10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan Buat Perempuan Jawa yang Hidup Lebih dari 100 Tahun

Kosiyah asal Tulungagung melewati abad yang dinamis di Indonesia, mulai dari penjajahan hingga pascareformasi. Dia kemungkinan lahir Tahun 1918. VICE ngobrol bersamanya, mempelajari saripati kehidupan.

oleh Titah AW
02 Juli 2019, 5:28am

Nenek Kosiyah, perempuan yang diduga berusia lebih dari 100 tahun dari Tulungagung, Jawa Timur. Dia kini tinggal di rumah salah satu cucunya. Semua foto oleh penulis.

Siang itu tangan keriput Kosiyah sibuk menghitung uang pecahan Rp20 ribuan. Uang itu dia siapkan sebagai salam tempel lebaran untuk cucu dan cicitnya. Meski tangannya kadang bergetar, tapi penghilatannya masih awas dan ingatannya tajam. Dia hafal, lebaran tahun ini ada dua cucunya belum sowan ke rumahnya.

Memberi uang saku bagi Kosiyah adalah simbol pembagian berkat pada keturunan di pohon keluarganya. Sekalipun cucu atau cicitnya sudah dewasa, semua mendapat lembar hijau kaku uang Rp20 ribuan. Termasuk saya. "Ini uang saku lebarannya, disimpen buat jimat dari simbah," pesannya lalu tersenyum lebar.

Kosiyah adalah nenek buyut dari keluarga pihak ibu. Saya memanggilnya Mbokwek—Mbok tuwek alias nenek tua. Keriput di kulitnya sudah membentuk ulir-ulir likat, rambutnya nyaris putih sempurna. Badan tuanya terlihat ringkih, tapi saat bercerita ia terlihat lincah dan kuat. Hanya pendengarannya sedikit berkurang, itupun ia tutupi dengan kebiasan membaca gerak bibir lawan bicara.

Ibu dan hampir seluruh anggota keluarga besar saya yang lain sepakat Mbokwek berumur lebih dari 100 tahun.

Soal umur, ia ingat ketika kecil masih banyak tentara kulit putih berseliweran di kampungnya, Tulungagung, Jawa Timur. Berdasar perhitungan sanak saudara, diperkirakan usia Kosiyah antara 95 hingga 105 tahun. Keterangan paling kuat soal usia Kosiyah didapat dari anak bungsunya, Sulik. "Saya ingat waktu remaja pernah lihat KTP Mbokwek, lahirnya tahun 1918. Tapi kan itu dikarang sama petugas desa, biasanya dimudakan aja biar gampang. Lagian KTP-nya sekarang udah enggak tahu di mana."

Verifikasi usia centenarian di Indonesia merupakan perkara sulit. Pencatatan kependudukan oleh pemerintah Hindia Belanda dimulai sejak 1900, namun orang yang tinggal di pelosok seperti Kosiyah mengaku tak pernah mengenal akta kelahiran. Jika punya KTP-pun, biasanya tahun kelahirannya tak valid. Saat ini, rekor dunia orang paling tua dipegang oleh Jeanne Calment dari Prancis yang meninggal pada usia 122 tahun. Padahal tahun 2017 lalu, Mbah Gotho di Sragen diperkirakan meninggal di usia 147. Belum lagi beberapa laporan soal orang-orang berusia lebih dari seabad lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Kosiyah melalui salah satu abad paling dinamis di Indonesia. Masa kecilnya bersinggungan dengan kolonialisme Belanda, ketika sudah dewasa ia merasakan invasi tentara Jepang, euforia kemerdekaan Indonesia, disusul geger tragedi 1965, sampai akhirnya sekarang era pascareformasi. Listrik adalah barang baru untuknya, sementara dia sudah tak bisa mengerti keajaiban macam apa yang bisa membuatnya melihat wajah cucunya di layar telepon genggam. Ingatannya soal momen-momen pribadi di hidupnya tetap tajam, meski ia tak tahu banyak soal tahun atau peristiwa sejarah yang terjadi selama dia hidup.

"Dulu pas geger [1965] itu orang takut keluar rumah, banyak yang sembunyi manjat pohon nggak turun-turun, takut dicari tentara," ujarnya dalam bahasa Jawa kental.

1562044680785-Kosiyah-di-kamarnya-bersiap-difoto
Kosiyah di kamarnya, bersiap sebelum diwawancara.

Semasa hidup, Kosiyah menikah dua kali. Dari dua suami, ia mendapat enam anak, 19 cucu, 25 cicit, dan 1 canggah. Selama hidupnya, ia sudah menyaksikan lahirnya lima generasi lahir dan mati. Ia sering mengungkapkan keheranannya terhadap keturunannya yang justru meninggal duluan. Dia mengaku tak punya diet khusus atau suplemen medis apapun yang membuat umurnya panjang.

Dalam novel 100 Tahun Kesunyian karya sastrawan Gabriel Garcia Marquez, Ursula Buendia—salah satu karakter utama—juga sosok ibu yang mencapai usia lebih dari seabad. Sebagai ibu, semesta hidupnya sederhana. Ia tak sempat kemana-kemana karena merawat keluarga adalah pengabdian sekaligus medan pertempuran di hidupnya. Justru karena itu, ia sanggup mengamati lebih jernih kehidupan yang bergulir di depannya. Saya membayangkan Kosiyah pun begitu. Hidupnya sebagai anak petani mungkin sederhana saja, tapi 100 tahun kehidupan tentu membuatnya punya kesimpulan-kesimpulan esensial, soal ruwetnya hidup yang saat ini kerap dikeluhkan anak muda.

Dengan tujuan ingin mencontek saripati kehidupan, VICE menemui Kosiyah. Ditemani singkong rebus—makanan favoritnya—mbokwek berbagi hal-hal yang ia endapkan selama 100 tahun kehidupannya.

Wawancara ini diterjemahkan dari percakapan dalam bahasa Jawa dan disunting agar enak dibaca.

VICE: Dengan usia lebih dari 100 tahun, sehari-hari apa yang mbokwek lakukan?
Pagi menyapu halaman, kalau badan sedang sehat siang mencuci baju, atau menengok ayam peliharaan di samping rumah. Pokoknya harus tetap gerak, badan tua ini biar sehat. Tapi namanya udah tua banyak istirahat, di mana-mana bisa ketiduran [terkekeh].

Mbokwek masih ingat kehidupan semasa remaja dulu?
Namanya juga anak petani, sejak kecil sudah diajak tandur padi ke sawah, sudah harus bisa masak sendiri. Dulu keluarga saya termasuk orang kaya di desa. Beras, jagung, kedelai, gula, dan lainnya tinggal ngambil. Sempat sekolah di aduh apa itu namanya lupa—sekolah rakyat zaman Belanda atau Volkschool—sekolahnya enggak pakai sepatu, bajunya ya kain jarik dillit itu. Tapi tahun ketiga disuruh keluar sekolah sama orang tua soalnya dilamar sama orang. Zaman itu sekolah enggak penting, pokoknya bisa bikin sambel di dapur, sama disuruh cepet menikah. Jodohnya dipilihkan orang tua.

Seumur hidup jatuh cinta berapa kali?
Saya menikah dua kali. Suami pertama itu duda, tapi perhatian orangnya. Walaupun dijodohin orang tua, lama-lama saya cinta beneran. Pas dia meninggal, saya sampai ke Blitar cari suwuk untuk mengobati hati yang sedih, tapi enggak mempan. Kalau suami kedua, saya udah kenal lama dulu baru akhirnya cinta. Saya tahu dia rajin kerja, dan kalau sama dia ndemenakke ati, membuat hati senang. Bisa diajak jadi teman hidup bareng.

Ada cita-cita atau hal ingin dilakukan tapi belum tercapai sampai sekarang?
Tidak ada, sudah tercapai semua. Saya lihat cucu saya lahir, ealah kok ya mati duluan. Mau apa lagi, yang penting sehat dan hati senang. Udah tua, sekarang ya inginnya cerita-cerita ke anak-cucu.

Apa enak atau tidak enaknya zaman muda dulu?
Menurut saya zaman dulu itu enak soalnya tanah masih luas, kalau sekarang emangnya masih ada tanah yang luas? Tapi sama aja sih, orang sekarang kemana-mana enak udah ada motor-mobil. Dulu meski apa-apa tinggal ngambil, tapi zamannya susah, banyak rampok. Pernah dulu pas ada hajatan di rumah, sedang ramai tetangga dan saudara lalu ada rampok masuk. Suami saya diikat di tiang diancam-ancam, untung perhiasan sudah saya masukkan ke kotak kecil saya sembunyikan di gendongan bayi, jadi semua aman. Itu sering sekali. Pas masih zaman londo sama Jepang, kalau sedang jualan ke pasar terus ada tentara bawa bedhil, kami enggak boleh mendongak apalagi melihat matanya, bisa didor. Tetangga dulu ada yang ditembak mati di pasar. Sekarang kan rasanya sudah aman.


Tonton dokumenter VICE usai mendatangi gereja di AS yang menjanjikan jemaatnya bisa abadi lewat bantuan teknologi:


Seandainya bisa muda lagi, apa yang ingin dilakukan?
[Tertawa] Pengin berkebun lagi menanam macam-macam, terbayang dulu senang tiap waktunya menyirami tanaman. Oh, sama wira-wiri kerja jadi bisa bertemu banyak orang. Dulu itu pas jualan di pasar, saya kenal semua sama pedagang dan pembelinya. Sering juga dikasih upah sama tetangga buat jalan-jalan mengumpulkan daun pisang atau kemangi untuk jualan jajanan. Dulu hidup rasanya ramai.

Apa penyesalan terbesar mbokwek selama hidup?
Enggak ada. Tak kasih tahu, hidup itu enggak usah dipikir terlalu berat. Dibawa santai aja semuanya biar awet kayak saya. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Apapun jangan disesali.

Mbokwek, kira-kira apa rahasianya bisa panjang umur?
Embuh. Pokoknya hidup hati-hati, jadi orang jujur, jangan ngambil apa yang bukan punyamu. Suami diambil orang ya biarin, dulu itu suami saya pernah digoda sama tetangga yang sering saya ajak bikin minyak kelapa bareng. Orangnya emang cantik. Aku nesu, tapi ora nyatru [aku marah tapi enggak berantem]. Kalau berantem hidupnya enggak tenang. Sampai sekarang kalau ingat aku masih cemburu, tapi enggak marah. Akhirnya balik lagi, kalau emang jodoh pasti kembali. Pokoknya sabar, latihan sabar, biar menjalani hidup ini enak.

Di usia segini masih takut mati atau enggak?
Tidak. Pokoknya percaya sama yang ngasih hidup. Biar sehat badannya digerakin terus, harus suka makan dan jangan pilih-pilih, harus doyan jamu, kalau kesukaanku jamu kencur-apu. Saya itu enggak pernah disuntik, kalau ke dokter malah sakit.

Mbokwek punya nasehat buat anak muda dalam menjalani hidup?
Jadi orang yang sederhana aja, hidup itu kayaknya ruwet tapi sebenarnya sederhana kok. Pokoknya kerja yang bener, dan nabung yang rajin. Yang paling penting jangan marah-marah, jadi orang yang santai aja. Ojo mikir abot-abot.