Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa apabila pencemaran tidak ditanggulangi, kepunahan spesies ikan akibat kegagalan reproduksi total sangat bisa terjadi.

Eko Prasetyo, pakar lingkungan dari Universitas Airlangga, menilai maraknya pembuangan popok di aliran sungai Brantas belum tentu berkaitan langsung fenomena ikan yang mengalami interseks. Namun, popok jelas berpengaruh terhadap kerusakan kawasan DAS. "Dengan adanya popok di sungai kita terjadi kerugian seperti pendangkalan sungai, ketidaknyamanan baik dari segi bau dan juga estetika," ujarnya saat dihubungi VICE. Persoalannya, jutaan warga Jawa Timur memanfaatkan aliran sungai Brantas sebagai sumber air sehari-hari. Makin berabe saja efeknya.

Upaya kerjasama antar warga dan juga pemerintah sebenarnya juga sudah pernah diwacanakan. Pada pekan pertama menjabat, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat meninjau langsung Sungai Brantas dan juga memutuskan untuk menaruh sejumlah drop box pembuangan popok dan CCTV di sejumlah titik bantaran sungai Brantas.

Warga yang tinggal di daerah air sungai seperti Zainal (41) juga telah menyadari akan denda Rp500 ribu apabila membuang popok di sungai. Sayangnya, menurut Prigi aksi ini belum terlalu memiliki langkah lanjutan serius dan cenderung fokus pada seremonial. Selanjutnya Khofifah merespons dengan menjawab telah melaksanakan signing MOU dengan 23 perusahaan produsen popok, meski enggan membuka nama-nama perusahaan terkait. Sampai mitos ini bisa dipatahkan sendiri oleh masyarakat, tampaknya kita masih akan menyaksikan pembuangan popok ke sungai atas alasan yang irasional.

Tagged:
indonesia
mitos
Pencemaran
surabaya
Lingkungan
Jawa Timur
Popok
Sungai Brantas