Kekeringan

Kota Batam Terdampak Perubahan iklim, Terancam Kehabisan Air Bersih Mei 2020

Batam menjadi satu dari sekian kota Indonesia yang paling merasakan efek pemanasan global. Dari pernyataan pemerintah setempat, tampaknya mereka tak punya rencana apapun.
20 Februari 2020, 7:42am
Kota Batam Kepulauan Riau Terancam Kehabisan Air Bersih Mei 2020 Akibat Perubahan Iklim
Foto kawasan pelabuhan Kota Batam [kiri] oleh Exbeing/via Wikimedia Commons/lisensi CC 4.0; Foto ilustrasi waduk kekeringan dari Wikimedia Commons

Sama-sama harus segera jadi isu penting, Pulau Jawa masih sedikit lebih beruntung karena prediksi habisnya air bersih masih akan terjadi pada 2040 mendatang. Soalnya, Kota Batam mengalami ancaman kehabisan air bersih jauh lebih cepat. Kata PT Aditya Tirta Batam (ATB), perusahaan pengelola produksi air bersih Kota Batam selama 23 tahun terakhir, stok air bersih di Kota Batam akan habis pada Mei 2020 alias tiga bulan lagi. Dengan catatan, jika hujan lebat tak kunjung turun.

Sejak pergantian tahun 2020, sebenarnya Batam udah hujan kok, cuma intensitasnya kecil, terutama Februari ini. "Mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa kita, hingga akhirnya Batam diberikan hujan dan ketersediaan air bersih bisa kembali bertambah," kata Presiden Direktur ATB Benny Adrianto kepada Kompas.

Selama ini Kota Batam bergantung pada air bersih dari lima waduh yang volumenya semakin menyusut. Penyusutan paling parah terjadi di Waduk Duriangkang, penopang 80 persen kebutuhan Kota Batam. Tragisnya, penyusutan air waduk ini sudah terpantau sejak 2012, tapi tak ada kebijakan konkret dari pemerintah setempat untuk mengatasinya.

Dalam masa ideal, waduk ini jadi yang paling dibutuhkan karena mampu memproduksi air bersih sampai 2 ribu liter per detik, sementara empat waduk lainnya relatif lebih sedikit: Muka Kuning hanya menyumbang 532 liter air per detik, Sei Ladi 248, Sei Harapan 207, dan Nongsa 54.

Level air Di Waduk Duriangkang udah mencapai minus 2,76 meter di bawah spillway. Spillway adalah katup di bendungan yang berfungsi mengendalikan air dari bendungan (waduk) ke daerah hilir. Menurut Benny, kalau debit air menyentuh minus 3 meter di bawah spillway, suplai air bersih untuk 200 ribu pelanggan rumah tangga, bisnis, dan industri Kota Batam akan terganggu. Idealnya, Duriangkang bisa menampung air hingga 78 juta meter kubik. Ini adalah penyusutan terburuk sejak waduk berdiri pada 2000, yang mana ilmuwan sepakat pemicunya adalah perubahan iklim.

Jika ATB memprediksi stok air Batam habis per Mei, menurut Benny Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia malah memprediksi lebih cepat, yakni 5 April.

Ngomong-ngomong, Walikota Batam Muhammad Rudi ternyata pernah menyampaikan solusi ketika masalah kelangkaan air bersih mulai dibahas paruh akhir tahun lalu. Sayangnya, solusi doi kayak enggak relevan ketika krisis air di depan mata. Apa solusinya? Warga supaya nanem pohon. Udahlah enggak relevan, nyuruh pula.

"Sudah ada info dari Kementerian PUPR yang membidangi waduk dan juga ATB bahwa dalam enam bulan sampai setahun ke depan akan terjadi krisis air di Batam. Camat dan lurah segera informasikan ke masyarakat agar menanam pohon di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing," tutur Rudi, Oktober lalu.

Warga Batam apa enggak pengin nangis denger pejabatnya kayak gini?