The VICE Guide to Right Now

Warga Sejumlah Daerah Lebih Takut Tak Punya Baju Lebaran Baru daripada Kena Corona

Saatnya ada yang bikin lagu dengan lirik seperti ini: "Baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya. Tak perlu pun ku harus punya, meski dapat hampers corona."
19 Mei 2020, 10:30am
Saat Pandemi Corona Warga tetap keluar rumah beli baju baru untuk lebaran
Pasar Tanah Abang di situasi normal sebelum pandemi Corona. Foto oleh Adek Berry/AFP

Menjelang Lebaran akhir pekan ini, berbagai pasar dan pusat perbelanjaan di berbagai daerah terpantau ramai-ramai saja oleh calon pembeli yang ingin merayakan Lebaran selayaknya Lebaran: menggunakan berbagai hal yang serba baru. Corona nol, kapitalisme satu.

Beberapa hari yang lalu, muncul video di kawasan Pasar Anyar, Kota Bogor, yang merekam keramaian pasar. Terlihat antrean motor yang menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan pasar dijamin bikin merinding. Masyarakat tampak mantap mengambil pendekatan gabungan antara kekebalan imunitas dan kepercayaan hidup-mati di tangan Tuhan.

Wartawan Detik yang meliput momen tersebut bertanya kepada aparat setempat, namun mereka hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala. “Tadi saya tanya, sama corona mereka takut? Mereka takut loh sama corona. Saya tanya [seorang] ibu [apakah] takut sama corona. ‘Takut sih, Pak,’ katanya, ‘Tapi kan gimana lagi, anak saya kan belum beli baju Lebaran’,” ujar Kepala Satpol PP Kota Bogor Agustiansyah.

Dari percakapan dua insan ini, terlihat prioritas seorang ibu yang rela mengabaikan protokol kesehatan demi kebahagiaan sang buah hati. Corona nol, implementasi jargon “sayang anak, sayang anak” satu.

Pindah ke Ciamis, Jawa Barat. kejadian sejenis juga terjadi di Pasar Manis. Di tengah PSBB, hampir semua bagian pasar dipenuhi pengunjung pada Senin (18/5) kemarin. Tidak ada jaga jarak antarpengunjung serta banyak pedagang tidak menggunakan masker.

“Kalau menjelang Lebaran pasti ramai. Kalau sekarang sih tidak begitu ramai dibanding tahun lalu. Mungkin karena ada wabah. Tapi dibanding beberapa hari sebelumya sekarang ramai. Yang datang itu beli baju Lebaran, kebanyakan buat anak,” kata Cicih, salah seorang pedagang, kepada Detik.

Melihat ini, Ketua Tim Penanganan Kasus (PIK) Covid-19 Ciamis Eni Rochaeni bisanya cuma prihatin, persis Ketua Satpol PP di Bogor. “Kondisi ini tentu kami sedih. Memang ini pekerjaan rumah kami. Mungkin banyak warga yang sudah tahu bahaya wabah Covid-19, ada juga yang belum tahu banget. Kami harus lebih gencar melakukan sosialisasi preventif dan promotifnya Supaya warga paham dan sama-sama melakukan pencegahan penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Beralih ke daerah lain, keramaian enggak cuma terjadi di pasar tradisional. Tindakan ignoran para masyarakat nekat juga melanda pusat perbelanjaan di Jember dan Ciledug. Kemarin (18/5) dan hari ini (19/5), viral di internet video kepadatan mal Jember Roxy Square (Jawa Timur) dan Mal CBD Ciledug (Banten) karena warga sekitar memutuskan mau berdamai sekaligus berbelanja bersama corona.

Melihat fenomena kayak begini, psikolog Rosdiana Setyaningrum angkat bicara. Doi mengatakan ada pola pendidikan yang salah dalam masyarakat sehingga kelompok tertentu enggak memikirkan akibat perbuatan mereka dalam jangka panjang.

“Jadi orang itu terbiasa mikir yang pendek karena sebelum-sebelumnya kita belum pernah dihadapkan pada konsekuensi yang langsung dan besar. Kalau kita melihat secara psikologi perkembangan kognitif orang, memang enggak semua orang itu bisa berpikir sebab-akibat yang jangka panjang kalau cara pendidikannya salah,” kata Rosdiana kepada Detik.

Berhubung baju baru enggak bakal guna kalau enggak dipamerkan, kita kudu siap-siap sama pemandangan susulan. Pertama, orang-orang yang ngotot salat Id dan silaturahmi Lebaran ke rumah-rumah. Kedua, munculnya klaster corona bernama “klaster baju baru”. Kalau semua tenaga kesehatan mogok kerja, mungkin baru orang-orang ini pada insyaf.