Iklan
Balapan

Sejarah Evolusi Pit Stop Formula 1 Sepanjang 60 Tahun Dirangkum Satu Video

Dari awalnya makan waktu 67 detik, kini rekor durasi pit stop tercatat di bawah dua detik. Gokil.

oleh Derek Mead
31 Desember 2018, 6:00am

Foto aktivitas Pit stop dari arsip F1

Ada satu pepatah dalam kancah balap mobil: kemenangan dalam tiap balapan diraih di pitstop. Akan tetapi, pepatah ini tak berlaku sepanjang sejarah panjang balapan mobil. Pasalnya, pit stop yang diselenggarakan dalam tempo-tempo sesingkat-singkatnya oleh pada mekanik yang punya kegesitan bak atlit ini adalah hasil dari evolusi panjang pit stop yang jarang dibicarakan.

Sampai dekade ‘90, tim-tim NASCAR masih berusaha menyempurnakan seni pemanfaatan pit stop. Dalam sebuah artikel yang terbit pada 1997, Monte Dutton dari Herald-Journal menulis bahwa tim-tim elit NASCAR yang umumnya beranggotakan lima sampai enam kru mampu mengerjakan mobil pembalap mereka lebih cepat 1,5 sampai 2 detik agar pembalap mereka bisa kembali masuk track balapan di depan lawan-lawannya.

Saat itu, kru yang paling cepat adalah Jeff Cordon dan para “Rainbow Warriors.” Mereka jadi kru pit stop pertama di kancah NASCAR yang kondang karena kegesitannya. Rainbow Warriors bahkan punya jadwal latihan khusus untuk mepertahankan kecepatan mereka bekerja di pit stop.

Dalam kancah Formula 1 (F1), yang kerap dianggap sebagai puncak olah raga balapan mobil, pit stop sudah mengalami evolusi selama sekian dekade. Saking panjanya sejarah evolusi pit stop, kalian akan merasa video ini di atas ini agak ganjil. Di dalamnya, kalian bisa menyaksikan Bill Holland masuk pit stop dalam balapan Indianapolis 500 pada 1950—tahun yang sama ketika kompetisi F1 pertama kali digelar.

Perhatikan deh, hanya ada empat kru—itu sudah menghitung pengendara mobil yang masa itu harus berperan ganda sebagai mekanik secara bersamaan—yang diperbolehkan berada di dalam pit stop. Penggantian ban dengan kecepatan yang lumayan tinggi sudah bisa dilakukan berkat teknologi hub knock-off. Meski begitu, para kru butuh 67 detik untuk membereskan sebuah mobil—termasuk lamban untuk standar balap F1 modern.

Bandingkan dengan pit stop Ferarri dalam video berikutnya. Rekaman ini diambil pada 2003 dalam sebuah balapan di Melbourne. Jelas sekali jika aturan pit stop sudah jauh berubah. Jumlah kru dalam pit stop melonjak tajam. Plus, mobil tak lagi harus menunggu untuk diisi bahan pakarnya. Apa pasal? Ya karena sejak 2010, aturan F1 melarang pengisian bahan bakar selama balapan berlangsung.

Tentu saja, waktu pengerjaan sebuah mobil lebih molor saat pengisian bahan bakar selama balapan belum dilarang. Walau begitu, rata-rata durasi pit stop tak pernah menyentuh angka 50 detik. Menurut catatan Wikipedia, yang ingatannya lebih topcer dari saya, pit stop umumnya hanya memakan waktu enam sampai 12 detik saja di akhir tahun 2000an. Panjang pendeknya durasi pit stop saat itu bergantung seberapa banyak bakar yang diperlukan sebuah mobil.

Pengisian bahan bakar di pit stop tentunya menambah elemen krusial dalam strategi balapan. Pembalap dan krunya harus memperhitungkan apakah memenuhi tangki bahan bakar saat masuk pit stop atau sebaliknya melewatkan pengisian bahan bakar agar bisa cepat masuk sirkuit balapan lagi. Di sisi lain, proses pengisian bahan bakar kadang bisa dimanfaatkan untuk melewati lawan. Lebih dari itu, jika dilakukan dengan grasa-grusu dan kurang seksama, pengisian bahan bakar bisa menimbulkan kecelakaan, seperti yang ditulis oleh F1 Elvis.

Kebakaran di pit stop terjadi beberapa kali pada 1983. Penyebabnya sama: sebuah tim berusaha memompakan sebanyak mungkin bahan bakar ke dalam mobil dan buru-buru mencabut selangnya. Yang jadi perkara, saat itu bahan yang digunakan adalah bahan bakar roket yang gampang terbakar. Setahun kemudian, pengisian bahan bakar di tengah balapan dilarang. Akibatnya, penekanan akan pentingnya pit stop jadi berkurang, pembalap dan timnya lebih berpikir keras untuk menemukan cara mujarab menghemat penggunan bahan bakar selama balapan.

Sepuluh tahun berselang, demi membuat balapan F1 kembali menggairahkan, pengisian bahan bakar selama balapan sekali lagi diperkenalkan. Imbasnya, masing-masing tim F1 kembali mencari cara untuk mempercepat durasi mobil mampir di pit stop.

Lalu, pada 1994, terjadi sebuah kecelakaan mengerikan pada German Grand Prix. Badan Jos Verstappen dari tim Benneton dilalap api setelah rig pengisi bahan bakar—yang sudah dirancang untuk memompakan dengan kecepatan tinggi—menyemburkan bahan bakar ke mobilnya.

Kini, meski pengisian bahan bakar kembali dilarang, balapan F1 modern tetaplah perlombaan yang hasilnya ditentukan dalam sepersekian detik di pit stop. Jelas, masih ada penekanan untuk membereskan mobil yang masuk pit stop secepat mungkin. Ini kentara dalam jumlah kru yang nangkring di pit stop.

Selain sepasang pemegang dongkrak, lollipop man (yang bertugas mengawasi proses pengerjaan mobil dan memberi aba-aba kapan pembalap bisa meninggalkan pit stop), satu orang bertugas memadamkan api jika terjadi kebakaran, ada 12 0rang yang ditugaskan untuk mengganti ban. Berikut rinciannya: empat orang pertama berdiri di tiap sisi band untuk mencopot ban, empat orang lagi yang memasang band baru dan empat orang lainnya yang bertugas mengendurkan atau mengencang baut penahan ban.

Namanya juga balapan mobil bermesin jet, kecepatan adalah segalanya. Makanya, bahkan desain hub dan baut Formula 1 didesains sedemikian rupa menghemat sepersekian detik dalam proses penggantian ban di dalam pit stop. Jika dibandingkan dengan pit stop era Bill Holland, pit stop balapan F1 masa kini adalah sebuah

kerja tim yang sangat efisien. Semua gerakan—sekecil apapun itu—penting artinya dalam menghemat penggunaan waktu di pit stop. Silakan lihat perbandingan durasi pit stop super cepat tim McLaren dan durasi pit stop tim Red Bull pada German Grand Prix 2012. Seperti yang dipaparkan dalam sebuah artikel Jalopnik, catatan waktu pit stop MacLaren saat itu rata-rata cuma satu detik lebih cepat dari catatan tim lainnya.

Setahun kemudian, rekor durasi pit stop ini dipangkas menjadi di bawah dua detik saja oleh Red Bull. Ingat, waktu sekejap itu digunakan untuk mengganti empat band mobil balap yang panas di bawah tekanan yang sangat tinggi dengan nyaris 20 orang kru yang bekerja bersama-sama. Ini jelas pekerjaan—jika tidak bisa disebut seni— luar biasa yang telah disempurnakan selama beberapa dekade.

Rasanya susah membayangkan bakal ada tim yang bisa menajamkan rekor yang dicapai Red Bull. Tapi, F1 adalah balapan serba kilat, bukan tak mungkin di masa depan, durasi pit stop sangat mungkin jadi lebih cepat lagi.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard