Iklan
Cuaca Panas

Banyak Gerak Justru Cara Cerdas Hadapi Cuaca Panas yang Sedang Menerjang Indonesia

BMKG bilang cuaca panas akan terus menguji rakyat Indonesia hingga akhir Oktober 2019. Apa aja sih yang perlu kita lakukan biar kepala enggak ikut panas? Pakar memberi solusinya.

oleh Ikhwan Hastanto
22 Oktober 2019, 10:00am

Warga Jakarta mengunjungi pantai saat cuaca sangat panas pada 2009. Foto oleh Arif Ariadi/AFP

Beberapa hari terakhir, sebagian penduduk Indonesia seolah-olah diberi kisi-kisi bagaimana rasanya hidup di neraka. Suhu superpanas membuat rumah-rumah tanpa pendingin ruangan menyesali keputusannya tidak investasi AC. Instastories temanmu pasti berisi keluhan disertai informasi suhu udara yang panas bertebaran di media sosial, mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Bali.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab cuaca panas ekstrem ini adalah pergerakan matahari berada di belahan Bumi selatan. Posisi semunya sedang dekat dengan Indonesia. Dampaknya, wilayah seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mendapat "kehormatan" jadi daerah dengan suhu panas melebihi biasanya. Situasi ini ditambah parah oleh kondisi atmosfer udara yang tengah kering, sehingga membuat absennya awan penghalang.

Sialnya, warga yang terdampak panas terik masih harus sabar setidaknya sampai seminggu ke depan, mendekati akhir Oktober 2019.

"Dalam waktu sekitar satu minggu ke depan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R. Prabowo dilansir Detik.

Banyak laporan suhu udara di berbagai wilayah mencapai 36-37 derajat Celsius sejak 19 Oktober lalu. Pada hari Minggu (20/10), suhu di Sulawesi malah tembus 38,3 derajat Celsius, tertinggi selama setahun ini. Di Yogya, telah beredar video di Twitter tentang seorang warga yang berhasil memanggang telur menggunakan terik matahari.

Meski udara panas bikin kita refleks nyari ruangan ber-AC untuk bernaung, Santiago Lorenzo, fisiologis dari Lake Erie College of Osteopthic Medicine di Florida, Amerika Serikat, justru menyarankan manusia agar lebih banyak bergerak untuk beradaptasi dengan cuaca panas.

"Hanya dengan satu atau dua sesi olahraga, badan kita sudah bisa beradaptasi. Semakin sering kita berolahraga, perasaan kita akan semakin membaik," ungkap Santiago dilansir Quartz.

Menurut Santiago, apabila kita aktif bergerak saat udara panas selama seminggu sampai sepuluh hari, kelenjar keringat kita akan terbiasa bekerja lebih keras untuk mendinginkan permukaan kulit. Jantung kita juga akan memompa darah lebih efisien ke seluruh jaringan tubuh, yang juga mendinginkan kulit.

Hasil riset ini ternyata memberikan manfaat untuk pengembangan metode latihan bagi para atlet. Pada eksperimen lanjutannya, Santiago melakukan penelitian kepada 12 atlet sepeda yang latihannya dilakukan di laboratorium dengan suhu 100 derajat Fahrenheit (setara 37,7 derajat Celsius, beda tipis sama kondisi udara kita sekarang) dengan kelembaban 30 persen.

Setelah berlatih di lab selama sepuluh hari, 12 atlet tersebut ternyata mengungguli dengan selisih 8 persen dari energi atlet lain yang berlatih di udara normal. Tuh, cuaca panas jangan jadi alasan buat bolos kantor dan memilih rebahan di kamar.

Tagged:
indonesia
The VICE Guide to Right Now
Berita
kesehatan
BMKG
Kegerahan
Suhu Ekstrem
Posisi Semu Matahari
Panas Terik