Teknik Urban Farming Komunitas Indonesia Berkebun
Aktivitas anggota Indonesia Berkebun di Ciracas, Jakarta Timur. Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin.
Kedaulatan Pangan

Para Petani Urban di Jakarta Beri Bukti Kalian Bisa Bercocok Tanam di Lahan Apapun

Wabah yang berlangsung lama berisiko mengganggu suplai dan kestabilan harga pangan.Bercocok tanam di tengah permukiman kota bisa menjadi cara mempertahankan pasokan pangan di tengah pandemi.
06 Mei 2020, 11:14am

Di sebuah lahan kosong kawasan Ciracas, Jakarta Timur, berdiri sebuah rumah kaca ukuran 10 meter persegi. Rumah kaca tersebut terbuat dari kasa dan baja ringan. Di dalamnya lonjoran pipa pvc berjejer rapi. Sebuah tandon dan pompa air terpasang di bagian depan, mengalirkan pupuk cair organik berwarna kuning keruh.

Bermacam sayur mayur tertanam di sepanjang pipa tersebut. Selada segar siap panen. Bayam yang baru mekar. Kangkung. Pakcoy. Hampir semua sayuran yang kerap ditemui di pasaran.

Pagi itu empat orang tengah sibuk menyiangi daun kering dari badan tanaman. Mereka adalah anggota Jakarta Berkebun, sebuah komunitas urban farming yang berdiri sejak 2011. Komunitas itu berawal dari hobi menanam sayuran di lahan sempit perumahan. Lambat laun jejaring mereka kini tersebar di seluruh Indonesia dengan anggota mencapai puluhan ribu.

Lahan kosong itu dipinjamkan oleh salah seorang anggota. Setiap anggota kemudian bergiliran mengelola lahan itu. Meski tak terlalu fokus untuk mengkomersilkan, terkadang hasil kebun itu dijual lewat pasar dadakan atau media sosial.

"Awalnya cuma hobi," kata Muslim, salah seorang anggota yang bergabung pada 2014. "Rasanya senang aja melihat pertumbuhan tanaman. Bisa buat refreshing."

Di balik hobi itu, Muslim punya filosofi yang terus dia pegang: kenali apa yang kamu makan. Dengan menanam sayuran sendiri, seseorang tahu semua proses yang dilalui, kata Muslim. Semua anggota Jakarta Berkebun punya kebun pribadi. Muslim misalnya, mendedikasikan halaman samping rumahnya yang cuma berukuran 2x3 meter untuk berkebun. Dari hasil berkebunnya, Muslim bisa menghemat ratusan ribu per bulan.

"Jika kita beli sayuran dari pasar, kita tidak tahu apa yang diberikan ke tanaman," tutur Muslim yang bekerja di sebuah perusahaan distributor alat pertanian. "Pestisida dan pupuk kimia yang berbahaya pasti ada. Dengan urban farming ini kita mengenali apa yang kita makan."

Urban farming juga merupakan solusi murah. Modal yang dibutuhkan cukup terjangkau. Cukup membeli bibit, media tanam, dan sedikit kreativitas. Semua tak lebih dari Rp100 ribu, kata Kurnia Yusuf, salah seorang anggota.

Tak usah memikirkan lahan. Sepanjang cahaya matahari melimpah, berkebun bisa dilakukan di lahan sempit seperti teras atau halaman belakang. "Solusi paling gampang adalah hidroponik,” kata Kurnia. "Dia bisa digantung di tembok rumah."

Media apa saja bisa dipakai: pipa bekas, ember, pot, gayung bekas, apapun yang dapat menampung. Ketika sudah siap, tinggal diberikan rockwool sebagai media tanam bibit. Kunci dari teknik hidroponik adalah sinar matahari dan pemberian pupuk cair secara rutin. Kurnia bilang, pupuk cair yang mengalir lebih bagus. Tapi jika tidak memungkinkan, penggantian secara rutin sudah cukup. Sayur mayur bisa dipanen dalam periode dua minggu hingga satu bulan, tergantung jenis tanaman.

"Agar bisa setiap hari panen untuk memenuhi kebutuhan dapur, perlu manajemen penanaman," kata Kurnia. "Setiap habis panen langsung tanam benih lagi, begitu seterusnya."

Ketika akhir dari pandemi belum juga terlihat, urban farming menjadi solusi ampuh yang diterapkan di banyak negara, dari Singapura hingga New York. Singapura, yang mengimpor 90 persen dari kebutuhan pangannya, menargetkan pertumbuhan suplai makanan lokal hingga 30 persen pada 2030.

Di satu sisi, urban farming mungkin adalah solusi menghijaukan kota besar yang sumpek. Tapi di sisi lain, ia juga mencerminkan kemandirian pangan. Hampir semua anggota Jakarta Berkebun sepakat, urban farming bisa menghemat anggaran belanja rumah tangga. Itu jelas, sebab mereka tak perlu lagi membuat daftar belanjaan dan memusingkan fluktuasi harga pasar.

Coba cek, berapa banyak komoditas pangan yang turut menyumbang inflasi? Setiap tahun cabai dan bawang jelas punya andil besar dalam mendongkrak inflasi. Kondisi iklim yang tak menentu ditambah ketergantungan impor menjadi salah satu penyebab fluktuasi harga. Ditambah lagi pandemi coronavirus sejak beberapa bulan belakangan membuat ketahanan pangan menjadi rentan.



Jangan lupa, tingkah polah masyarakat juga turut menyumbang kenaikan harga. Beberapa pekan lalu misalnya, terjadi kelangkaan dan kenaikan harga empon-empon seperti jahe, kunyit, dan temulawak. Sebabnya, terjadi permintaan tinggi untuk bahan baku jamu tersebut lantaran dipercaya bisa menghalau coronavirus.

Dari sisi ketahanan pangan, data Global Food Security Index 2019 menyebutkan bahwa peringkat Indonesia berada di urutan 62 dunia. Jauh dari Malaysia di urutan 28. Ironisnya, berdasarkan kajian Economist Intelligence Unit, Indonesia adalah negara kedua tertinggi dalam menghasilkan sampah makanan, di mana setiap orang menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahun.

Walaupun urban farming terlihat sepele sebab hanya memanfaatkan lahan sempit, kontribusinya terhadap pasokan pangan tak bisa diremehkan. Berdasarkan studi di jurnal Earth’s Future, agrikultur urban di dunia berpotensi menyumbang 180 juta ton makanan per tahun.

Bhima Yudhistira, analis dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan pandemi telah mengganggu pasokan pangan khususnya yang bergantung pada impor. Lockdown di beberapa negara eksportir membuat harga komoditas naik. Salah satu akibatnya pengiriman logistik menjadi tersendat, katanya.

"Indonesia kemandirian pangannya payah sekali," kata Bhima. "Begitu impor terimbas Covid-19, meroketlah harga pangan."

Kenaikan harga ini menjadi anomali, katanya. Sebab daya beli masyarakat tengah menurun. Bhima memprediksi terjadi krisis pangan pasca Lebaran jika hal ini terus terjadi tanpa intervensi.

Hal tersebut juga diamini oleh Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) yang menyebut adanya risiko kenaikan harga beberapa komoditas pangan lantaran terhambatnya impor. Kelangkaan komoditas seperti gula pasir, kata Tutum, bahkan sudah terjadi beberapa pekan sebelum wabah.

"Saat ini produk-produk tertentu mengalami perlambatan bahan baku terutama yang impor dari Tiongkok dan beberapa negara tertentu. Hampir sebentar lagi pada naik," ujar Dewan Penasihat HIPPINDO, Tutum Rahananta.

Pengaruh dari gangguan impor dirasa cukup signifikan. Pada 2018, Indonesia menjadi importir gula tertinggi di dunia, melewati Tiongkok. Soal bawang putih sebanyak 80 persen Indonesia bergantung ke impor. Rata rata Indonesia mengimpor 1,5 juta hingga 2 juta ton beras per tahun. Alhasil impor terlambat datang, harga naik karena inflasi.

Lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah?

Tutum mengatakan kebijakan yang diterapkan dalam menangani kelangkaan pasokan masih memiliki banyak permasalahan. "Di internal pemerintahan ada permasalahan regulasi dan kebijakan sehingga beberapa produk komoditi kosong," kata dia.

Bhima juga turut pesimis dengan peran pemerintah. Sebab peran Badan Urusan Logistik (Bulog) melemah pasca reformasi, katanya. "Daya serap Bulog rendah," kata Bhima. "Gudang Bulog diisi produk impor. Jadi jangankan soal gula dan komoditas lain, soal beras saja kapasitasnya ga besar."

Akhir 2019, misalnya, Bulog gagal mengekspor beras produksi lokal karena dinilai terlalu mahal di pasar internasional. Lagi-lagi Bulog juga gagal merealisasikan target penyerapan hasil panen beras petani Indonesia.

Dari target 1.8 juta ton, Bulog hanya mampu menyerap 1.1 juta ton. April ini, Bulog juga menyatakan tidak bisa melakukan intervensi kenaikan harga bawang putih lantaran tak memiliki izin impor. Pada awal April, harga rata-rata bawang putih per kg mencapai Rp44.850, jauh dari target pemerintah sebesar Rp25.000.

"Waktu ada desakan lockdown, pemerintah sebenarnya tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok tiap warganya. Ini indikator masyarakat tidak bisa berharap banyak dari pemerintah," kata Bhima.

Bhima mengatakan saat pandemi, urban farming sangat tepat menjadi solusi ketahanan pangan. Memang butuh waktu dan tidak semua komoditas pangan bisa ditanam. Namun komoditas lain seperti sayur sayuran, jagung, rempah-rempah bisa dipasok dari urban farming.

Ini bukan pertama kalinya kemandirian pangan diserukan saat situasi krisis. Saat Perang Dunia I, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, hingga Australia menyerukan agar warganya mulai berkebun dengan istilah ‘Victory gardens’ demi mengamankan pasokan makanan. Seruan itu kembali bergaung saat Perang Dunia II pecah.

Dina Rahmawati, seorang ibu rumah tangga sekaligus anggota Jakarta Berkebun, adalah salah seorang yang merasakan manfaat urban farming. Ketika harga cabai dan empon-empon naik setiap tahun, Dina tak pusing mengatur keuangan keluarga.

"Teman-teman kadang curhat harga ini-itu naik," kata Dina. "Saya santai saja. Hasil dari kebun sendiri sudah cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga."