Iklan
kecemasan berlebih

Penyebab Matematika Begitu Menakutkan Sampai Bisa Bikin Orang Trauma

“Trauma matematika” itu nyata dan banyak orang perlu cara mengatasinya.

oleh Jennifer Ruef
13 November 2018, 9:00am

Westend61/Getty Images

Saya mengajar orang-orang yang ingin menjadi guru matematika. Sudah 30 tahun saya menjalani profesi ini. Saya banyak bertemu orang yang mengalami math trauma. Tingkatannya pun berbeda-beda. “Trauma matematika” itu apa, sih? Apakah gangguan tersebut benar ada? Jawabannya, ya. “Traima matematika” atau ketakutan terhadap matematika merupakan bentuk gangguan mental yang melemahkan ketika harus mengerjakan soal matematika.

Saya melihat tema umum yang muncul ketika para penderita menceritakan pengalamannya kepadaku. Mereka bisa trauma karena ada orang yang mengatakan mereka “tidak bisa matematika,” panik saat sedang ulangan matematika, atau terjebak dalam topik matematika dan sulit menghindarinya. Topiknya sendiri beragam, mulai dari pecahan sampai aljabar atau geometri. Hal ini sangat menarik, sehingga saya dan rekan memutuskan untuk melakukan penelitian yang melihat siapa saja yang pintar dan tidak pintar matematika.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para pendidik matematika di AS yaitu membantu berbagai guru SD yang memiliki trauma matematika. Bayangkan bagaimana rasanya ditugaskan mengajar matematika ke anak-anak padahal kamu sangat takut dengan mata pelajaran tersebut. Orang yang trauma matematika akan merasa cemas atau takut salah secara berlebihan. Ketakutan ini membatasi akses ke banyak pilihan hidup bagi orang lain, termasuk pilihan melanjutkan sekolah dan karier.

Sumbernya beragam, tetapi untuk beberapa kasus, ketakutan ini disebabkan langsung oleh orang tua dan guru. Kesalahpahaman soal pintar atau tidaknya seseorang cukup memengaruhi ketakutannya. Ini mencakup kecepatan dan akurasi, yang merupakan unsur penting di masa lalu ketika kemampuan manusia masih diandalkan sebelum era komputer dimulai.

Akan tetapi, penelitian telah membenarkan apa yang diceritakan oleh orang-orang kepadaku: Mengaitkan kecepatan dengan kemampuan hitung-hitungan mampu melemahkan mental para pelajar. Orang yang kesulitan menyelesaikan tes matematika dibatasi waktu sering mengalami ketakutan, yang nantinya akan menghambat memori kerjanya. Mereka jadi kesulitan berpikir. Hal ini memperkuat anggapan bahwa orang yang tidak bisa mengerjakan matematika adalah mereka yang tidak suka atau tidak pintar matematika.

Selain itu, orang yang pintar matematika diyakini bisa menghitung dengan cepat dan akurat karena mereka lancar mengerjakan ujian yang dibatasi waktu. Kepercayaan ini bisa menyebabkan kepercayaan diri terkait matematika yang rapuh. Siswa takut mengungkapkan kalau mereka tidak tahu sesuatu atau kurang cepat. Akibatnya, mereka tidak mau melakukan atau mengambil pekerjaan yang lebih menantang. Ini buruk bagi semua pihak.

file-20181025-71011-1cdj4ce

Jennifer Ruef, CC BY

Mitos yang menyebutkan bahwa cepat mengingat rumus matematika dasar bagus untuk belajar sesungguhnya berdampak negatif dan sayangnya sudah mengakar. Niatannya sih baik. Kita semua pasti mau anak-anak mahir menghitung, kan? Akan tetapi, penelitian menunjukkan kemampuan mengingat rumus matematika dasar (seperti 3 x 5 = 15) paling bagus dikembangkan saat pertama kali memahami operasi aritmetika. Itu artinya, kita perlu terlebih dulu memahami cara kerjanya untuk membangun memori matematika.

Apabila tidak melakukan ini, maka pemahaman dan penghafalan kognitif kita akan lemah. Orang akan cepat melupakan fakta-fakta matematika baru ketika mereka hanya menghafal saja. Sebaliknya, pola pemahaman dapat menekan beban kognitif yang diperlukan ketika mengingat fakta terkait. Mengerti logika di balik formula bisa menciptakan pemahaman yang mendalam, kuat dan fleksibel. Hal ini bisa membantu orang menerapkan pehamahan terhadap masalah baru. Jadi, apa yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk mendukung kefasihan fakta?

Pertama, mereka bisa mengajak anak bermain games dan puzzle menyenangkan yang ada hubungannya dengan angka-angka, seperti Sudoku, KenKen, atau permainan kartu tertentu. Permainan seperti ini menciptakan kebutuhan intelektual untuk menggunakan fakta matematika yang membantu anak mengembangkan kefasihan fakta. Anak-anak akan merasa idenya dihargai apabila orang tua dan guru memintanya menjelaskan pemikiran mereka, baik itu menggunakan kata-kata, gambar atau benda.

Setiap kesalahan sebaiknya dianggap sebagai eksplorasi. Tidak menjawab benar bukan berarti cara berpikirnya salah. Anak akan memahami apa yang mereka ketahui sekarang dan apa yang akan dipelajari selanjutnya apabila mereka diminta untuk menjabarkan cara menjawabnya. Dengan begini, mereka akan memikirkan apa yang salah dan mesti diperbaiki. Jaga ekspresimu saat menanyakan ini. Kalau kamu menunjukkan jawaban mana yang benar dan salah, hal ini hanya akan memperkuat keyakinan hanya jawaban benar yang penting.

Setelah itu, jangan menilai mereka yang tidak-tidak. Orang tua perlu menghindari penilaian bahwa anak mereka tidak pintar matematika. Sikap ini bisa berdampak buruk pada keyakinan anak soal kemampuan belajarnya. Mereka juga harus berwaspada untuk tidak membuat anak belajar matematika secara mati-matian.

Bagi banyak orang dewasa, pelajaran matematika di zaman sekarang sangat berbeda dengan dulu. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat sekarang tidak lagi mementingkan kecepatan dan ketepatan—kadang diumpamakan sebagai “drill and kill”. Para guru lebih memprioritaskan diskusi dan pemahaman matematika. Pengajar guru matematika sepakat ini adalah perubahan bagus. Pahamilah lebih dalam apa yang anak pelajari. Perlu diingat bahwa pemahaman mendalam bisa terjadi karena menghubungkan berbagai cara untuk menyelesaikan masalah.

Jadi, kamu tidak perlu khawatir kalau mengalami math trauma. Kamu tidak sendirian, dan ada banyak cara untuk mengatasinya. Kamu bisa memulainya dengan memahami bahwa matematika sangat luas dan menarik. Sebagian besar dari kita jauh lebih matematis daripada yang kita kira.


Jennifer Ruef adalah assistant professor jurusan pendidikan di University of Oregon. Artikel ini sudah disunting dan pertama kali tayang di The Conversation. Sila baca artikel aslinya di sini.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic