film serial

Serial Terbaru Netflix 'Maniac' Menggambarkan Dengan Tepat Rasanya Hidup dengan Gangguan Mental

‘Maniac’ Dibintangi oleh Jonah Hill dan Emma Stone sebagai dua orang yang ikut serta dalam ujicoba metode penyembuhan segala macam gangguan mental.

oleh Kara Weisenstein
10 Oktober 2018, 12:17pm

Emma Stone dan Jonah Hill. Michele K. Short / Netflix

Peringatan: ada banyak spoiler dalam artikel ini

Bagian terbaik dari seri terbaru Netflix, Maniac, bukanlah saat Emma Stone dan Jonah Hill berpakaian bak penduduk Long Island pada tahun 1980an, atau New York yang ditampakkan sebagai kota dengan nuansa retro-futuristik. Bagian paling keren film ini bukan pula adegan yang menampilkan robot imut pembersih kotoran hewan—meski, jujur saja, saya ingin pemerintah kota New York mulai memikirkan untuk menciptakan robot pintar macam ini. Pasalnya, selain kemungkinan terjatuh ke jalur subway atau tertimpa crane, menginjak eek binatang peliharaan adalah salah satu bahaya yang dihadapi penduduk NYC.

Sejatinya, bagian terbaik dari serial pendek sepanjang 10 episode yang ditulis oleh Patrick Somerville (The Leftovers) dan disutradarai oleh Cary Joji Fukunaga (True Detective) ini terjadi di tengah season. Tepatnya, tatkala Annie (diperankan oleh Stone), dan Owen (diperankan oleh Hill) serta sejumlah sukarelawan yang ambil bagian dalam sebuah percobaan farmasi menceritakan halusinasi yang mereka alami di bawah pengaruh obat dengan Dr. James K. Mantleray (Justin Theroux), ilmuwan pemrakarsa percobaan obat tersebut.

Justin Theroux dan Emma Stone. Michele K. Short / Netflix

Satu persatu, subyek penelitian duduk di kursi. Di depan mereka, terdapat sebuah meja beserta sejumlah sekumpulan kamera yang langsung menyorot muka setiap sukarelawan. Monitor di belakang mereka menayangkan ekspresi dan gerakan mata mereka—dalam ukuran yang sudah diperbesar—selagi Dr. Mantleray mengajukan sejumlah pertanyaan pada pasiennya tentang trip—alias fase teler dengan bantuan obat-obatan—mereka.

Dr. Mantleray menggelar sesi tanya jawab dengan masing-masing subyek penelitiannya untuk memverifikasi data yang dikumpulkan oleh sebuah komputer super canggih bernama GRTA (atau biasanya dipanggil “Gertie” dalam serial ini). Namun pertanyaan-pertanyaan Mantleray dengan cepat berubah menjadi pertanyaan halus khas psikolog dalam sebuah terapi. Di sinilah, para peserta percobaan farmasi ini mulai sadar akan masalah psikologis yang mereka miliki. Di sini pula, plot Maniac biasanya mengalami perubahan. (dan, adegan-adegan ngobrol dengan Mantleray juga menunjukkan kemampuan akting luar biasa dari Stone tatkala Annie—tokoh yang diperankan Stone—berusaha memahami trauma-trauma yang dia miliki. Penonton bisa melihat otak Annie bekerja dengan keras. “Oh sekarang saya sedang diterapi ya?,” tanyanya sinis. “Saya pikir bakal lebih menyenangkan dari ini.”)

Jonah Hill dan Emma Stone serta sukarelawan . Michele K. Short / Netflix

Trial obat dalam Maniac sepintas tak jauh berbeda dari eksperimen ayahuasca yang dioplos dengan steroid dan LSD. Trial ini didesain untuk menunjukkan seekstrem apa tindakan yang bisa diambil seseorang untuk mengenyahkan permasalahan psikologis mereka, entah itu dengan memuntahkan isi otakmu di kawasan hutan hujan Brasil atau terperangkap selama tiga hari di sebuah lab yang mirip setting film Stanley Kubrick.

Perawatan yang diikuti oleh Owen dan Annie menjanjikan akan membereskan otak subyeknya dengan tiga pil—pil A, B dan C—yang diberikan berturut-turut dalam tiga hari. Pil pertama akan memaksa peserta uji coba untuk melewati kembali trauma mereka; pil kedua menunjukkan titik buta (blindspot) tiap orang dan pil ketiga memicu munculnya konfrontasi secara paksa. Tiap trip yang dialami subyek setelah mengonsumsi satu pil tersebut dianalisa dan dimanipulasi oleh GRTA, yang berfungsi sebagai AI pemandu spiritual.

Tentu saja, Maniac tak jadi serial TV kalau ceritanya lurus-lurus saja. Sejumlah eksperimen dalam film ini mengizinkan Fukunaga dan sejumlah penulis naskah lainnya bermain-main dengan genre dan setting waktu dengan cara yang menyenangkan untuk ditonton.

Jonah Hill dan Emma Stone. Michele K. Short / Netflix

Selain jadi pasangan suami istri berambut keriting dan mullet ala tahun 80-an, Stone dan Hill juga berperan sebagai dua pencuri yang saling bermusuhan pada tahun 40-an, peri gunung pemabuk dalam skenario yang mirip Lord of the Rings, KW2 anak mafioso New Jersey yang bertato dan suka menguncir rambutnya, Mata-mata CIA dari Texas hingga seorang diplomat Islandia. Pokoknya, setiap pecinta serial yang penuh imajinasi atau penyuka cara bercerita yang melewati batas-batas genre akan kegirangan melihat cast-cast dalam Maniac berganti-ganti peran.

Pun, serial ini tak luput dari kelemahan. Misalnya, saat serial ini berusaha memberikan komentar terhadap isu-isu terkini—seperti tentang kesadaran, teknologi, kapitalisme, raksasa farmasi, kesehatan mental, adiksi, korupsi dan penyelewengan kekuasaan, plotnya menjadi sangat tipis dan bolong di sana-sini. Ada sejumlah alur cerita yang tak tuntas. Misalnya, Apa sih yang dilakukan Dr. Mantleray dalam sebuah gala? Apakah ibunya, terapis terkenal Dr. Greta Mantleray—yang diperankan dengan prima oleh Sally Field—mengidap kanker? Kenapa Jemima Kirke bertunangan dengan Billy Magnussen? Dan kenapa Dr. Azumi Fujita, diperankan oleh Sonoya Mizuno, tak mau keluar rumah?)

Julia Garner dan Emma Stone. Michele K. Short / Netflix

Saya merasa Maniac menarik karena saya memang menggemari sci-fi yang dibangun dengan telaten seperti film Her karya Spike Jonze atau cerita-cerita pendek bikinan George Saunders. Seperti dua orang itu, Somerville dan Fukunaga menciptakan dunia fiktif yang tak jauh-jauh amat dari realita yang kita jalani saat ini. Kota New York City dalam cerita Maniac memiliki Patung Extra Liberty dan bagaimana iklan bersliweran di kota itu makin instrusif (misalnya, kalau kita bokek, kamu tetap bisa jadi sasaran iklan karena “AdBuddy” yang akan membacakan iklan demi bisa bisa membayar kopi dan mengisi MetroCard). Tapi, tak ada satupun orang yang menenteng Iphone dan semua teknologi yang ditampilkan seperti diambil dari dekade 80-an.

Shot-shot Maniac sudah barang tentu memanjakan mata penontonnya. Kita akan dipuaskan oleh desain produksi yang menggabungkan visual IBM dan film-film Kubrick dan score yang indah lagi bikin merinding. Akting, penulisan naskah dan penyutradaraan serial ini juga mumpuni. Namun, yang membuat saya jatuh hati dengan Maniac—yang membuat saya menghabiskan 10 episodenya dalam beberapa hari saja hingga berakhir menangis di sofa di sebelah kucing teman sekamar saya—adalah bagaimana serial ini menggambarkan gangguan mental.

Kita sudah sering menjumpai cerita tentang pengalaman hidup dengan gangguan mental dan perjuangan pengidap gangguan mental menyembuhkan diri. Dan keinginan sepenuh hati untuk jadi normal (sebelum kembali digagalkan oleh pikiranmu sendiri) sangat umum dijumpai dalam masyarakat kita, bahkan meski kita belum becus membahasnya.


Emma Stone dan Jonah Hill. Michele K. Short / Netflix

Hari-hari ini, masalah psikologis kita hadapi punya beragam nama: existensial dread, midlife atau quarter life crisis, depresi atau kegelisahan. Satu atau dua generasi lalu, keengganan mengikuti norma-norma kultur keseharian yang mainstream sudah bisa bikin seseorang diinapkan di rumah sakit jiwa. Jangan salah sangka dulu. Saya tentu tak berusaha menganggap enteng masalah psikologis masa kini—Owen, karakter yang diperankan Hill menderita Skizofrenia dan sudah berhenti menggunakan obat yang diresepkan kepadanya. Annie, karakter Stone, berusaha mengatasi gangguan mentalnya sendirian dengan menyalahkan gunakan Pil A. Masalah kesehatan mental keduanya jelas kentara dan tak bisa dianggap enteng.

Yang ingin saya katakan adalah tak ada cukup narasi yang mampu merangkum segala macam pengidap gangguan mental—mulai dari orang yang mati-matian menghadapi traumanya atau mereka yang entah alasan apa punya kondisi mental yang tak sehat. Masih banyak stigma tentang perawatan gangguan mental, terapi dan obat-obatan yang dikonsumsi untuk meringankan gangguan mental. Padahal, sampai saat ini ketiganya adalah hanya sebagian dari sejumlah cara yang bisa digunakan pengidap gangguan mental agar bisa hidup dengan lebih bahagia, sehat dan produktif. Musnahnya akses pada tiga hal di atas—atau perasaan tak cukup punya kuat untuk menggunakannya—adalah salah satu alasan sejumlah penderita berusaha mengobati kondisinya secara mandiri dengan alkohol, obat-obatan dan beragam cara yang merusak lainnya.

Sonoya Mizuno. Michele K. Short / Netflix

Maniac kerap disandingkan dengan film-film seperti Melancholia dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind. bagi saya sendiri, serial ini mengingatkan saya pada Girl, Interrupted terutama pada salah satu adegan akhirnya ketika Annie membebaskan Owen dari bangsal psikiatri tempatnya dirawat. Adegan ini sepintas mirip dengan adegan ketika Lisa, Susanna dan beberapa perempuan lainnya kabur dari kamar rumah sakit mereka di malam hari. Tentu saja, analogi saya ini agak sedikit maksa.

Melancholia membingkai depresi sebagai sikap antipati tanpa tujuan di hadapan kiamat yang segera datang. Eternal Sunshine of the Spotless Mind lebih tentang usaha melobotomi memori yang menyakitkan sebelum akhirnya tokoh-tokohnya sadar hidup punya spektrum emosi yang luas. Sedangkan Girl, Interrupted, adalah memoir tentang perawatan gangguan jiwa dari era yang berbeda, ketika perempuan yang tampil beda dianggap :bermasalah” dan mesti dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

Justin Theroux. Michele K. Short / Netflix

Sejauh ini, saya tak yakin bahwa Maniac adalah sebuah serial yang sepenuhnya berhasil. Endingnya sangat menggantung kalau tak bisa dibilang sumir. Selagi para pasiennya meninggalkan tempat pelaksanaan uji coba farmasi, Dr. Mantleray menyelamati mereka. “Tesnya sukses. Selamat kalian semua sudah sembuh,”ucapnya.

Perkaranya, kalaupun Annie, Owen dan subyek penelitian lainnya sembuh,maka kesembuhan itu bukan karena obat-obatan yang sedang diuji oleh Mantleray. Seperti yang dikemukakan Dr. Fujita, GTRA dirancang berdasarkan terapi psikologis yang dipelopori oleh ibu Mantleray, Greta, saat sedang mengejar gelar doktor. Bisa jadi, efek terapinya makin terasa karena bantuan obat-obatan yang diberikan. Dalam kasus Annie dan Owen sendiri, kesembuhan mereka terbantu karena kedekatan mereka, terlepas itu sudah jadi bagian takdir atau tidak. Semua teka-teki ini masih dibiarkan mengambang di akhir episode 10.

Yang pasti, Maniac berhasil jadi serial layak tonton lantaran di dalamnya kita menyaksikan tokoh protagonisnya berperang melawan sesuatu yang benar-benar menyeramkan dan kembali sebagai seseorang yang lebih baik. Mereka mungkin tak jadi jagoan yang menyelamatkan nyawa seseorang yang hampir mati. Namun, mereka tahu caranya bertahan. Plus, dalam kasus Owen dan Annie, keduanya menemukan satu sama lain.