Iklan
Views My Own

Heboh Asian Games Makin Menunjukkan Tata Kota Jakarta Sangat Bermasalah

Mulai dari ralat cat pedestrian dan pembatas jalan, hingga jaring raksasa di Kali Item, apa memang pembangunan di Jakarta selama ini jalan tanpa rencana?

oleh Yvette Tanamal
06 Agustus 2018, 11:26am

Pekerja memasang jaring raksasa di Kali Item demi mengatasi bau busuk dari sungai. Memasang jaring dirasa lebih hemat anggaran daripada membersihkan kali. Foto oleh Willy Kurniawan/Reutersd

Kita semua tahu kalau Jakarta terkenal akan kemacetan dan polusi udaranya. Belum lagi, ibu kota ini terancam tenggelam. Perencanaan kota yang buruk membuat Jakarta dinobatkan sebagai kota terburuk di Indonesia dan kota dengan tatanan paling buruk di dunia.

Pentas Asian Games yang akan digelar pada Agustus ini kembali menyoroti betapa buruknya tatanan kota Jakarta. Upaya mempercantik Jakarta pun bisa dibilang gagal total.

Proyek ini banyak menuai kritik, seperti kasus area rumput yang memisahkan halte bus dengan jalan raya, karena dianggap tak masuk akal.

Pemerintah pusat tampaknya selalu salah mengambil langkah. Salah menggambar bendera negara lain, mengecat ulang trotoar yang telah dicat warna-warni, dan membuat jalur khusus sepeda di trotoar yang terhalang tiang adalah sekian dari banyaknya masalah tata ruang kota Jakarta. (Seakan yang membuat enggak pernah sepedaan.)

Masalah ini memang menarik untuk dijadikan bahan candaan, tetapi kacaunya perencanaan kota membuat Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia. Danisworo, Ketua Pusat Studi Urban dan Desain (PSUD), menjelaskan kepada Kompas bahwa masalah di Jakarta dimulai dari hal-hal kecil yang akhirnya bertambah besar.

"Hal-hal yang kecil saja, seperti penunjuk jalan, tempat sampah, dan taman, Jakarta tidak mampu menyediakannya dengan baik, sehingga membingungkan warganya," kata Danisworo. "Jalan-jalan di kota ini menjadi tidak efektif dan efisien hanya karena masalah sepele."


Tonton dokumenter VICE yang menyoroti fakta Jakarta jadi kota paling cepat tenggelam di dunia:


Pemerintah Provinsi (Pemprov) berupaya menjadikan Jakarta sebagai kota ramah disabilitas dengan memasang jalur taktil di trotoar bagi penyandang tunanetra. Masalahnya, jalur khusus ini malah berakhir seperti ini:

Jakarta memang bukan kota yang mudah diatur. Kota ini hampir seukuran Singapura, tetapi jumlah penduduknya dua kali lipat lebih banyak dari negara tersebut dan kekayaannya hanya seupil Singapura. Tapi apakah ukuran kota Jakarta yang membuatnya sulit diatur, ataukah manajemen yang buruk yang membuat ukuran kota ini jadi sulit ditolerir?

Mari coba kita lihat masalah kemacetan. Padatnya penduduk memang salah satu faktor penyebab kemacetan di Jakarta, tetapi masalah sesungguhnya bersumber dari serangkaian keputusan yang diambil gegabah. 1) Mayoritas jalanan Jakarta didominasi oleh mobil dan hanya memiliki segelintir trotoar. Karena itulah, orang-orang Jakarta jadi malas jalan kaki.

Akibatnya, sebagian besar orang lebih memilih untuk naik kendaraan atau tidak keluar rumah sama sekali. Tingginya angka kendaraan itu lah menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Macet rutin di jalanan jakarta. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Jakarta juga belum punya Mass-Rapid Transit (MRT), alat transportasi yang bisa mengurangi kemacetan. Namun, bukannya fokus membangun jalur MRT, seperti yang dilakukan Bangkok pada tahun 90-an, Mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso malah memutuskan untuk memperbanyak armada bus—yang membuat jalanan semakin macet.

Sutiyoso awalnya ingin mengikuti sistem bus di Bogota, tapi timnya malah membuat kesalahan besar—mereka menambah jalur bus dengan mengurangi jalur untuk mobil biasa. Jalanan pun bertambah macet. Orang-orang bisa memprediksi apa yang terjadi, tapi mereka tetap tidak memedulikannya.

"Ya, biarkan (macet) memang harus dipaksain. Kalau enggak dipaksain begitu nanti masyarakat enggak mau berpindah ke angkutan umum massal," ujar Andri Yansah, Kadishubtrans DKI Jakarta pada Detik, saat ditanya apakah pemerintah akan mengoreksi jalur bus karena mengakibatkan kemacetan.

Upaya paling baru untuk mengurangi jumlah mobil di jalanan untuk Asian Games adalah pengembangan peraturan ganjil-genap, yang perlahan juga diberlakukan di luar Jakarta. Peraturan ini melarang mobil-mobil dengan nomor plat tertentu memasuki jalanan utama di kota. Di negara lain, mungkin hal ini akan mendorong masyarakatnya untuk menggunakan transportasi umum. Tapi, di Indonesia, ini hanya akan bikin kita bertanya-tanya: transportasi umum apaan?

Sistem bus yang dinamai TransJakarta, selalu penuh dan sesak pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Sistem ini juga suka terlambat dan dirancang dengan buruk. Ada “sudut kursi roda” di setiap bus untuk penyandang disabilitas, tapi bahkan peronnya tidak setara dan ada jarak antara pintu halte dan pintu bus, dan ini justru berbahaya.

Saat saya memikirkan soal semua yang harus saya lalui saat saya pulang kantor (terlepas dari keluhan-keluhan saya, saya adalah pengguna TransJakarta), kata-kata Danisworo masuk akal. Yang penting adalah hal-hal kecil. Ada miliaran hal kecil yang membikin hal ini berat.

Mungkin ini akan menjadi lebih baik. Mungkin kekacauan Asian Games pada akhirnya akan membuat kota ini berkaca dan menyadari bahwa ia perlu berbenah diri. Tapi saya juga khawatir. Jangan-jangan, saat nanti tatapan mata dunia sudah padam, apakah masih ada yang peduli? Apakah kita akan mendapatkan kota yang pantas? Saya rasa cuma waktu yang bisa menjawab.