Kesehatan Mental

Kenali Echoisme, Kondisi Langka Mempengaruhi Korban Pelecehan Sosok Narsis

Seseorang bisa menjadi echois karena sering direndahkan orang narsis. Para penyintas giat memperkenalkan kondisi mental ke khalayak agar semakin banyak orang sadar bahayanya.

oleh Clare Wiley
14 Desember 2018, 1:03pm

Ilustrasi oleh Tom Humberstone 

Sarah* pernah ikut tes wawancara kerja di sebuah agensi saat usianya masih 18. Selama wawancara, dia duduk membungkuk dan jantungnya berdebar hebat. “Saya masih ingat sang perekrut tanya, ‘Apakah kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak mau menatap mata saya?’”

Sebagian besar orang bakalan mengira kalau Sarah hanya gugup biasa karena baru pertama kali melamar kerja. Padahal, alasan sebenarnya jauh lebih mengerikan. “Saya tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Saya bukan siapa-siapa. Rasanya kayak enggak punya identitas,” tuturnya.

Sarah mengalami kekerasan emosional dari ibunya sejak kecil. Dia menggambarkan ibunya sebagai orang narsis yang ganas. Dunia kedokteran memang tidak mengakui narsisme ganas, berhubung gangguan ini termasuk ke dalam kategori diagnostik eksperimental. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki gangguan ini cenderung agresif, antisosial, dan egosentris. Hidup bersama mereka membuat masa kecil terasa menjengkelkan dan traumatis.

“Dia akan menuduh kalau saya sudah menusuk wajah saudara perempuanku dengan pulpen, atau membuatnya jatuh dari tangga. Padahal aku enggak ingat pernah melakukan itu,” kata Sarah, yang saat ini bekerja sebagai tutor bahasa. “Aku selalu disalahkan. Ibu pernah bilang, ‘Harusnya ibu menggugurkanmu saja dulu. Kamu benar-benar biang masalah.’ Saya cuma boleh pakai sedikit air kalau sedang mandi.”

Kekerasannya memasuki ranah seksual setelah dia beranjak dewasa. “Ibu mulai mencela bentuk tubuh saat saya sudah 10 atau 11 tahun. Dia suka bilang, ‘Dadamu rata banget, sih. Pantas saja enggak ada cowok yang mau pacaran sama kami.’ Ibu lalu tersenyum menyeringai. Dia kayak vampir. Puas kalau mangsanya sakit hati.”

Semasa hidupnya, Sarah sangat takut dengan ibunya. Dia hanya bisa diam dan menyembunyikan semua keinginannya. Dia tidak dapat memahami dirinya sendiri. Pada akhirnya, Sarah berubah menjadi echoist.

Echoisme dipopulerkan oleh psikolog Dr. Craig Malkin. Pada 2015, dia menerbitkan buku Rethinking Narcissism yang memperkenalkan kita pada ciri-ciri kepribadian ini. Istilah ini sebenarnya pertama kali diciptakan oleh psikoanalis Dean Davis dalam makalahnya pada 2005. Seseorang bisa mengembangkan sifat echoisme apabila terlibat dalam hubungan tak sehat dengan orang narsis. Pelakunya bisa saja pasangan, orang tua atau saudara kandungmu sendiri. Echoist biasanya sangat sensitif, welas asih, dan cerdas secara emosional. Mereka pribadi yang tidak enakan, dan selalu ingin menyenangkan orang lain.

Konsep echoisme diambil dari mitologi Yunani Narcissus dan Echo. Kita semua sudah tahu kisahnya yang terpesona pada bayangannya sendiri. Akan tetapi, tak banyak orang yang tahu soal Echo, peri yang tidak berbicara selain mengikuti kata-kata terakhir yang dia dengar.

“Echo mencintai Narcissus, tapi dia hanya bisa mengulang ucapannya,” kata Malkin. “Sama seperti Echo, echoist cenderung dekat dengan orang yang sangat narsis karena mereka tidak memiliki suaranya sendiri. Mereka akhirnya mengikuti kebutuhan dan perasaan orang narsis.”

Malkin menjelaskan bahwa pengidap gangguan kepribadian narsistik (NPD) adalah orang-orang yang eksploitatif, merasa paling istimewa, dan tidak memiliki empati. “Mereka selalu ingin merasa spesial, sehingga mereka akan berbohong, mencuri atau bermain curang agar kebutuhannya terpenuhi. Mereka tak peduli kalau ini merugikan orang lain.” Akibatnya, orang yang sensitif dan penuh empati bisa menjadi echoist apabila diperdaya oleh orang narsis semasa kecilnya. Malkin menempatkan echoisme di bagian bawah spektrum narsistik yang dia kembangkan. Echoist khawatir kalau mereka kelihatan cari perhatian, spesial, atau egois.

Hanya ada satu persen populasi yang didiagnosis NPD. Dengan kata lain, tak semua echoist akan berhubungan dengan seseorang yang menderita NPD. Akan tetapi, sangat memungkinkan bagi mereka untuk menjalin hubungan dengan individu yang memiliki kecenderungan narsistik yang lebih besar. Malkin memperkirakan sekitar 16 persen populasi menunjukkan perilaku narsis. Banyak orang narsis yang akan memiliki anggota keluarga yang mungkin telah terpapar dengan kekerasan emosional. Itu artinya konsep echoisme beresonansi dengan khalayak luas.

Tes online Malkin bisa digunakan untuk mengecek apakah seseorang termasuk narsis atau echoist. Tes ini telah diikuti lebih dari 100.000 kali. Bahkan di Reddit pun ada support group raisedbynarcissists yang memiliki 328.000 pengikut. “Kebanyakan korban mencari jawabannya di internet,” kata Michael. Michael memberitahuku bahwa dia membentuk forum online untuk para echoist dan penyintas kekerasan narsistik pada November 2017. Forumnya kini memiliki 21.000 anggota. “Forum adalah sumber validasi dan sarana edukasi yang bagus. Mereka juga bisa merasa saling memiliki di forum.”

"Orang-orang tak paham masalah ini. Kamu tak dipercaya berkali-kali. Saya bahkan hampir gila."

Orang narsis menyakiti korbannya dengan memanipulasi psikologi mereka, seperti mempermalukan, mengasingkan, gaslighting, dan menghalang-halanginya. “Salah satu pengalaman yang menghancurkan kepercayaan diri [echoist] adalah mereka merasa tidak dimanusiakan,” kata Malkin. “Kami menjadi bayang-bayang orang ini.”

“Saya dulu sering ke toilet untuk melihat diri sendiri di cermin,” kata Sarah, yang saat ini berusia 39 dan tinggal di Surrey bersama putranya. “Kedengarannya memang aneh, tapi saya pengin memastikan kalau saya masih ada. Saya tidak mengenali diri sendiri. Saya benci menjadi pusat perhatian. Saya ingin menghilang.”

Individu yang dibesarkan oleh orang tua yang narsis secara tak sadar akan mencari pasangan narsis saat tumbuh dewasa. “Ketika kamu benar-benar mengekang kepribadianmu sepenuhnya, kamu hanya akan merasa hidup jika mendapatkan perlakuan yang sama,” kata Sarah. “Dulu, waktu usia saya masih 20 tahunan, saya pernah berada di situasi yang menakutkan, dipukuli, menjalani hubungan seks yang kasar serta direndahkan. Parahnya, saya tak bisa meninggalkan kondisi ini begitu saja karena satu-satunya cara saya untuk hidup adalah menjadi ‘pelengkap’ orang yang narsis. Hubungan perkawanan dan percintaan yang narsistik inilah yang menghabiskan tenaga dan waktu waktu itu.”

Echoisme melulu tentang memuaskan orang lain, kata Maria Michael (55 tahun). Dia mengatakan bahwa mendiang ayahnya semasa hidup adalah lelaki narsis. “Ayah tak punya banyak empati, selalu mau menang sendiri dan selalu mengomel, menyalahkan saya. Gampangnya, dia selalu bisa bikin saya merasa semua yang saya lakukan salah. Jadi, saya berusaha lebih keras lagi untuk memuaskan beliau.”

“Saya dan saudara saya sangat awas dengan emosi orang lain. Kami sangat paham arti ekspresi raut muka orang karena ingin memastikan mereka bahagia,”

Konselor Arlo McCloskey mendirikan The Echo Society UK sebagai sebuah support group support group untuk para korban individu narsis. McCloskey menjelaskan bahwa menyenangkan orang lain “adalah perilaku yang kita pelajari dari ketakutan kita semasa kecil. Dari pengalaman ini, kita belajar untuk menyenangkan orang yang membuat kita takut dan ini akan berlanjut dalam pertemanan serta hubungan romantis saat kita dewasa.”

Dalam bukunya yang terbit pada 2018 Echoism, psikoterapis Donna Christina Savery mempertanyakan apakah perempuan lebih rentan terhadap perilaku echoistik saat dibesarkan oleh orang tua narsis. Savery menulis perempuan cenderung mencari pasangan yang narsis dan berperan sebagai pihak yang echoistik dalam hubungan mereka. Perempuan echoist lantas akan disingkirkan di lingkungan kerja dan dalam lingkaran pertemanan. Alhasil, mereka tak bisa mewujudkan semua potensi dalam diri mereka dan kerap merasa tak nyaman dalam pergaulan, terang Savery. Kendati begitu. Savery menyimpulkan dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk bisa sampai ke kesimpulan yang lebih holistik,

Data yang menunjukkan kecenderungan perempuan mengidap echoisme masih belum lengkap. McCloskey mengemukakan bahwa jika dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih sering mencari pertolongan untuk menghadapi kondisi yang dia hadapi dari masyarakat tempat mereka hidup. Namun, ini terjadi, menurutnya, karena laki-laki “cenderung malas mencari pengobatan untuk mengatasi masalah mentalnya.” (Savery tak punya data prevalensi echoisme di kalangan kaum LGBTQ atau non-biner).

Malkin merancang sebuah skala untuk mengukur tendensi echoisme pada 2.000 peserta penelitian. Hasilnya mengejutkan. “Saya menduga lebih banyak perempuan daripada lelaki yang mendapatkan skor yang tinggi. Ternyata tidak. Yang kami temukan adalah tak ada perbedaan berarti antara perempuan dan lelaki dalam kecenderungan echoisme.”

Semua orang yang bersedia saya ajak bicara sepakat bahwa kesadaran akan echosime dalam komunitas kesehatan mental yang lebih luas masih jauh dari cukup. “Tak ada jasa-jasa penunjang untuk kami di luar sana,” kata McCloskey. “Kaum echoist berusaha mencari pertolongan konselor, polisi bahkan pengadilan..tapi, biasanya mereka malah disalahpahami. Ini sangat merugikan sebab mereka mengalami invalidasi emosional dalam sebuah hubungan yang kurang sehat. Sudah begitu, mereka harus mengalami hal serupa dalam masyarakat.”

1544633291756-Maria-Michael
Maria Michael. Foto dari arsip pribadi

The Echo Society mengelola support group dan menyelenggarakan berbagai lokakarya. Salah satu fokus mereka adalah menciptakan batasan fisik, emosional sekaligus psikologis. “(Batasan yang dimaksud) adalah harga diri, ketegasan dan kenyamanan berkata ‘tidak,’” kata McCloskey. “Kami juga menyentuh hal-hal sederhana seperti perawatan diri. Para korban lupa merawat dirinya karena mereka terus-terusan mengurus seseorang yang narsis.”

Mendapati pengalamannya disepelekan atau dianggap berlebihan adalah sesuatu yang berbahaya bagi para echoist. Sarah sepakat akan hal ini. “Orang-orang tak paham masalah ini. Kamu tak dipercaya berkali-kali. Saya bahkan hampir gila.” Malkin mengatakan kunci utama menangani echoist adalah membantu menemukan suara mereka sendiri. “Mereka sudah terbiasa mengubur kebutuhan, perasaaan, pilihan atau kekecewaaan yang seharusnya normal agar hubungan mereka tidak kandas.” Malkin menyarankan para konselor untuk membangun kesadaran bahwa echoist juga punya hak atas dirinya. “Ya, semacam kesadaran bahwa mereka perlu merawat diri dan dipahami.”

Sarah mencapai ujung kesabarannya dua tahun lalu saat ibunya yang sudah tak berkomunikasi dengannya tiba-tiba menuding dirinya sebagai penyebab ayahnya bunuh diri. “Pedih banget sih rasanya. Ada beban berat yang menggelayuti hati saya.”

Sarah akhirnya mengontak Women’s Aid dan mulai menjalani terapi “Bangkit dari hubungan tak sehat seperti ini mungkin banget kok. Kamu cuma perlu orang baik yang mau mendengar dan mempercayai ceritamu.”

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly