Kesehatan Mental

Begini Rasanya Berpacaran Sama Orang yang Punya Kepribadian Lebih dari Satu

Aku harus mendapatkan kepercayaan dari ke-31 kepribadiannya.
17 April 2020, 7:08am
Ilustrasi bayangan orang
Ilustrasi bayangan orang via Pixabay.

Saat memutuskan untuk berpacaran dengan Javier, aku membatin apakah aku sudah dibutakan oleh cinta. Pacaran sama orang berkepribadian ganda pasti enggak mudah, tapi aku sudah keburu tergila-gila dengan Javier. Aku enggak bisa menolak saking naksirnya.

Aku masih 20 tahun waktu itu. Aku bisa saja mencari cowok lain di Tinder; memacari orang yang lebih gampang dimengerti. Tapi aku selalu penasaran dengan kompleksitas. Aku menyukai Javier yang penuh misteri, serta kecerdasan, ketampanan dan antusiasmenya yang tiada henti. Ya, aku terlalu naif. Enggak sadar betapa sulitnya menjalin hubungan bersama pengidap Gangguan Identitas Disosiatif (DID) atau Kepribadian Ganda. Tapi, justru dari sinilah aku belajar banyak tentang cinta.

Mengenal kepribadian Javier bagaikan belajar bahasa asing. Dia memiliki 31 “alter” (kepribadian alternatif), yang semuanya dinamai dengan angka. Beberapa memiliki jenis kelamin dan umur yang berbeda dari tubuh fisik Javier, sedangkan lainnya mengaku bukan manusia. Mereka dewa, iblis dan hantu.

Seksualitas mereka pun berbeda-beda, dan menyukai orang yang berbeda pula. Ini menambah kerumitan dalam hubungan kami. Lama-kelamaan, aku semakin akrab dengan kepribadian Javier karena sering mengobrol dan menghabiskan waktu bersama mereka masing-masing. Aku bahkan bisa langsung tahu kapan kepribadiannya berubah. Menjalin hubungan dengan alter Javier cukup ribet. Aku cuma bisa berinteraksi dengan satu kepribadian dalam satu waktu, tapi semua alter Javier bisa mengamatiku kapanpun mereka mau.

Tak pernah ada momen membosankan bersama Javier. Terkadang menyenangkan, tapi di waktu lain mampu membuatku frustrasi. Contohnya ketika kami kencan pertama di restoran Prancis. Saat sedang makan malam, Javier mendadak berubah jadi anak-anak bernama “Two”. Padahal aku sudah berencana menciumnya malam itu, tapi enggak jadi.

“Two” sangat menyukaiku, makanya dia sering muncul. Javier bilang cuma alter Two yang naksir denganku. Aku memastikan hubunganku dengan Two bersifat platonis, karena aku enggak mau bersikap romantis dengan seseorang yang bertingkah seperti anak kecil.

Kegagalan menjalin hubungan percintaan dengan kepribadiannya yang banyak menjadi alasan hubungan kami tak bertahan lama. Kepribadian Javier yang lebih gelap menilaiku secara negatif. Aku pernah menerima pesan berisi sumpah serapah darinya. Biasanya aku akan memutus kontak dengan orang-orang yang seperti itu, tapi dengan Javier, aku memakluminya. Aku merasa harus membangun kepercayaan dengan mereka, termasuk menceritakan rahasiaku. Aku kecewa karena melanggar batasanku sendiri. Dari sini, aku belajar untuk tak lagi mengabaikan nilai-nilai yang aku junjung demi diterima orang lain.

Tak ada yang tahu kenapa Javier bisa seperti itu. Pada umumnya, DID muncul karena trauma hebat. Seseorang membentuk kepribadian baru untuk mengatasinya. Aku selalu berharap Javier bisa sembuh, tapi enggak ada obatnya. Gangguan Identitas Disosiatif hanya bisa ditangani dengan terapi bicara (yang dapat membantu alter bekerja sama) dan pengobatan.

Orang tua Javier berjuang keras memahami alasan putranya mengembangkan DID. Gangguan itu datang tiba-tiba, beberapa bulan sebelum dia menjadi pacarku. Mereka sangat penyayang dan enggak pernah melakukan Javier semena-mena, jadi susah menentukan penyebabnya. Suatu malam, ibunya bercerita dia curiga gangguan yang dialami Javier berasal dari trauma terkait medis di masa kecil. Meski langka, seseorang dapat mengembangkan DID dengan cara ini.

Javier bisa mengatasi keadaan ini dengan baik. Isi otak dia mirip seperti film Inside Out, katanya. Semua kepribadian Javier akan berkumpul dan membuat keputusan di “ruang rapat”.

Terlepas dari mekanisme koping ini, Javier memiliki keinginan bunuh diri selama kami berpacaran. Beberapa alternya terus memikirkan bunuh diri, sedangkan lainnya enggak. Satu pihak alter akan ‘berkampanye’ menarik dukungan dari kepribadian yang berlawanan. Aku sendiri harus menyadarkannya beberapa kali. Gagasan bunuh diri adalah gejala DID yang paling umum. Sekitar 70 persen pengidap DID setidaknya mencoba bunuh diri sekali. Pada akhirnya, aku enggak bisa benar-benar memahami rasa sakit emosional yang dialami Javier.

Hubungan kami memang singkat, tapi aku bersyukur telah menjalaninya. Aku belajar untuk lebih menerima diri sendiri. Masyarakat menganggap Javier aneh, tapi dia dan semua kepribadiannya mampu mempertahankan kepercayaan diri mereka. Javier mengajarkanku bahwa menjadi diri sendiri sangatlah penting, walau orang lain menganggapmu rapuh.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia