Kesehatan Mental

Tak Perlu Resah, Kata Psikolog Ngomong Sama Diri Sendiri Itu Normal Kok

Cara kita berbicara dengan diri sendiri berbeda-beda, bisa jadi bersuara seperti ngobrol bersama teman atau dalam bentuk ekspresi yang lebih abstrak.
31 Januari 2020, 7:06am
Tak Perlu Resah, Kata Psikolog Kebiasaan Ngomong Sama Diri Sendiri Itu Normal Kok
Ilustrasi monolog dengan diri sendiri oleh d3sign via Getty Images 

Saat melamun, kita sering tanpa sadar ngobrol sama diri sendiri. Yang dibahas pun macam-macam. Pertanyaan aneh dan tanpa jawaban pasti, seperti “Apakah orang lain melihat warna biru langit yang sama denganku?”, terkadang bisa tumbuh liar di pikiran yang pada akhirnya membuat kita ngoceh sendirian. Yang pasti, setiap individu memiliki caranya sendiri untuk mengartikulasikan pikiran mendalam semacam itu.

Senin pekan ini, pengguna Twitter @KylePlantEmoji mengemukakan gagasan tentang biner “narasi internal.” Menurutnya, “Ada yang isi pikirannya mirip seperti kalimat yang mereka ‘dengar’, ada pula yang hanya berupa pemikiran abstrak non-verbal sehingga mereka harus mengutarakannya.”

Inner thought sebagian orang cenderung berbentuk bahasa, sedangkan lainnya lebih didominasi dengan isyarat nonverbal. Contoh mudahnya bisa dilihat di sinetron, bagaimana tokohnya seakan sedang berbicara dalam hati. Tapi, semuanya tentu kembali lagi pada cara kalian berbicara dengan sendiri.

Penjelasan di atas merupakan penyederhanaan dari penelitian tentang ini—meski pakar sepakat tidak semua orang berbicara dalam hati. Psikolog Russell T Hurlburt menulis di Psychology Today bahwa berbicara dengan diri sendiri adalah “fenomena yang tumbuh subur” walau tidak universal. “Ada yang namanya perbedaan individu, jadi mereka bisa saja sering, jarang atau tidak pernah ngomong sama diri sendiri,” katanya.

Sebagai gantinya, kebanyakan orang berada di antara pemikiran verbal dan visual. Keduanya sering berbaur dalam satu alur pemikiran, menurut Harvard Gazette. Para peneliti dari jurusan psikologi Harvard menemukan pemikiran visual cenderung mendorong pemikiran verbal, dan begitu pula sebaliknya. Mereka juga menemukan pemikiran dalam bentuk kata dan kalimat cenderung berkaitan dengan masa depan, sementara pemikiran dalam bentuk adegan visual umumnya terikat pada masa sekarang. Para peneliti mengatakan satu fungsi pikiran batiniah berfungsi sebagai simulasi perspektif luar pada tindakan dan pikiran seseorang.

Akan tetapi, manusia cenderung tidak mempertimbangkan ada cara berpikir selain yang kita miliki. Para jurnalis selama ini dianggap berpikir dalam kata-kata, tapi itu tidak terjadi di VICE.

Saat menanyakan soal ini, saya mendapat berbagai jawaban. Ada yang bilang “berpikir dengan kata-kata kayak balita 3 tahun yang ngomong seenaknya”, ada juga abstraksi yang terpisah dari monolog internal yang sedang terjadi. Seseorang bahkan mengirim DM yang mengaku, “Saya tidak berpikir dengan kata-kata cuma saat bermeditasi, karena saya bisa membuka pintu hati dan membayangkan visual… Beberapa kenangan masa kecil, lainnya simbolik.”

Para peneliti sepertinya sepakat tidak ada cara lebih superior untuk ngobrol dengan diri sendiri. Tapi, hal ini tetap saja menarik karena kita sebagai manusia dapat hidup berbeda di dalam pikiran tanpa tahu bagaimana yang lain melakukannya.

Follow Katie Way di Twitter .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.