Musik Inggris

Band Berbasis Gitar Bangkit Kembali di Kancah Musik Inggris

Pemicunya: mereka kembali populer karena akrab dengan medsos dan mengangkat isu-isu kontemporer.

oleh Ryan Bassil
09 Oktober 2018, 1:30am

Sebagai seseorang yang saban hari mendengarkan musik hampir tanpa jeda, bahkan saat berusaha tidur (Btw, udah pernah nyoba format lagu 432Hz? Keren loh), kebiasaan saya menikmati musik berubah dari waktu ke waktu. Saya biasa pindah dari Brigitte Bardot ke Yaeji, ke lmusik trap 1990an, lalu balik lagi mendengarkan depressive ambiance, kadang diselingi track-track DJ Koze, diakhiri throwback mendengarkan Robyn lagi.

Saya enggak sedang menyombongkan selera musik yang variatif. Enggak sama sekali. Belakangan ini, beginilah cara kebanyakan dari kita menyimak musik. Siapapun dengan mudah bisa berganti genre, kadang dalam hitungan detik. Tetap saja, ini enggak berarti popularitas sebuah genre jadi statis kok.

Genre tetap datang dan pergi seperti biasanya. Mau bukti? Soundcloud Rap misalnya. Tahun lalu, genre ini jadi genre baru musik paling hot tahun lalu. Sekarang? Ya sebagian sudah meninggalkannya. Kurang cukup? Masih ingat bagaimana EDM pernah mendadak naik dan kini turun lagi. Atau guitar music—sebutan untuk genre yang menekankan bunyi gitar sebagai fondasi terpentingnya—yang belakangan ini kembali digemari dan tampil dengan wajah baru yang segar tahun ini.

Genre tentu punya siklus tersendiri. Cuma, saya seperti merasa bahwa guitar music seperti mendapat suntikan darah baru 12 bulan terakhir ini. Di Inggris, ketertarikan akan guitar music disulut kembali oleh band-band muda macam Shame, Girl Ray, and Sorry, Idles serta album terbaru Arctic Monkeys yang keren abis karena a) pikiran Alex Turner sudah sampai di awang-awang hingga susah ditandingi musisi sekelasnya b) emang albumnya keren aja sih titik.

Band berbasis gitar di Inggris tentu masih rutin merilis album dari tahun ke tahun. Tapi, kebanyakan dari mereka terdengar kuno lantaran masih mengikuti pola-pola klise—seperti menampilkan imej anak indie rock bengal dan suka pakai jaket kulit—yang terlanjur jutaan kali dicoba musisi pendahulu. Di tengah suasana mononton, band-band seperti Peace, Swim Deep, dan Palma Violets, serta band-band satu angkatannya yang muncul setelah 2010, berusaha mengisi kekosongan—meski enggak selalu menghasilkan progres.

Jadi, pertanyaannya, apa yang berubah dari kancah musik berbasis gitar di Inggris yang pernah berjaya berkat Britpop dan Britrock? Bagaimana ceritanya hingga 'guitar band' kembali mencuat dari tanah Britania Raya?

Bagi saya, imej band rock mulai tak keren lagi mencuat tak beberapa setelah Alex Turner membacakan pidato legendarisnya di panggung Brit Award 2013. Isinya pretensius banget. Turner berkutat pada kepercayaan bahwa rock’n’roll tak akan pernah mati. Ironisnya, pidato ini dibacakan saat pamor (band) rock tengah melempem dibandingkan musisi-musisi baru yang inovatif seperti rapper Young Thug dan Tyler, the Creator, produser pop yang melek internet AG Cook dan SOPHIE serta banyak musisi yang sekarang kita anggao sebagai megastars: Kendrick Lamar, Solange, Dev Hynes dan Frank Ocean.

"Pidato itu seperti penutup sebuah era," kata DJ Apple Music's Beats 1 Matt Wilkinson, yang juga pernah menjadi staf NME, saat saya menyinggung soal pidato Turner pada tahun 2003 sebagai akhir sebuah era. "Saya rasa alasannya karena band baru yang diulas NME waktu belum memahami media sosial seperti musisi genre lain. Saya ingat beberapa band saat diwawancarai NME bilang, ‘kami kayaknya enggak bakal main medsos deh’ Ini gila menurut saya. Terus kalian mau ngapain? Dan semua band yang gagal setelah merilis satu atau dua album."

Kendati punya follower banyak di media sosial belum berarti sebuah band bakal otomatis sukses, menjauhi sosial media adalah salah satu keputusan yang membuat sebuah berakhir menjadi relik, atau rockstar dinosaurus. Enggak ada keren-kerennya jadi purist kalau syaratnya adalah menjauhi ponsel pintar (baca: alat promosi band paling manjur saat ini).

Band seperti Sports Team dan Idles memakai media sosial untuk mendobrak elitisme yang identik dengan band-band rock’n’roll. Kedua band ini sangat menghibur dan lucu sekali. Idles misalnya dengan cuek mereview produk susu sedangkan Sports Team gemar memotret anggota multi-instrumentalist mereka, Ben Mac—sama sekali jauh berbeda dengan band-band sok-sok klandestin di awal 2010.

Alih-alih menampilkan rock’n’roll aneh khusus untuk mahasiswa kelas menengah, deretan band baru ini malah menciptakan musik yang lebih kekinian, mengangkat isu yang sedang hangat dengan tulus dan bersemangat. "Kalau kamu lihat band-band yang sukses empat atau lima tahun lalu—contohnya Palma Violets dan Peaces—mereka tak terlalu marah," kata DJ BBC Radio 1 Phil Taggart. "Tapi sekarang, kita punya banyak band yang melek politik dengan berkomunikasi dengan audiens dengan cara yang lebih langsung."

Plus, band-band ini jauh dari kesan ngehe. "Gelombang baru guitar band ini sudah menjauhi imej ‘ngehe," kata editor platform ticketing DICE serta mantan staf redaksi NME, Leonie Cooper. "Band-band baru lebih iklusif. Mereka lebih terbuka—alias lebih ramah. Buktinya bisa kamu lihat di festival-festival besar macam Reading dan Leeds—dua gelaran yang kerap jadi TPA band indie dan rockstar dinosaurus—tahun. Line up dua festival ini menggambarkan betapa telah jauh berubahnya lanskap guitar band telah berubah. Nama King of Leons memang masih bertengger sebagai headliner. Namun, bagian bawa line up dirajai oleh guitar band yang meski kecil tapi menyenangkan untuk ditonton seperti Pale Waves, Dream Wife, Shame, Wolf Alice, atau Sunflower Bean…"

Baik Phil da Leonie menyebut Idles sebagai salah satu dari sekian band baru yang berusaha meruntuhkan garis batas antara fan dan artis, alih-alih sibuk terlihat keren semata. Lewat emailnya, Leonie mengatakan, "mereka mungkin berisik, tapi yang jelas enggak ngehe. Idles bernyanyi tentang isu imigrasi, maskulinitas yang merusak serta The Great British Bake Off. Salah satu anggotanya adalah dokter gigi NHS. Makanya, Idles lebih mirip dengan band kampus seni macam Pulp atau kolektif politis seperti Fugazi daripada Kasabian, Miles Kane atau kru mod setelah era Paul Weller."

Salah satu band yang ditengarai yang memulai pergeseran pada kancah guitar band di Inggris adalah Fat White Family, yang membawa politik, atau setidaknya kemarahan, ke dalam blantika musik Inggris. "Mereka tak menjual banyak album, tapi tetap saja penting," kata Matt. "Tanpa mereka, Shame dan Idles tak mungkin bisa seperti sekarang ini."

Band-band baru ini juga harus terus mengasah kemampuannya. Band-band keren terakhir dari Inggris, maksudnya The Cribs, Arctic Monkeys, menjadi mashsyur lewat forum-forum musik dan MySpace hingga melahirkan epigon-epigon yang enggak keren-keren amat. Pada kenyataannya, band-band dengan format tradisional umumnya tak bisa berbuat banyak di kanal streaming masa kini semisal Soundcloud karena itu memang bukan habitat mereka.

"Kalau kamu cuma bisa menggenjreng tiga chord pada sebuah gitar, mengunggah karyamu lewat Bandcamp, YouTube, Soundcloud serta Instagram enggak akan bikin kamu cepat sukses. Kamu masih harus membuktikan kemampuanmu dari panggung ke panggung," kata Leonie. "Makanya, Idles baru merilsi albim debutnya tahun lalu dan baru dikenal banyak orang sekarang. Padahal band ini sudah dibentuk sejak 2011. Sebelumnya, mereka rajin mengasah kemampuan mereka. Hal yang sama dijalani oleh Wolf Alice (yang menang anugrah Mercury). Seorang musisi atau sebuah band harus bergerilya di kafe-kafe kecil dulu sebelum akhirnya diperhatikan banyak orang."

Sampai di sini, mohon pahami dulu kalau saya enggak berusaha bilang bahwa guitar band Inggris bakal sangat terkenal dan menaklukan dunia seperti The Beatles dulu. Sebaliknya, saya cuma pengin ngomong guitar band saat ini enggak terjebak di masa lalu. Band-band baru ini menulis lagu baru yang terasa kekinian dan menyajikannya dengan cara yang serupa band-band lainnya di muka Bumi. Lalu, mereka seperti benar-benar punya kepercayaan diri saat meliris karya-karya mereka—seakan-akan mereka tahu kiat-kiat sukses menaklukan Spotify dan Instagram.

Ambil contoh the 1975, contoh gamblang band yang berdamai dengan dan merayakan logika layanan musik streaming—sesuatu yang berusaha mati-matian dilakukan band-band lainnya. Yang membedakan The 1975 dari kawanannya adalah mereka enggak terpaku pada format album. The 1975 lebih memilih menyicil merilis single. Seperti yang pernah ditulis oleh Lauren O'Neill baru-baru ini, tiga track terakhir the 1975 berpindah-pindah genre dari tropical pop menjadi rock bombastis sampai ke pengakuan yang mengundang pertanyaan.

Opsi menjadi bunglon ini dipilih agar the 1975 bisa menyesuaikan diri denga kebiasaan menyimak musi masa kini. Grup-grup Amerika Serikat seperti MGMT, Parquet Courts serta Unknown Mortal Orchestra juga merlis album remix tahun. Di Inggris, grup yang mau bersusah payah menempuh jalur ini adalah Alt-J—ini semua menunjukkan bahwa sejumlah band tahu benar bagaimana layanan streaming bekerja serta bagaimana cara menggunakan pengetahuan itu untuk mencapai kesuksesan.

Kita memang belum menyaksikan guitar band baru yang sukses besar-besaran. The 1975 setidaknya mendekatinya. Band ini seakan-akan membawa kita menyongsong titik baru di masa depan. Di saat yang sama, kancah guitar band seakan punya gairah dan tujuan baru. Jika band-band di masa lalu lebih cocok masuk kotak sampah, maka band-band baru ini punya tempat khusus di antara kebiasaan kita berganti lagu bahkan genre dalam hitungan detik.

Setidaknya itu yang saya rasakan. Jadi, selagi saya melompat-lompat dari Swamp Dogg, ke Lana Del Rey, ke Travis Scott, kadang saya sering kali menyusupkan track dari Dreamwife atau Sports Team atau salah satu track dari album baru Arctic Monkeys. Alasannya karena lagu-lagu itu keren dan jujur.

Seua ini bagi saya adalah terobosan segar dari gelombang band baru berbasis gitar yang tak dimiliki pendahulunya.


Ryan bisa diajak ngbrol di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey UK.