mitos

Penyihir Abad Pertengahan Ternyata Sering Dituduh Mencuri dan Memelihara Penis

Dalam buku yang terbit di Abad 15, pastor Heinrich Kramer mengklaim perempuan yang mempraktikkan ilmu sihir dapat menghilangkan alat kelamin laki-laki.
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
03 Mei 2020, 2:00am
Gambar penyihir perempuan naik sapu terbang
Ilustrasi penyihir perempuan di Eropa Abad Pertengahan. Foto via Wikimedia Commons

Jauh sebelum ada yang namanya sunat, lelaki sudah lama khawatir kehilangan penis mereka. Konon katanya, alat kelamin mereka bisa dicuri penyihir.

Mitos ini dijelaskan dalam buku pedoman berburu penyihir, Malleus Maleficarum, yang ditulis oleh seorang inkuisitor Katolik Heinrich Kramer pada abad ke-15. Banyak sejarawan mencap Malleus Maleficarum sebagai naskah menggelikan dan misoginis yang memicu pembunuhan sadis terhadap perempuan dituduh penyihir. Dalam The Salem Witch Trials Reader, Frances Hill menggambarkannya sebagai “buku paling menakutkan dan menjijikkan yang pernah ada.”

Malleus Maleficarum sarat akan kegelisahan terkait hasrat seksual perempuan. Sebagaimana ditulis Moira Smith dalam kajian Penis Theft in the Malleus Maleficarum, “Sebagian besar tindak kejahatan (maleficia) yang dikaitkan dengan penyihir mengandung unsur seksualitas. Misalnya seperti bersetubuh dengan iblis, mempromosikan aborsi, menyebabkan kemandulan dan kematian bayi, dan menghalangi hubungan seksual antara suami istri.”

Pada Abad Pertengahan, penyihir dituding menggunakan ilmu mereka untuk merusak dan mencuri penis. Menurut Smith, buku Malleus Maleficarum menguraikan tiga studi kasus penyihir secara ajaib menghilangkan penis laki-laki. Dalam dua kasus pertama, penis lelaki disembunyikan dengan ilusi magis. Penyihir “bisa mencuri alat kelamin laki-laki,” tulis Kramer, “... dengan cara menyembunyikannya pakai ilmu sihir.”

Kasus ketiga menceritakan tentang fenomena penyihir memelihara penis dan rutin memberikannya gandum atau biji-bijian bergizi lainnya:

Bagaimana dengan para penyihir yang mencuri penis dalam jumlah besar—bisa sampai 20-30 buah—dan mengurungnya di dalam sangkar burung, serta memberikan gandum dan biji-bijian lainnya untuk dimakan? Banyak yang sudah menyaksikan praktik ini, dan orang-orang juga sering membicarakannya. Katanya penyihir mencuri pakai ilusi, karena mereka yang bisa melihat [penisnya] tertipu dengan cara ini.

Kramer lebih lanjut menceritakan perjalanan seorang lelaki yang ingin mendapatkan kembali alat kelaminnya. Orang itu “mendekati seorang penyihir” yang menyuruhnya untuk “memanjat pohon tempat menyimpan penis, dan memilih sesuka hatinya.” Sayang sekali, dia menerima penolakan setelah memetik penis berukuran besar. Penis itu “milik pastor paroki”, katanya.

Tumbuhan berbentuk Gonad umum ditemukan pada Abad Pertengahan. Ahli sejarah Johan J. Mattelaer menulis dalam artikel yang diterbitkan pada 2010 di Journal of Sexual Medicine, “Pohon penis telah menjadi fenomena selama akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16.” Menurut penelitiannya, pohon ini tumbuh subur di Eropa. Naskah abad ke-14 yang berbahasa Prancis menyertakan dua gambar biarawati memanen penis dari pohon dan menyembunyikannya di dalam jubah mereka.

Ukiran kayu dari awal abad ke-15 yang disimpan di museum Jerman menggambarkan perempuan mencabut penis di saat kekasihnya mempelajari pohon vulva. Lalu ada juga lencana dekoratif di Belanda yang menunjukkan “sepasang kekasih berhubungan intim di bawah pohon penis, kemungkinan mereka diawasi voyeur.”

in-the-middle-ages-witches-allegedly-kept-disembodied-stolen-penises-as-pets-body-image-1474311931

Mural pohon penis yang ditemukan di Toskana. Foto via Wikipedia.

Pada 2000, arkeolog menemukan mural pohon penis di Toskana. Berasal dari abad ke-13, mural besar itu menggambarkan pohon yang dipenuhi alat kelamin laki-laki. (“Pohon penis sungguhan!” tutur Mattelaer dengan riang.) Semua penisnya “sangat besar dan...sedang ereksi.” Delapan perempuan berdiri di bawah pohon.

Dua di antaranya memperebutkan penis, sedangkan seorang perempuan sibuk mengambilnya dengan tongkat. Perempuan di sebelah mereka tampak tidak terlibat, tapi jika diperhatikan secara teliti—menurut Mattelaer—"ada buah penis yang menonjol dari bokongnya."

George Ferzoco, direktur Pusat Riset Toskana, berpendapat mural tersebut merupakan "karya seni pertama yang menggambarkan perempuan sebagai penyihir", mengutip cerita rakyat Toskana tentang penyihir yang suka memelihara penis di kandang burung.

Kramer menulis, “Ilmu sihir berasal dari nafsu seksual, yang tak pernah terpuaskan pada perempuan.” Pada akhirnya, keberadaan pohon penis dan hubungannya dengan penyihir menimbulkan pertanyaan: Siapa lagi yang butuh laki-laki kalau sudah ada pohon berbuah penis?

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly