Agama Lokal

Ayahku Seorang Penghayat, Tapi Dia Tak Bisa Dimakamkan Sesuai Kepercayaannya

Catatan kontributor VICE asal Tulungagung ini menggambarkan realitas di Indonesia terkait peran agama dalam prosesi pemakaman dan bagaimana mendiang sang ayah menuntunnya pada pencarian iman.

oleh Titah AW
26 Desember 2018, 7:43am

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman.

Setahun terakhir, saya baru tahu kalau Bapak adalah penganut aliran kepercayaan. Nama agamanya Kapribaden. Seharusnya saya tidak perlu terkejut. Ingatan segera menarik peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sebetulnya memberi petunjuk betapa ia memiliki iman yang tidak sama seperti kebanyakan orang di Indonesia.

"Nduk, kamu enggak usah pakai jilbab ya, nanti sama kayak yang lain," ujar Bapak suatu kali.

Saya mengangguk sambil lalu, dalam hati saya tergelak. Meski terdengar berlawanan dengan kampanye konservatisme yang jamak di antara anggota keluarga via grup WhatsApp masa kini, saya tak kaget mendengar nasehat Bapak. Benar, seharusnya saya segera sadar dia adalah penghayat, mengingat semua petunjuk yang terhampar selama mengenalnya.

Bapak tak pernah mendidik saya laiknya keluarga lain di kampung. Ia tak pernah menyuruh saya belajar atau mengerjakan PR, ia hanya memberlakukan aturan dilarang menyalakan TV dari jam 6-8 malam, sehingga saya dan Kakak tak punya kegiatan lain selain membaca buku. Saya bahkan boleh membolos sekolah jika sedang tidak mood, dengan syarat tidak boleh menonton TV. Sebagai aparatur sipil negara, saya kerap memergokinya datang tak tepat waktu ke kantor atau membawa pekerjaan pulang. "Datang pagi juga kadang enggak berguna," begitu alasannya. Bapak selalu punya cara berpikir sendiri yang membuatnya masa bodoh pada sistem atau aturan.

Pendidikan di luar kelaziman ini juga menyangkut urusan agama, yang di keluarga lain mungkin jadi isu penting. Ia tak pernah mewajibkan saya dan Kakak mengaji atau salat. Semasa SD, saya sempat malu karena jadi satu-satunya anak di kelas yang tidak fasih membaca Al Quran. Meski di kolom KTP tertera agamanya Islam, Bapak tak pernah sembahyang atau puasa. Dulu saya menduga Bapak pemalas, atau malah kafir. Ternyata Bapak memang lain. Untuk perkara keyakinan, ia seorang pencari yang tak puas melafalkan ayat tanpa tahu makna dan konteksnya, yang tak lega setelah melangsungkan ritual tanpa benar-benar menghayatinya. Fakta yang baru saya tahu belum lama ini.

Saya tak bisa bilang punya hubungan baik dengan bapak. Dulu, semasa saya kecil, Bapak kerap membuat Ibuk menangis. Maka sejak itu, saya jauh dari Bapak. Bahkan saya terang-terangan menghindari ngobrol dengannya. Bertahun-tahun tinggal di rumah yang dingin, lulus SMA saya mantap pindah ke Yogyakarta.

Intensitas komunikasi dengan Bapak makin jarang. Sampai kemudian 1 Desember lalu, Ibuk mengirim pesan lewat WhatsApp meminta saya segera pulang. Hal yang jarang sekali dilakukan olehnya. "Bapak sakit, nek kamu selo mbok pulango [kalau kamu senggang, upayakan pulang]," tulis beliau

Luka di kaki bapak tak kunjung kering karena diabetes yang menyerang beberapa bulan terakhir. Obat-obat yang ia konsumsi kemudian menyerang lambung dan organ lain tubuhnya.

Sehari setelah saya sampai rumah, semua terjadi begitu cepat. Saat itu pukul 11 siang, napas terakhir bapak tenang. Saya di ruang sebelah sedang momong keponakan. Ibuk terlihat bingung namun menguasai keadaan, ia mendekatkan kepala ke dada Bapak. "Aku dengar detak jantung, tapi enggak tahu itu jantungku apa jantung Bapakmu," katanya. Kami sama-sama mahfum, Bapak telah mangkat.

Tetangga berdatangan, beberapa orang bergegas memindahkan jenazah Bapak ke ruang depan, satu orang memastikan identitas bapak untuk nisan, satu orang segera beli kain kafan dan perlengkapan pemakaman, lebih banyak lagi orang datang mengucapkan belasungkawa, memasak untuk tahlilan malamnya, menyiapkan pemandian jenazah, mengatur meja kursi karpet rokok dan gelas-gelas Aqua untuk tamu, salat jenazah, hingga berangkat ke kuburan dan menidurkan Bapak di tempat peristirahatan terakhir.

Ganjil sekali mendengar nama Bapak diucapkan lewat pengeras suara di masjid dengan pembuka "Inalillahi."

Bapak disalatkan dan dimakamkan lewat tata cara Islam. Tapi semua tak berakhir begitu saja.


Tonton dokumenter VICE mengenai komunitas di Yunani modern yang menyembah Zeus dan dewa-dewi lain dari Mitologi Kuno:


Malamnya, sesudah tahlilan, ganti datang puluhan orang berpakaian batik atau surjan lurik. Beberapa mengenakan peci, lainnya blankon Jawa. Beberapa perempuan memakai pakaian kasual. Tak ada perbedaan yang terlalu mencolok secara fisik, tetapi mereka ini adalah penghayat Kapribaden yang ingin menggelar doa untuk Bapak.

Acara dipimpin satu pinisepuh. Ia mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa. Agenda puncaknya adalah ritual Mijil dan Kunci. Dalam posisi bersila, mereka menangkupkan kedua tangan di depan muka. Empat jari menghadap ke atas sementara ibu jari menempel di ujung hidung. Setelah pinisepuh mengucapkan kalimat Kunci, suasana hening beberapa menit.

Keheningan dalam posisi diam ini menurut mereka memudahkan konsentrasi agar terhubung pada Yang Maha Suci. Telapak tangan kanan mereka kemudian dipindah ke ulu hati sebelah kiri, sementara tangan kiri seperti berkacak pinggang selama beberapa menit. Gerakan tangan selanjutnya bebas, beberapa meliuk berirama sebelum kemudian membentuk menangkupkan tangan di dada lalu mengucapkan "Rahayu!"

1545810166628-ritual-mijil-kapribaden-2
Ritual mijil kapbribaden. Foto oleh penulis

Begitulah, selama tujuh hari tahlilan di rumah dilaksanakan dua gelombang. Pertama untuk tetangga secara islam, gelombang kedua buat rekan-rekan penghayat.

Beberapa tetangga menanyakan ketidaklaziman ini pada Ibuk. Rekan Kapribaden mendiang Bapak banyak yang bukan warga sekitar. Apalagi di rumah, Bapak punya beberapa artefak Kapribaden seperti plakat Paguyuban dan foto seorang tokoh—belakangan baru saya tahu itu wajah pemimpin spiritual Kapribaden—tertempel di dinding.

Di hari pemakamannya, saya sadar Bapak sebagai penghayat seharusnya punya tata cara sendiri seputar lahir dan mati. Namun saya tak punya kuasa. Lingkungan kampung mayoritas beragama islam. Para tetangga pun tangkas mengurusi segala sesuatu, tak memberi saya jeda bernegosiasi soal kepercayaan yang ia anut.

Ibuk meminta saya tak risau. "Ya memang Bapak penginnya begitu. Wis to enggak apa-apa, yang penting tidak saling menggangu. Supaya karep (keinginan) dua-duanya bisa dipenuhi," jawab Ibuk tiap kali ada yang bertanya soal prosesi sesudah pemakaman yang berjalan dua versi. Ibuk memilih berkompromi. Kultur lingkungan sekitar yang berbasis Islam ia terima, ritual penghayat Kapribaden juga ia terima.

"Yang penting rukun sajalah."

Dari Ibuk saya pertama kali tahu bahwa Bapak sudah menjabat posisi penting dalam organisasi Kapribaden sejak 2014. Kelompoknya secara reguler mengadakan pertemuan penghayat di rumah.

Pada saya, Bapak pernah bercerita ingin segera mengganti isi kolom agama di KTP sesudah mendengar putusan Mahkamah Konstitusi nomor 97/PUU-XIV/2016. Beleid itu akhirnya mengakui agama para penghayat secara administratif. Namun karena sakit dan lain hal, niat Bapak mengubah KTP belum diwujudkan.

Kapribaden tak punya kitab suci, mereka hanya punya satu kitab tuntunan mencapai kesempurnaan sejati, ditulis pinisepuh Wahyono Raharjo. Ajarannya berpusat pada upaya memurnikan laku sehari-hari jadi jalan untuk mengenal Sang Maha Suci, zat yang mereka percaya memiliki hidup. Seperti halnya agama-agama lain, Kabpribaden meminta penganutnya menjaga laku baik, dilarang mengganggu kepercayaan orang lain, juga termasuk nguri-nguri rasa sebagai inti hidup. Penghayat Kapribaden tak melakukan ritual dengan atribut material mistik atau aturan-aturan baku. Mereka menjalankan Kunci dan Mijil, yaitu hening selama beberapa menit sambil mengucapkan sebuah kidung dalam bahasa Jawa.

Gusti ingkang Moho Suci, Kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti ingkang Moho Suci; Sirolah, Dhatolah, Sipatolah; Kulo sejatine satriyo (untuk pria)/wanito (untuk wanita), nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso, kangge tumindhake satriyo/wanito sejati; Kulo nyuwun, kangge anyirnakake tumindhak ingkang luput."

Begitu bunyinya, dan harus diucapkan seperti itu. Di luar itu, Kapribaden adalah ajaran yang fleksibel. Karena berfokus pada kemurnian rasa, alias kalbu, mereka tak terlalu ambil pusing terhadap aspek wadag dalam ritualnya.

Pembawa wahyu ajaran Kapribaden adalah Romo Herucokro Semono, anak ‘priyagung’ tanah Jawa yang tak diakui dan akhirnya dibesarkan oleh seorang guru spiritual bernama Ki Kasan Kesambi di Gunung Damar, Kabupaten Purworejo. Penganut Kapribaden mewarisi ajaran Panca Gaib yang turun sebagai wahyu untuk Romo Semono pada Senin Pahing, 13 November 1955.

Kapribaden hanya satu dari 187 aliran kepercayaan yang terdaftar di Indonesia. Selain enam agama yang diakui Indonesia sejak Orde Baru, ada puluhan aliran kepercayaan warisan leluhur masih dijalankan orang-orang di berbagai daerah. Penganut Kapribaden sendiri mayoritas berada di pulau Jawa meskipun tak ada data pasti soal jumlah dan pesebarannya. Secara administratif, mereka bergabung dalam paguyuban yang ada di tiap daerah. Bapak adalah ketua Paguyuban Penghayat Kapribaden Kabupaten Tulungagung, kota kelahiran saya.

Kelak setelah bertanya pada pinisepuh Kapribaden Tulungagung, Kateno, saya mendapat penjelasan lebih lengkap. Pemakaman ala Kapribaden tidak jauh berbeda dengan tata cara Islam. Jenazah tetap dikafani, lalu dibujurkan arah utara-selatan. Bedanya buat penganut Kapribaden, posisi jenazah lebih tengkurap dibanding cara Islam. "Karena pemakaman itu kan seperti sowan dateng kanjeng ibu (kembali pada ibu), ibu zaman lahir, dan ibu sejati, ibu bumi. Jadi posisinya lebih banyak tengkurapnya."

Kateno mengaku tak keberatan jika salah satu anggotanya dimakamkan dengan cara islam. "Kami dan yang (Islam) memohonnya kan intinya sama. Itu yang penting. Lagipula, dunia hidup dan mati itu sudah beda. Manusia itu kalau sudah mati, jasadnya menyatu kembali sama tanah. Tinggal rohnya yang paling murni, itu yang nanti balik ke alam kelanggengan utowo mantuk ing kasuwargan jati, kalau di Islam ya surga," urai Kateno.

Meski telah diakui oleh negara, aliran kepercayaan kadang belum diterima masyarakat. Banyak dari aliran kepercayaan seperti Kapribaden, Kejawen, Sunda Wiwitan, Parmalim, Sapta Darma, dan lainnya dianggap ajaran sesat. Posisi komunitas mereka di masyarakat semakin rawan karena kelompok radikal akhir-akhir ini sering bertindak berlebihan. Oktober 2017 lalu, jenazah seorang penghayat Sapta Darma di Brebes ditolak warga untuk dimakamkan di TPU sampai memicu konflik. Jadi meski undang-undangnya sudah dikeluarkan, pemerintah belum melengkapi infrastruktur untuk penghayat di kehidupan sehari-hari. Apalagi di lingkungan kampung saya, Bapak satu-satunya penghayat yang tinggal di sana.

Karena itulah, saya paham mengapa Ibuk terbuka terhadap pilihan kepercayaan Bapak sekaligus berkompromi dengan lingkungan sekitar di hari pemakaman suaminya.

Di Indonesia, lahir, mati, menikah, dan acara-acara penting dalam hidup adalah acara komunal. Ruang privat di masyarakat ini selalu bersinggungan dengan kepentingan kelompok. Sifat komunal itu mau tak mau mengendap, tak peduli apapun ideologi, prinsip, kepercayaan, atau kepentingan pribadi apapun. Sikap kompromi Ibuk, bagi saya, adalah keputusan praktikal yang membuat semua pihak mearasa menang dan terakomodasi kepentingannya. Kami sekeluarga merasa terbantu di prosesi pemakaman, tetangga merasa telah memenuhi kewajibannya, dan penghayat bisa menjalankan keyakinannya dengan aman.

Awal 2018 lalu, setelah ziarah ke makam sesepuh Kapribaden yaitu Romo Semono di Purworejo, Bapak mampir ke Yogyakarta. Kami bertemu di pelataran Keraton Pakualaman sambil makan rujak buah. Saya mengaku padanya baru sedang dalam upaya pencarian iman. Saat itu saya menjajal meditasi Vipassana yang didasari agama Buddha. Bapak sumringah. "Lha itu kan intinya hampir sama kayak Kapribaden, apik kui latihan konsentrasi. Manusia itu semua sama intinya, api tanah, air, udara, udah. Yang penting murni hatinya ke yang punya hidup, terusno."

Saya mengangguk. "Dari dulu Bapak mencari, baru di Kapribaden ini Bapak merasa pas, damai." tutupnya sambil menyeruput kopi hitam, lalu mengeluhkan kopinya yang terlalu manis. Hanya kopi bikinan Ibuk yang membuat Bapak tidak pernah protes.

Di saat itu saya sadar. Sekalipun saya membangun jarak teramat jauh dari Bapak, kami tetap terhubung. Tidak hanya garis pipi kami yang kata orang begitu mirip ketika tertawa, sekaligus juga perkara iman. Sebanyak apapun rasa benci saya terhadapnya sebagai laki-laki, ia adalah Bapak yang pantas saya hormati. Darinya saya mendapat pelajaran soal kebebasan mencari, resiko mengambil pilihan berbeda, dan mempertanyakan segala sesuatu.

Terima kasih Bapak, saya minta maaf belum punya kuasa untuk bernegosiasi dengan tetangga-tetangga dan memakamkan Bapak sesuai tata cara Kapribaden, tapi saya yakin Bapak tak keberatan. Dalam jalan masing-masing, kita semua satu.

Rahayu!