Referendum Katalunya

Hujan Peluru Karet: Foto Saat Referendum Katalunya Diberangus Aparat Spanyol

Sedikitnya 844 orang serta 33 anggota polisi luka-luka akibat bentrokan pada hari pelaksanaan referendum kemerdekaan Katalunya akhir pekan lalu.

oleh Mònica Figueras
03 Oktober 2017, 5:54am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Spain

Minggu, 1 Oktober 2017, dilaporkan 2,26 juta warga Provinsi Otonom Katalunya memberikan suara mereka dalam referendum menuntut kemerdekaan. Pemerintah Spanyol di Ibu Kota Madrid menyatakan pelaksanaan referendum menyalahi konstitusi. Sikap pemerintah mendapat dukungan dari pengadilan tinggi Spanyol. Namun pemerintah Katalunya sama sekali tak gentar. Para pemilih mengular di berbagai tempat pemungutan suara yang disedikan. Antrean warga muncul sejak pukul 5 pagi, empat jam sebelum proses pemungutan suara dimulai.

Di beberapa TPS, polisi terang-terangan mencegah pemilih memberikan suara dengan melakukan penggeledahan dan penutupan paksa bilik suara. Mereka juga tak ragu melakukan kekerasan di beberapa TPS lainnya. Rekaman tindakan kekerasan polisi Spanyol seperti memukul massa pengunjuk rasa dengan tongkat baton, menendang, menjambat serta menyeret pemilih beredar di dunia maya. Sejauh ini, 844 orang dan 33 anggota polisi dirawat karana mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut.

Menurut petugas penyelenggara referendum, 90 persen dari 2,26 juta suara yang masuk mendukung kemerdekaan Katalunya. Sementara, 770.000 suara lainnya raib selama kerusuhan.

Mònica Figueras, fotografer asal Barcelona, berkeliaran di jalanan Barcelona untuk merekam apa yang terjadi di hari bersejarah bagi Katalunya itu. Silakan nikmati hasil jepretannya di bawah ini:

Warga Katalunya dan satuan polisi anti huru-hara berhadap-hadapan di salah satu TPS di Barcelona.
Jam 9 pagi: Polisi mendatangi sebuah TPS di dalam bangunan sekolah di Barcelona.
Para pengunjuk rasa menyanyikan 'Els Segadors', lagu kebangsaan resmi Katalunya
Polisi anti huru-hara menembakkan peluru karet ke arah pengunjuk rasa.
Seorang perempuan terisak setelah menjadi saksi mata tindakan kekerasan polisi.
Gadis dari Basque, wilayah otonom lainnya di Spanyol, memberikan dukungannya terhadap referendum kemerdekaan Katalunya
Bola karet yang ditembakkan polisi ke arah pengunjuk rasa dan pendukung referendum
Jam 11 siang: barisan pemilih mengantre di TPS yang dalam Perpus Kota Fort Pienc
Tiga gadis ini bermalam di sebuah TPS agar tidak ditutup paksa oleh polisi.
Antrean di TPS dekat Kota Barcelona.
Spanduk mendukung Katalunya berpisah dari Spanyol terpasang di balkon apartemen.
Jam 1.30 siang: seorang sukarelawan menjelaskan pada para pemilih bahwa sistem pemungutan suara lewat komputer telah ditutup.
Dua sejoli yang menyempatkan bercumbu sembari mengantre giliran memberikan suara.
Pemilih referendum bersedia mengantre di bawah guyuran hujan.
"Franco masih berkeliaran", grafitti ini menjelaskan trauma warga Katalunya, yang sejak era Diktator Franco dekade 1930-an sudah menuntut merdeka dari Spanyol tapi diberangus.
Pukul 6 sore: suasana di dalam salah satu TPS.