Fenomena Alam

Lubang Misterius Sering Muncul di Lapisan Es Antarktika

Para peneliti menggunakan jasa gajah laut dan robot untuk memecahkan misteri munculnya kawah besar tersebut.

oleh Becky Ferreira
12 Juni 2019, 9:27am

Gajah laut dipasangi kamera untuk penelitian Kutub Selatan. Sumber: Dan Costa/UC Santa Cruz

Selama berpuluh-puluh tahun, para ilmuwan sering dibingungkan oleh keberadaan lubang raksasa di lapisan es Antarktika.

Jawabannya berhasil ditemukan berkat bantuan robot, satelit, dan gajah laut yang dipasangi sensor di kepalanya. Penelitian tersebut, baru saja terbit di Nature, menunjukkan fenomena yang berulang kali terjadi. Dugaan ilmuwan, kemunculan lubang-lubang ini dipengaruhi oleh perubahan iklim, meningkatnya kadar garam, dan aktivitas gunung dasar laut.

Lubang masif ini dikenal sebagai “Polynya”, area perairan terbuka yang dikelilingi lautan es. Polynya terkadang muncul di Laut Weddell di barat laut Antarktika secara acak. Ukuran dan frekuensi lubangnya tidak berhubungan erat dengan suhu, menunjukkan ada mekanisme lebih kompleks yang mendorong pembentukannya.

1560194754057-203026
Laut Weddell dalam citra satelit dipotret pada 25 September 2017. Sumber: NASA

Polynya pertama kali menarik perhatian ilmuwan pada pertengahan 1970-an, ketika satelit observasi Bumi mencatat lubang seukuran Selandia Baru di lautan es itu. Lubang besar mulai muncul di Laut Weddell pada 2016, menciptakan area perairan terbuka yang lama-lama ukurannya menjadi sebesar wilayah South Carolina.

Ethan Campbell, mahasiswa doktoral jurusan oseanografi di University of Washington, mengetuai tim peneliti mengamati lubang misterius dan menjelaskan cara pembentukannya. Campbell dan rekan mengumpulkan data lubang-lubang yang muncul belakangan ini dari satelit, stasiun cuaca, sensor mengambang, dan gajah laut yang dipasangkan instrumen.

Gajah laut sangat membantu para ilmuwan Antarktika karena mereka terbiasa menyelam hingga kedalaman 600 meter di bawah permukaan laut, dan terkadang mampu melampaui kedalaman 2.000 meter.

Hewan bersensor itu dapat memperoleh pengukuran dari beberapa lapisan Samudra Selatan misterius, yang tentu akan sulit dikumpulkan apabila dilakukan sebaliknya. Instrumennya ditempel secara alami menggunakan epoksi, dan akan lepas dengan sendirinya beberapa bulan kemudian atau ketika mereka mengalami mabung tahunan.

Pengukuran mengungkapkan Laut Weddell belum lama ini diterjang badai hebat. Airnya pun lebih asin. Fenomena alam ini diduga menjadi pemicu utama, menurut tim Campbell. Kedua kondisi tersebut mendorong air laut yang lebih hangat untuk naik ke permukaan. Lubang tercipta ketika lapisan esnya meleleh.

Meskipun intensitas salinitas dan badai bervariasi dari tahun ke tahun, polynya selalu muncul di sekitar Laut Weddell timur. Hal ini karena lautnya terletak di atas gunung dasar laut besar yang disebut Maud Rise. Arus laut yang terbentuk di sekitar gunung ini menciptakan pusaran air yang mengonsentrasikan air hangat di bawah lapisan es yang sama.

“Penelitian ini menunjukkan polynya muncul karena beberapa faktor,” kata penulis Stephen Riser, dosen oseanografi di UW, dalam sebuah pernyataan. “Pada tahun tertentu kawahnya bisa muncul beberapa kali, atau bahkan tidak muncul sama sekali.”

Mereka menerangkan krisis iklim, yang memengaruhi salinitas laut dan kekuatan badai, berpotensi memiliki dampak pada polynyas di Antarktika. Akan tetapi, belum diketahui apakah pemanasan suhu global bisa mengurangi pembentukannya, atau malah memperbanyak lubang.

“Kami perlu meningkatkan model agar dapat mempelajari proses ini, yang dapat memiliki implikasi iklim berskala lebih besar,” kata Riser.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:
robot
Perubahan Iklim
Lingkungan
Kutub Selatan
University of Washington
Weddell Sea
polynya
Garam
Gajah Laut
Rahasia Alam
Lubang Misterius
Salinitas