Iklan
Kompilasi Temuan Sains

Ternyata Kita Menilai Kepribadian Dengan Melihat Tipe Tubuh Orang Lain

Tubuh singset dianggap punya kepribadian berbeda dibanding mereka yang lebih chubby. Simak juga tiga hasil penelitian lainnya di artikel ini mengungkap banyak hal tak terduga dari tubuh manusia.

oleh Shayla Love
18 November 2018, 5:21am

Foto ilustrasi via Tonic

Tiap minggu, TONIC, situs bagian dari VICE.com membahas isu kesehatan dan psikologi, memantau perkembangan terbaru dari dunia sains. Kami menyajikan empat hasil temuan paling mengejutkan buat kalian, termasuk soal antibiotik, dampak aborsi, dan psikologi kita soal rasa sakit.

Manusia berasumsi tentang kepribadian orang lain dengan melihat tipe tubuh seseorang

In 2007, Psikolog Princeton Alexander Todorov menerbitkan laporan penilitian yang mengungkap cara orang menilai orang lain lewat rona wajah—serta impresi awal mereka—bisa digunakan untuk memprediksi 70 persen pemenang pemilihan senator dan gubernur negara bagian Amerika Serikat pada tahun 2006. Kita terbiasa menebak kepribadian seseorang lewat wajahnya, kata Todorov, baru setelah itu mengambil keputusan.

Namun, di luar sana, kita tak cuma berinteraksi dengan melihat wajah lawan bicara doang. Faktanya, kepala kita toh menempel pada tubuh kita. Dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Psychological Science, sejumlah peneliti mengamati macam-macam jenis kepribadian yang diasosiasikan dengan jenis bentuk tubuh tertentu.

“Sebelumnya, sudah umum diketahui bahwa tinggi dan berat tubuh seseorang memengaruhi penilaian sosial dan kepribadian sesroang,” kata Ying Hu, peneliti psikologi di University of Texas at Dallas. “Tapi, bentuk tubuh tak melulu cuma masalah tinggi dan berat. Fitur-fitur lain seperti kemolekan tubuh, tinggi lingkar pinggang dan lain-lain bisa diamati dan bisa kita gunakan untuk menebak-nebak kepribadian orang lain.”

Ying Hu dan kolaborator penelitiannya menciptakan 140 model tunuh yang realistis, 70 untuk laki-laki dan 70 untuk perempuan. Mereka lantas menemukan sifat-sifat aktif seperti “cerewet” atau “penuh semangat” diasosiasikan dengan bentuk tubuh yang lebih berisi. Sementara sifat-sifat pasif seperti “bisa dipercaya” atau “woles” dianggap lekat dengan jenis tubuh yang lebih persegi panjang—di mana lekuk tubuh terbagi rata dan garis pinggang tak begitu jelas.

“Sifat-sifat aktif mencakup sifat-sifat positif seperti ekstrovert dan penuh percaya diri serta sifat-sifat negatif seperti menyebalkan dan cerewet,” katanya. “Jadi, perempuan yang tubuhnya mirip buah pir dan lelaki yang bertubuh kekar seperti pahatan dianggap memiliki seperangkat sifat aktif daripada orang yang badannya tak begitu berbentuk. Prinsip mendasar ini berlaku baik pada laki-laki atau perempuan.” Para peneliti juga menemukan bahwa orang-orang dengan berat tubuh tinggi dinilai memiliki sifat-sifat yang kurang positif, seperti teledor dibanding mereka yang lebih langsing.

Tentu saja, penilaian berdasarkan bentuk tubuh ini memiliki konteks historis dan budaya spesifik dalam kehidupan kita. Dulu sekali, saat ketersediaan makanan belum semelimpah seperti sekarang ini, orang bertubuh gemuk dipandang dengan cara berbeda. Artinya, persepsi dan asosiasi yang kita lekatkan pada bentuk tubuh orang bisa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Mengenali konteks-konteks yang berlaku saat ini sangat penting, meski bukan melulu untuk kepentingan prediksi hasil pemilu di manapun.

“Kami harap temuan in membantu kita agar lebih awas bahwa cara kita menilai orang lain secara spontan terpengaruh stereotipe yang berkaitan dengan bentuk tubuh mereka dan agar kita bisa menghindari penilaian-penilaian yang tak berdasar seperti itu,” kata Hu.

Kalau dari awal kita berpikir bakal sakit, akan mempengaruhi rasa sakit pas kejadian beneran

Apa yang kita rasakan sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang kita harap akan rasakan, dan pada dasarnya, beginilah cara kita belajar: jika sebuah pengalaman baru menegaskan ekspektasi dan kepercayaan yang kita pegang sebelumnya, orang akan lekas percaya daripada pengalaman yang merongrong apa-apa saja yang kita percayai.

“Ini yang disebut sebagai “bias konfirmasi.” Kita cenderung memilih informasi yang konsisten dengan apa yang kita percaya dan mengesampingkan informasi yang berlawanan dengan kepercayaan kita,” jelas Marieke Jepma, psikolog kognitif dari University of Amsterdam.

Pada prakteknya, bias konfirmasi bisa menguntungkan, seperti pada efek placebo atau merugikan apalagi jika bersinggungan dengan rasa sakit. Dalam sebuah penelitian baru yang dimuat di Nature Human Behavior, Jepma dan sejumah peneliti lainnya mengamati sejauh mana ekspektasi memengaruhi persepsi kita akan rasa sakit, baik lewat laporan subyektif atau brain imaging.

Dalam penelitian mereka, para partisipan diajarkan untuk mengasosiasikan petunjuk visual dengan panas bertemperatur tinggi atau rendah. Jadi, saat melihat input visual tertenti mereka akan mengekspektasikan rasa sakit tingkat rendah atau sebaliknya. Setelah itu, petunjuk visual kembali diperlihatkan pada para peserta. Bedanya, kali ini tak dikaitkan dengan tinggi atau rendahnya panas. Para periset meminta subyek untuk memberitahu seintens apa rasa sakit yang mereka harapkan dari tiap petunjuk gambar dan seintens apa rasa sakit yang benar-benar mereka rasakan.


Tonton dokumenter VICE mengenai metode pengobatan tak lazim untuk mengatasi depresi:


Para peneliti menemukan rasa sakit yang dialami oleh subyek berbanding lurus dengan ekspektasi mereka. Saat para peneliti memeriksa aktivitas otak subyek, mereka menemukan panas dengan intensitas yang sama bisa memicu aktivitas yang lebih kuat dalam “jaringan rasa sakit” otak saat mereka mengharapkan rasa sakit yang intensitasnya tinggi daripada sebaliknya.

“Temuan kami bahwa ekspektasi memengaruhi jaringan dalam otak yang memproses rasa sakit menunjukkan bahwa ekspektasi punya efek ‘yang mendalam’ dan sangat memengaruhi proses penciptaan rasa sakit dalam otak,” terang Jepma. “Sejumlah penelitian sebelumnya sudah membuktikan jika ekspektasi akan rasa sakit bahkan bisa memengaruhi aktivitas yang dipicu rasa sakit di tulang belakang. Jadi, bisa disimpulkan, subyek penelitian kami tak ‘mengarang’ apa yang mereka rasakan.”

Temuan ini juga memiliki implikasi tertentu bagi penderita rasa sakit kronis atai mereka yang berisiko menderita rasa sakit kronis, ujar Jepma. Sayang, penelitian yang dilakukan Jepma pada subyek yang tak memiliki rasa sakit kronis. Jadi, perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dugaan ini.

“Saat seseorang memilii kepercayaan negatif tentang rasa sakit, efeknya akan menganggu proses penyembuhan,” Katanya. “Di sisi lain, sebaliknya bisa juga terjadi: ekspektasi positif bisa mengurangi rasa sakit yang dialami seseorang dan mempercepat penyembuhan sehingga lebih bisa bertahan dari rasa sakit kronis.”

Penelitian menyimpulkan pelaku aborsi belum tentu terjangkit depresi

Selagi absosi masih jadi lahan perdebatan di ranah politik, para peneliti berusaha mendesain penelitian tentang efek aborsi pada kesehatan jasmanu dan mental. Kebanyakan penelitian mengenai aborsi tak memerhatikan grup-grup pembanding atau dibuat secara restrospektif. The Turnaway Study yang dikerjakan olej Advancing New Standards in Reproductive Health (ANSIRH), sebuah kelompok riset di University of California, San Francisco (UCSF), adalah penelitian pertama yang mengamati dampak permintaan aborsi yang ditolak dan dikabulkan pada ibu dan anak.

Beberapa di antaranya tak diizinkan menggugurkan kandungan karena sudah melewati batas gestational—artinya kandungan sudah terlalu tua—dan akhirnya memilih meneruskan kehamilannya. Perempuan-perempuan ini kemudian dibandingkan dengan perempuan-perempuang yang berada di bawah batas gestational dan diperkenakan menjalani proses aborsi. “Ternyata, kondisi perempuan yang berada di bawah atau atas batas gestational ternyata sama di minggu-minggu pertama kehamilannya,” ujar Foster.

Mereka menemukan bahwa perempuan yang diperkenankan menggugurkan kandungan tak lebih berisiko mengalami deperesi daripada mereka yang tak diperkenankan melakukan aborsi. Selang lima tahun kemudian, 95 persen dari perempuan ini mengakui menggugurkan kandungan adalah keputusan yang tepat.

“Perempuan punya banyak asalan untuk mengakhiri sebuah kehamilan yang tak diinginkan—entah itu tak punya cukup uang untuk membesaran anak, ingin lebih konsentrasi membesarkan anak yang sudah mereka lahirkan atau ingin menunda punya anak sampai kondisi mereka lebih baik serta atau ingin memenuhi tujuan hidup lainnya,” kata Foster. “Dan kami menemukan bahwa perempuan-perempuan ini mengambil keputusan yang tepat di semua area. Perempuan yang permintaan aborsinya ditolak dianggap hidup dalam kondisi yang lebih buruk dibandingkan mereka yang diperkenankan melakukannya—ukurannya adalah kondisi ekonomi mereka, kesejahteraan anak mereka, kemampuan mewujudkan rencana mereka seperti punya anak saat kondisi mereka lebih baik.”

Mereka yang tak diizinkan menjalani prosedur aborsi, menurut temuan penelitian ini, punya peluang empat kali lebih besar hidup di bawah garis kemiskinan di AS, lebih rentan mengalami komplikasi serius di akhir masa kehamilan, seperti eclampsia dan kematian, lebih berpeluang hidup bersama pasangan yang abusive, lebih rentan dihantui kecemasan dan memiliki rasa percaya diri yang rendah tak lama setelah pengajuan aborsi mereka ditolak, dan kemungkinan tak punya rencana untuk tiap tahun dalam kehidupan mereka, seperti dijelaskan para peneliti dalam penyataan resmi mereka.

“Para pembuat kebijakan yang berusaha mempersulit akses terhadap proses aborsi harus menyadari bahwa bahaya mengancam perempuan yang dipaksa meneruskan sebuah kehamilan tak terencana,” kata Foster. “Kondisi ini memengaruhi kesehatan fisik mereka, kesehatan dan ketentraman keluarga mereka dan kebahagiaan keturunannya.”

Minum antibiotik bisa memiliki dampak permanen bagi bakteri baik dalam sistem pencernaan kita

Kendati manjur untuk melawan infeksi bakteri, kini kita sudah mafhum bahwa apa yang dilakukan antibiotik tak terbatas pada membunuh bakteri patogen semata. Berbagai jenis antibiotik juga memengaruhi jutaan mikroba penting yang tinggal di saluran pencernaan kita.

Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan di Nature Microbiology memelajari apa yang sebenarnya terjadi pada bakteri dalam perut manusia saat kita mengonsumsi antibiotik. Dalam penelitian tersebut, 12 pemuda sehat diberikan kombinasi tiga antibiotik. Setelah itu, mikrobioma ke-12 orang tersebut diperiksa dengan DNA sequencing untuk mendeteksi gen dan bakteria dalam bakteri perut mereka.

Para peneliti menemukan bahwa dalam enam bulan, mikrobioma dalam tubuh 12 pemuda itu nyaris sudah berhasil memulihkan diri lewat sebuah proses yang berlangsung lamban—persis seperti proses reboisasi, menurut Sofia Forslund, ketua tim peneliti di Max Delbrück Center for Molecular Medicine, Berlin.

Selang satu setengah bulan setelah mengonsumsi antibiotik, mikrobioma dalam tubuh subyek hampir mencapai kondisi awal sebelum mengosumsi antibiotik. Akan tetapi, bakteri-bakteri yang pertama kembali, semisal E nterococcus faecalis dan Fusobacterium, lebih berpotensi menimbulkan infeksi. Sementra itu, sembilan spesies bakteri yang pernah ditemukan dalam perut para subyek baru kembeli setelah 180 hari.

Di akhir bulan keenam, sejumlah bakteri seperti menghilang secara pemanen. Beberapa di antaranya adalah bakteri yang diasosiasikan dengan ketahanan tubuh akan patogen tertentu dan kesehatan metabolisme. Tim peneliti ini sekarang tengah memfokuskan perhatian pada dampak jangka panjang antibiotik.

“Kita seyogianya sadar bahwa satu (atau lebih) perawatan dengan antibiotik bisa memusnahkan beberapa bakteri menguntungkan dari dalam saluran pencernaan kita dan kita bisa menduga bahwa bakteri patogen akan muncul memanfaatkan kekosongan ini setelah kita mengonsumsi antibiotik,” tegas Forslund. “Kita butuh metode pengobatan yang lebih ramah pada bakteri-bakteri ini.”

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic