new neighbours

Playlist Lagu Ini Membantuku Bertahan Selama Kabur dari Suriah ke Yunani

Ditulis sendiri oleh pengungsi Perang Suriah, yang mengaku menggemari metal sejak berusia 10 tahun. Dimmu Borgir, Behemoth, hingga Cradle of Filth menjaga kewarasannya.

oleh A. from Syria
04 Juni 2017, 9:00am

Ilustrasi oleh Ana Jaks.

Artikel ini adalah bagian seri New Neighbours. Dalam seri tulisan ini, kami membuka kesempatan kepada para pengungsi yang tersebar di seluruh Benua Eropa menjadi penulis tamu untuk VICE.com. Klik di sini jika ingin membaca pengantar redaksi untuk New Neigbours.


A.* merupakan pemuda 19 tahun dari Suriah. Dia kini terpaksa tinggal di sebuah guesthouse dikelola LSM Yunani, Praksis, bertempat di Athena.

Sejak umur sepuluh tahun, aku sudah keranjingan musik metal. Band metal pertama yang kudengarkan adalah Disturbed. Saat itu, aku sedang menjajal berbagai genre musik dan dalam waktu singkat, aku langsung sadar kalau heavy metal adalah genre yang pas untukku. Menurutku, musik metal bisa bikin pikiranku rileks walaupun banyak yang bilang musik metal itu berisik dan mengganggu. Selain menenangkan, berkat rutin mendengarkan lagu-lagu metal, kemampuan berbahasa Inggrisku maju pesat.

Aku suka beragam jenis musik metal dari segala menjuru dunia. Ketika aku kabur dari Suriah menuju Yunani, aku mendengarkan banyak lagu metal yang membuatku merasa baikan selama perjalanan. Aku menyusun semacam daftar lagu terfavorit. Ternyata hasilnya adalah sebuah mixtape internasional. Tiap band dan tiap lagu punya karakter dan gaya tersendiri. Dimmu Borgir, misalnya, sering menunjukkan kepedulian terhadap beragam masalah sosial sementara lagu-lagu Aeternam mengangkat keragaman budaya di negara-negara seperti Mesir, Yordania, dan Suriah. Lirik mereka ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab. lagu-lagu Swallow the Sun terasa lebih murung, tapi kalau aku sudah mendengarkannya semua masalahku segera lenyap. Aku juga tertarik dengan teatrikalitas dari band funeral doom metal Ahab, yang namanya diambil dari novel terkenal Moby-Dick.

Tentu aku juga suka jenis musik lainnya—seperti dubstep, country, atau trap. Di bawah ini kususun daftar lagu yang menemaniku selama perjalanan dari Suriah menuju Yunani. Kalian juga bisa mendengarkannya lewat Spotify atau Apple Music.


Dimmu Borgir
"Black Metal"

Dimmu Borgir adalah satu band pertama yang bikin aku terobsesi. Aku punya semua album mereka dan aku suka setiap single yang mereka buat. Lagu yang aku pilih ini selalu mengingatkanku saat awal-awal aku suka metal. Bisa dibilang, lagu ini mengubah hidupku.

Aeternam
"Descent of God"

Setiap aku mendengarkan band ini, aku selalu terkenang temanku Arrab, yang mengenalkanku pada Aeternam. Saat ini, dia masih di Damaskus, sementara aku sudah sampai di Yunani. Kami melalui banyak peristiwa bersama. Kadang kalau ingat betapa jauh kami terpisah bikin hatiku trenyuh. Tapi aku masih menyimpan harapan kami bakal bersama mendengarkan lagu ini beberapa tahun kedepan, tentunya setelah kami berhasil melupakan perang yang terjadi di kampung halaman kami.

Swallow the Sun
"Solitude"

Lagu ini selalu memberiku harapan. Solitude pernah jadi lagi kesayangan temanku. Kini kawanku itu telah dipindahkan ke Siprus sebagai bagian dari program relokasi Uni Eropa. Dia akan memulai hidup baru di sana. Aku juga ingin seperti dia, tapi aku tahu prosesnya makan waktu. Tiap kali aku menyetel lagu ini, aku merasa semuanya mungkin terjadi.

Ahab
"O Father Sea"

Kalau hidup sedang terasa berat-beratnya, aku langsung mendengarkan lagu ini. Tiap kali aku geram, kecewa dan merasa sedih, aku langsung memencet tombol play, memainkan lagu ini dan lekas merasa tenang. Dalam perjalanan menuju Yunani, aku singgah di Raqqa [Kota di Suriah yang diklaim ISIS sebagai ibukota] untuk beberapa saat. Aku takut setengah mati bakal tertangkap. Aku memainkan lagu ini agar bisa merasa rileks.

Skrillex
"Koyoto"

Ketika lagu ini diputar, aku pasti bakal joget.

Kitty, Daisy & Louis
"Never Get Back"

Sebelum aku mengenal band ini, aku tak pernah sekalipun mendengarkan genre musik yang mereka miankan. Kedengarannya seperti campuran country, blues dan rock 'n' roll. Kini, tiap kali aku mendengarkan salah satu lagu mereka, aku sadar dulu aku terlalu keras kepala, berpikir bahwa musik yang enak itu cuma metal.

System of a Down
"Toxicity"

Aku masih ingat banget pertama kali mendengar lagi ini enam tahun lalu. Seorang teman menyetel Toxicity dan aku langsung suka. Lagu ini mengingatkanku pada Dimitra, salah satu pekerja sosial di shelter yang aku tinggali di Athena. Dia sangat menyukai lagu ini. Tiap kali aku menyetelnya, kami selalu menyanyikan bagian "The toxicity of our city / Disorder" bersama-sama, berusaha meniru suara Serj Tankian. Kadang, aku acak saja memainkan lagu ini dan berteriak "Yang ini cuma buat kamu Dimitra!" ya semacam hobi kecil-kecilan kami berdua lah.

Trivium
"To Believe"

Dulu ketika masih bekerja di restoran milik pamanku di Suriah, aku biasa memainkan lagu ini saat beberes menjelang akhir shift. Aku bekerja di sana sepulang sekolah atau di akhir pekan untuk sekadar membantu-bantu paman. Kala itu, menyetel lagu ini keras-keras bikin waktu terasa cepat.

RIOT
"Sucker Punch"

Ketika terdampar di Moria Camp Pulau Lesvos bersama ribuan pengungsi lain, aku sering mendengarkan lagu ini dan lagu "Wizard" yang dinyanyikan Martin Garrix. Lagu-lagu ini bikin aku berpikir positif karena bisa membantu mengenyahkan masalah yang kuhadapi. Ada banyak masalah yang harus dilupakan barang sejenak dari kondisi hidup camp yang menyedihkan. Kami juga cuma bisa duduk-duduk menunggu dipindahkan ke shelter lain.

Cradle of Filth
"From the Cradle to Enslave"

Lagu ini mengingatkanku pada ibu dan menerbitkan senyum di bibir. Ibu sangat membenci lagu ini dan langsung menghardikku tiap kali aku memainkannya. Dia selalu memintaku berhenti mendengarkan musik sampah ini, tapi aku malah menaikkan volumenya dan memainkannya tanpa henti. Aku tak akan lupa raut mukanya yang lucu. Beliau masih di Suriah sekarang. Namun, aku yakin kalau kami bertemu lagi beberapa tahun ke depan, aku akan memainkan lagu ini, aku yakin kali ini Ibu akan ikut tertawa.

Behemoth
"Ov Fire and the Void"

Satu lagu lagi yang kumainkan kalau hidup sedang berat-beratnya. Tiap kali aku terpikir proses administrasi yang harus aku lalu, atau tentang wawancara untuk mendapatkan suaka atau tentang apakah Uni Eropa akan memberikan status pengungsi, aku jadi sangat gugup. Mendengarkan lagu ini membuat aku tenang dan bisa mengalihkan pikiranku.

Suicide Silence
"Smoke"

Ini lagu pertama yang aku dengarkan setelah berhasil menyebrangi perbatasan antara Suriah dan Turki. Aku lega bukan kepalang—rasanya seperti sebuah beban berat baru saja diangkat. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan berkata pada diriku sendiri, "Kamu berhasil. Bagian tersulit sudah terlewati. Waktunya memulai hidup baru."

Black Veil Brides
"The Legacy"

Lagu ini mengingatkanku pada Dany, temanku yang masih tinggal di Suriah. Aku berusaha tak sering-sering memutar lagu ini karena aku sangat kangen Dany. Memikirkan nasibnya bikin aku sedih. Bukan perkara enteng terpisah jauh dari teman-temanmu dalam kurun waktu yang lama.


Musik sudah jadi bagian penting dari hidupku. Aku dulu hobi berlatih beatbox selama masih tinggal di Suriah. Aku fokus ke beatbox, temanku ngerap. Sekarang, aku sedang les gitar dan belajar memainkan lagu-lagu Yunani hingga musik rock. Rencana, nanti di masa depan, aku juga akan belajar bemain drum dan mengambil les menyanyi.

*Nama penulis disamarkan guna melindungi keselamatannya.

Tanda tangangi petisi UNHCR untuk mendesak pemerintah dari seluruh dunia memastikan masa depan yang aman bagi pengungsi di sini.

Ilustrasi oleh Ana Jaks.