Iklan
Menghapus Kenangan

Berkat Film 'Eternal Sunshine', Manusia Berhasrat Temukan Teknologi Menghapus Kenangan Mantan

Mulai dari blokir, unfollow, sampai hipnosis adalah sebagian cara kita di zaman sekarang untuk melupakan mantan. Semua dipicu film indie yang tayang 15 tahun lalu itu.

oleh Sara Radin
23 Maret 2019, 8:30am

Cuplikan adegan film 'Eternal Sunshine of the Spotless Mind.' Sumber: arsip Focus Features 

Usiaku masih lima belas ketika Eternal Sunshine of the Spotless Mind pertama kali tayang pada 19 Maret 2004. Momen itu terjadi 15 tahun lalu. Film arahan sutradara Michel Gondry ini meraih Oscar untuk skenario terbaik, berkat naskah yang ditulis Gondry bersama Charlie Kauffman dan Pierre Bismuth.

Film ini dipuji sebagai sinema indie yang mengharukan, dan kini meraih status sebagai cult. Plotnya menyoroti hubungan antara Clementine (Kate Winslet) gadis menawan berambut biru, dengan Joel (Jim Carrey), laki-laki kesepian yang sedang mencari makna hidup.

Film fiksi ilmiah romantis ini menangkap momen-momen kritis hubungan mereka. Joel digambarkan sedang menjalankan perawatan khusus untuk menghapus Clementine dari ingatannya. Joel melakukannya, setelah tahu Clementine menjalankan proses serupa. Lacuna, Inc. perusahaan fiktif dalam film itu, diceritakan mampu memberi layanan memusnahkan ingatan-ingatan manusia.

Saat film ini rilis, aku tengah menjalani hubungan romantis untuk pertama kalinya. Kami putus nyambung melulu. Pengalaman pacaran itu sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupku. Kenangan soal pacar pertama itu terus berdampak pada pengalaman-pengalaman romantisku sampai sekarang. Hal itu kadang bikin aku merasa malu setiap kali calon pacar menanyakan “CV”-ku dalam dunia percintaan.

Sekarang aku sudah 31 tahun. Konsep pacaran di masa sekarang tentu beda banget dibanding masa remajaku dulu. Sekarang fenomena ghosting , orbiting, atau breadcrumbing dianggap lazim. Seharusnya kita tak perlu terikat, apalagi takut, sama kenangan soal mantan.

Tetapi masih ada tawaran konsep yang sangat menarik dari skenario film ini. Eternal Sunshine berkesan buat banyak orang, karena ceritanya menyentuh titik peka manusia yang jarang dibahas dalam budaya pop: bayangkan kamu bisa menghapus ingatan-ingatan pahit dari benak. Semua penonton barangkali pulang dari bioskop dengan pikiran ini: Mungkinkah aku sanggup menghapus ingatan soal mantan-mantanku? Kalau memang bisa, apakah aku berniat melakukannya? Gagasan menghapus kenangan jadi ramai dibahas di Internet sejak film itu tayang.

Kita wajib ingat, kenapa konsep menghapus ingatan jadi populer berkat film ini. Sadarilah, putus cinta itu menyakitkan banget. Tak heran jika banyak manusia ingin memusnahkan semua hal seputar mantan dari otak. Menurut psikolog Dr. Juli Fraga, "Keinginan menghapus ingatan soal mantan adalah pertanda kita tidak ingin menghadapi rasa sakit dan kehilangan yang ditimbulkannya."

Fraga menyatakan di zaman sekarang keinginan macam itu lebih mudah dipenuhi. Sebab kehidupan sekarang penuh distraksi. Ada banyak cara “membius” diri kita (bagi sebagian orang, caranya adalah minum alkohol sampai mabuk, tapi buat aku, caranya adalah memesan pizza senilai Rp 500 ribu dan memakannya sendirian). Kita punya banyak pilihan untuk berpaling dari siksa hubungan yang kandas. Putus cinta, dari kacamata psikologi, terbukti menimbulkan rasa tidak diinginkan, depresi, kecemasan, dan kesedihan. Sayangnya, di saat bersamaan, semakin susah pula melupakan seseorang. Sebab setiap hubungan mempunyai jejak digital yang permanen.

Untuk menangani putus cinta di masa modern, psikoterapis Jennifer Musselman, menyarankan agar kita mengendalikan konsumsi media sosial. Sebab, medsos mempengaruhi cara kerja otak kita. "Otak kita secara konstan mengatakan rasa sakit dari percintaan ini sangat buruk, dan kita ingin segera menghapuskannya." Bahkan, putus cinta dapat memicu trauma masa kecil, atau ingatan soal hubungan tidak sehat dengan orang tua kita.


Tonton dokumenter VICE soal gereja yang mengaku punya teknologi agar manusia hidup abadi:


Seiring bertambahnya usia, dan semakin kita memahami pola-pola hubungan percintaan, amat memalukan sebenarnya saat kita mengingat diri kita sebagai seseorang yang membuat keputusan buruk dalam pacaran. Sulit bagi manusia biasa untuk melakukan introspeksi dan berpikir "Aduh. Apa gue yang salah, ya?"

Jadi, wajar kalau manusia ingin melupakan dan mengekang bagian memalukan tadi. Seperti Joel dan Clementine yang harus mengingat berbagai kesalahan yang mereka buat selama mereka pacaran, kita pun pasti pernah melakukan tindakan serupa. Mulai dari menghapus semua fotomantan kita yang ada di ponsel serta akun-akun medsos. Kita memblokir dan unfollow mantan. Itu cara yang paling wajar untuk menghapus kenangan soal mantan di zaman sekarang.

Tapi, apakah ingatan soal sang mantan kekasih betul-betul bisa dihapus?

Pada 2007, ahli saraf asal AS menemukan obat yang diklaim sanggup menghapus ingatan. Menurut artikel Telegraph, para peneliti berhasil mengembangkan obat amnesia yang bisa “menghapus ingatan-ingatan spesifik tanpa mengganggu ingatan-ingatan lainnya” dengan menginjeksi obat tersebut ketika pasiennya sedang mengingat kenangan yang menyedihkan.

Penelitian tersebut, yang dilakukan tim psikiater gabungan McGill University dan Harvard University, memicu beragam reaksi. Pejabat pemerintah Inggris khawatir obat macam itu akan disalahgunakan. Para ilmuwan sendiri mengusulkan agar obat ini diizinkan beredar, sebab prosedur tersebut dapat membantu merawat pasien yang sedang mengatasi gangguan stres pascatrauma alias PTSD—misalnya veteran perang. Penemuan tersebut menyoroti sifat otak, serta berbagai cara agar ingatan kita dapat diubah. Penemuan ini segera mengingatkan penonton Eternal Sunshinepada Lacuna, Inc., perusahaan yang menghapus ingatan pasien-pasien mereka memakai terapi electroshock.

Masalahnya, manusia masih belum bisa menghapus kenangan akan mantan dari otak. Bahkan, tampaknya teknologi macam itu tidak akan pernah terwujud. Setidaknya yang sudah tersedia sekarang adalah praktik psikoterapi membantu mengurangi dampak putus cinta yang parah.

Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (EMDR), misalnya, merupakan praktik psikoterapi untuk mengubah atau mengurangi kenangan traumatis agar tidak lagi menguras emosi. Prosedurnya, pasien diminta mengingat kembali kenangan buruk, lalu didorong untuk mengalihkan perhatian mereka dengan melakukan pengalihan gerak bola mata, mengetuk, dan gerakan lainnya. Beberapa penelitian menyatakan terapi ini efektif untuk mengobati PTSD.

Ada juga hipnosis atau hipnoterapi, yang mana seseorang akan memasuki kondisi setengah sadar dan dibawa ke alam bawah sadar melalui teknik khusus, termasuk isyarat lisan dan gambar mental yang meningkatkan fokus serta menenangkan sistem syaraf. Cara ini bisa membantu orang mengendalikan perilaku tertentu seperti kecanduan merokok, serta memungkinkan seseorang mengatasi gangguan kecemasan atau rasa sakit dengan lebih baik.

Nicole Wells, ahli hipnoterapi, termasuk yang rutin menangani pasiennya lewat hipnosis untuk menemukan faktor apa yang berhasil membantu mereka melupakan hubungan masa lalu. Dia menyarankan satu teknik meminta klien membayangkan masa depan, sekitar 5 atau 10 tahun mendatang.

"Ketika kamu menjauhi pengalaman traumatis tersebut dan emosinya menghilang, respons emosional yang kuat dan negatif terhadap suatu ingatan akan berubah. Kita jadinya bisa melihat sisi positif yang baru," ujarnya. Hipnosis dapat membantu manusia berhenti melakukan kebiasaan buruk, termasuk menyingkirkan patah hati. Prosesnya lebih cepat karena memanfaatkan pikiran bawah sadar kita secara langsung.

Dalam film Eternal Sunshine, program penghapusan ingatannya berjalan kacau dan tokoh utama filmnya menyadari kalau mereka ingin mempertahankan ingatannya tentang hubungan percintaan dan sakitnya patah hati yang mereka rasakan.

Respons kayak gini juga masuk akal, jika kita mempertimbangkan argumen lain dari Fraga. "Masa lalu kita akan selalu menentukan masa depan. Apabila kita tidak sanggup mengatasi masa-masa sulit di masa lalu, manusia cenderung akan terus mengenangnya," ujarnya.

Seperti kata pepatah, lebih baik mencintai dan kehilangan. Oleh karena itu, seperti disarankan Musselman, "Kita baru bisa move on jika melepaskan trauma dan ingatan-ingatan ini dari tubuh kita."

Berkaca dari keterangan para psikolog tadi, saya mengurungkan niat melupakan cinta pertama yang menyakitkan itu. Sebab saya akan menghapus semua momen bahagia kami berdua. Padahal hubungan itu, sekalipun berakhir buruk, adalah bagian dari proses perkembangan diri yang luar biasa yang kualami selama hidup. Saya jadi bertemu banyak pasangan yang berkesan dan berjasa besar setelah putus dengannya.

Eternal Sunshine of the Spotless Mind menawarkan gagasan menarik. Saya yakin, ada banyak orang di luar sana tetap terobsesi pada kemungkinan menghapus ingatan. Apalagi jika kita melihat kemajuan teknologi dan medis yang kita miliki saat ini, film tersebut terasa masuk akal.

Tapi, di sisi lain, film ini juga mengingatkan kita pada manfaat yang tercipta dari kenangan pahit. Tak peduli betapa berantakannya hubungan percintaan yang kita alami, manusia harus jalan terus. Putus ataupun tidak, kita terus tumbuh dan dewasa. Semakin kita bisa menerima berbagai konsekuensi kedewasaan itu, saya yakin, semakin banyak pula orang-orang baik yang hadir dalam hidup kita.


Follow Sara Radin di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Tagged:
Film
Michel Gondry
jim carrey
eternal sunshine of the spotless mind
kate winslet
teknologi
Budaya Populer
Psikologi
media sosial
Kenangan
Percintaan
Opini
Memori
Mantan
Persoalan Psikologis