Lingkungan

Kremasi Air: Solusi Diklaim Lebih Ramah Lingkungan Dibanding Penguburan

Sisa jasad bisa langsung menjadi pupuk dan disumbangkan ke petani. Simak dokumenter VICE merekam metode kremasi mayat yang unik tersebut.
11 Mei 2020, 5:24am

Area pemakaman memakan 404.685 hektar lahan di Amerika Serikat, dan sekitar tiga juta liter formaldehida dihabiskan untuk mengawetkan mayat setiap tahunnya.

Meski kini lebih dari 50 persen orang Amerika memilih dikremasi, metode tersebut tetap saja bisa merusak lingkungan. Jumlah karbon dioksida yang dilepaskan selama proses kremasi setiap tahunnya sama dengan yang dikeluarkan 70.000 mobil.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pengurus pemakaman mulai mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya yaitu dengan metode "Alkaline Hydrolysis" alias kremasi air.

Jasad akan dimasukkan ke dalam kapal dan direndam dalam air panas bersuhu 151 derajat Celsius. Setelah itu, air dicampurkan dengan kalium hidroksida untuk menguraikan jasad. Sisa-sisa cairan kemudian dibuang ke sistem limbah air.

Ed Gazvoda mendirikan Sustainable Funeral di Arvada, Colorado. Dia sibuk meningkatkan proses kremasi air selama 10 tahun terakhir. Tak puas dengan membuang cairan bekas jasad ke selokan, dia akhirnya menciptakan teknik baru yang dinamakan "Alkaline Hydrolysis 2.0". Dengan metode ini, dia mengawetkan sisa cairan jasad, menyumbangkannya ke petani dan pembibit pohon untuk dijadikan pupuk.

"Metode ini luar biasa," kata Gazvoda kepada VICE News. Kenapa? Karena "kita cuma punya dua pilihan: menghabiskan lahan untuk mengubur mayat, atau membiarkan partikel-partikelnya menguap."

"Kremasi air mengembalikan bahan organik untuk kelangsungan hidup Bumi," lanjutnya. "Seandainya ratusan juta orang memilih metode ini, bisa bayangkan seberapa banyak nutrisi yang dikembalikan ke Bumi?"

Simak dokumenter VICE menyorot praktik kremasi air di tautan awal artikel.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News