Iklan
Politik

Masih Kecewa Lihat Prabowo-Jokowi Damai, Kubu Konservatif Diyakini Sibuk Cari Idola Baru

Pengamat menduga kondisi pilpres 2024 kelak tak banyak berubah. Sentimen anti-Cina, komunis, dan fobia LGBTQ terus coba diembuskan kelompok konservatif lewat gacoannya.

oleh Adi Renaldi
17 Juli 2019, 9:45am

Massa terlibat demonstrasi '212', saat menuntut mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dilengserkan. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters

Bulan madu ormas keagamaan pendukung dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno resmi berakhir. Sebabnya, kelompok konservatif kecewa dengan jagoannya di Pilpres 2019 bersedia menemui dengan Joko Widodo akhir pekan lalu.

Dalam pertemuan yang dicap banyak media sebagai rekonsiliasi pertama pasca Pilpres 2019 yang sempat memanas, Jokowi dan Prabowo menghabiskan waktu bercengkerama di kereta MRT dari stasiun Lebak Bulus. Dalam pertemuan yang hangat tapi mendinginkan tensi itu, Prabowo secara tulus mengatakan kepada Jokowi, "selamat bekerja."

Juru bicara Persatuan Alumni 212, kelompok konservatif pendukung Prabowo, Novel Bamukmin sangat sewot. "Kok nyelonong (bertemu Jokowi) tanpa ada komunikasi dengan kita?" tanya Novel dikutip awak media.

Pendukung setia Prabowo-Sandiaga Uno sontak ikut sewot dan kebakaran jenggot. Data dari sistem analisis media sosial Drone Emprit menunjukkan kekecewaan pendukung tersebut ditumpahkan ke Twitter beberapa saat sebelum pertemuan berakhir. Sebanyak 97.900 akun, misalnya, menunjukkan sentimen negatif yang memicu tagar #Kamioposisi dan #BoikotPrabowo.

"Buat yang berniat unfollow masal akun @prabowo silahkan retweet. Kita tenggelamkan siapapun yang berkomplot dg kecurangan, ini sikap!!," cuit akun @ekowboy2.

Prabowo dan kendaraannya Partai Gerindra memang belum menunjukkan arah dan sikap apakah akan menjadi oposisi atau masuk ke pemerintahan untuk lima tahun mendatang, namun yang jelas kelompok pendukung Prabowo seperti Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) secara resmi telah menarik dukungannya.

Ketua PA 212 Slamet Maarif secara terang-terangan menyebut kubu Prabowo-Sandiaga hanyalah alat untuk mencapai kepentingan kelompok tersebut. Maka jika alat tersebut tak bisa memenuhi tujuan, PA 212 akan mencari kendaraan baru, demikian Slamet berkata.

"Sekali lagi, kemarin itu partai-partai, BPN [Badan Pemenangan Nasional], Prabowo-Sandi itu adalah alat kendaraan perjuangan kita untuk menegakkan spirit 212," kata Slamet. "Kalau alatnya sudah macet, kalau kendaraannya sudah rusak ya jangan dipaksain. Kalau kendaraannya sudah mogok ya jangan dipaksain kita naik, turun bareng-bareng cari kendaraan lain."

Senada dengan Slamet, juru bicara PA 212 Novel Bamukmin juga mengatakan pihaknya akan bersiap mencari partai dan capres baru di Pemilu 2024 nanti. "Kalau itu terjadi [pertemuan Prabowo-Jokowi], khusus saya, PA 212, akan meninggalkan Prabowo dan 2024 kami akan cari partai dan capres yang bisa dipercaya," kata Novel dikutip Tirto.id.

Kekecewaan gerakan Islam fundamentalis tersebut wajar belaka, kata pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro. Menurut Siti, buat kelompok kanan Jokowi adalah representasi anti-Islam yang selama ini tak mengayomi. Contohnya adalah isu kriminalisasi ulama yang bergulir menjelang pilpres 2019.

Maka ketika pertemuan Jokowi-Prabowo terjadi di stasiun MRT, harapan dan mimpi mereka buyar. Prabowo adalah sosok yang diharapkan membawa kesejahteraan dan kejayaan Islam, sementara Jokowi adalah semua dari kebalikan itu. Maka ketika mimpi itu ambyar, kemana kelompok Islam akan berlabuh nanti?

"Mereka pastinya akan cari sosok baru, sosok yang bisa merepresentasikan, mengayomi mereka. Sosok dan partai yang secara tegas menyatakan oposisi," kata Siti saat dihubungi VICE.

Yang jelas, pilihan kelompok kanan tadi terpatok pada sosok yang memiliki nilai konservatif dan merepresentasikan kepentingan mereka. Siti pesimis jika Prabowo nanti maju ke Pilpres 2024, dia bisa menggunakan cara lama dengan mendekati ulama. Pilihan yang ada saat ini kemungkinan jatuh ke Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo, yang selama ini menunjukkan kedekatan dengan kelompok Islam.

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) adalah kekuatan utama Prabowo dalam pilpres kemarin. Pada September 2018, dalam acara bertajuk Ijtima Ulama, Prabowo-Sandiaga secara resmi menandatangani pakta integritas dengan GNPF, dengan janji menegakkan nilai-nilai Islam, ekonomi, dan menjaga kepentingan umat Islam. Sebagai gantinya, GNPF akan habis-habisan mendukung Prabowo.

Kelompok Islam konservatif, yang diwakili GNPF dan PA 212, adalah motor di balik apa yang media sebut sebagai kebangkitan populisme agama. Mereka memainkan sentimen anti-komunis, anti-Cina, dan anti-LGBTQ. Titik balik dari kebangkitan populisme tersebut adalah aksi 212, yang menuntut ditangkapnya gubernur DKI Jakarta kala itu Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama atas penistaan agama, yang berakhir dengan vonis 2 tahun penjara.

Menanggapi manuver Prabowo yang bertemu Jokowi, kelompok Islam konservatif yang dimotori PA 212 akan menggelar Ijtima Ulama IV Agustus nanti. Tujuannya buat membahas langkah selanjutnya, pasca pertemuan Prabowo-Jokowi. Rencananya PA 212 juga akan mengundang Prabowo-Sandiaga.

Siti Zuhro menganggap bahwa ‘perseteruan’ antara pendukung dan sosok dukungannya dapat diredakan jika Prabowo mencoba berdialog dengan pendukungnya.

"Harus ada semacam musyawarah sama mereka. Berdialog, berbincanglah dengan mereka,” ujar Siti. “Karena di tataran makro, ada kebutuhan tentang isu masalah krusial kita adalah kebangsaan, dan keumatan. Lalu bagaimana kita menyelesaikan disharmoni ini di rezim Pak Jokowi. Pelibatan secara atensi, gagasan dari mereka," paparnya.

Selepas pengumuman pemenang Pilpres 2019 akhir Juni lalu oleh Mahkamah Konstitusi, muncul tekanan dari banyak pihak agar Jokowi bertemu dengan Prabowo untuk meredakan suasana. Namun terbukti, banyak pihak juga yang enggan berdamai dan terus meruncingkan kebencian.

Kalau begini terus, Pilpres 2024 bakal tak banyak berubah. Lagu lama [baca: sentimen anti-Cina, komunis, LGBTQ] akan jadi jualan buzzer, laiknya kaset usang yang diputar terus menerus.