Pornografi

Alasan Sebagian Bintang Film Porno Mulai Migrasi Jadi Konten Kreator di YouTube

Kalian nyadar enggak sih Johnny Sins sekarang lebih tepat disebut YouTuber daripada bintang film dewasa? Ada banyak yang seperti dia lho.
19 Maret 2020, 11:20am
Bintang Film Porno Johnny Sins Lexi Lore Mulai Migrasi Jadi Konten Kreator di YouTube
Foto dari arsip pribadi Lexi Lore/YouTube 

Johnny Sins mengenakan seragam dokter dan menatap ke kamera. Dia memegang stetoskop, mengenakan mantel putih khas laboratorium, ya pokoknya lengkap lah. Ini bukan hal yang aneh buat Johnny—mengingat kariernya mengharuskan dia memainkan berbagai karakter berbeda—kadang dia seorang dokter, kadang janitor, kadang pengusaha.

Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Dia tidak melepas mantelnya kemudian bersanggama di depan kamera seperti biasanya.

Johnny Sins adalah salah satu bintang porno lelaki paling dikenal saat ini. Dia pernah empat kali memenangkan penghargaan Adult Video News’ Favourite Male Porn Star. Namun kini, dia bermain lebih aman (PG). Alih-alih berhubungan seks di depan kamera, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan fans perihal kesehatan seksual di kanal YouTube miliknya dan sang pacar, Kissa Sins, yang juga seorang entertainer di industri film dewasa.

Sejak pertama diluncurkan pada 2015, kanal SinsTV telah meraup jutaan subscriber dan hampir 64 juta views. Hebatnya lagi, ini diraih dengan konten-konten yang relatif aman dibuka di tempat kerja (SFW). Memang, Sins sering kali telanjang dada di video, tapi itu lebih karena dia sering membahas rutinitas olahraganya dan regimen latihan triathlon.

Dia juga kadang membahas industri film porno, melakukan tanya jawab dan menawarkan nasehat bagi mereka yang ingin masuk ke industri ini. Tapi untuk setiap satu video yang membahas industri film porno, ada lebih banyak lagi video yang masuk genre tradisional YouTube: mulai dari unboxing, review makanan dan vlog liburan bareng Kissa. Di dalam industri film porno, Sins merupakan salah satu pengguna YouTube pertama, tapi kini, dia hanya satu dari banyak bintang porno yang sudah hijrah ke platform tersebut.

"Saya rasa YouTube memberikan beberapa orang kesempatan untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya," ujar Johnny pada VICE. "Ketika banyak orang menonton video pornomu, mereka membentuk opini tentangmu berdasarkan karakter yang kamu mainkan. Saya selalu mengikuti naskah dan memainkan karakter. Orang kerap mengatakan 'Saya kira kamu orangnya brengsek, di video kamu biasanya brengsek.' Kemudian mereka menonton video YouTube saya dan berubah pikiran.’ Saya rasa itu alasan kenapa banyak aktor mulai aktif menggunakan platform ini."

Media sosial telah menjadi bagian penting dari industri porno. Twitter menjadi alat bagi aktor untuk mengunggah cuplikan adegan dari karya terbaru mereka, mempromosikan ajang temu di dunia nyata, dan berbagi foto dan video di belakang layar. Instagram digunakan sebagai alat pembangun brand, penuh dengan foto-foto glamor berbikini ala influencer di tempat-tempat yang eksotis. Akun Snapchat Private dimonetisasikan dengan cara mengirim konten spesial untuk para penggemar yang membayar.

YouTube menjadi tempat bagi entertainer industri porno untuk menunjukkan sisi mereka yang paling mendekati diri mereka sesungguhnya di dunia nyata. Fokusnya bukan di seks, namun lebih di hobi dan hal-hal yang menarik buat mereka—makanan, travel, fashion, makeup, dan kebugaran adalah topik-topik yang sering muncul. Mereka mencoba membangun brand, tidak ada bedanya dengan ribuan influencer di YouTube. Ini semakin membuktikan betapa semakin pudarnya batas antara industri hiburan dewasa dan mainstream.

Alix Lynx menggunakan kanal YouTubenya sebagai alat untuk membangun hubungan personal antara penggemar dengan dia yang sesungguhnya—atau paling tidak yang dia bersedia tampilkan.

"Ada lebih banyak ruang untuk interaksi dengan fans, dan saya rasa industri memang semakin mengarah ke sana," ujarnya. "Kamu bisa masuk ke Pornhub dan menonton apapun yang kamu mau secara gratis. Tapi banyak orang yang menginginkan pengalaman yang lebih intim dengan bintang porno favorit mereka. Di OnlyFans, penggemar bisa ngobrol langsung dengan idola mereka dan mengakses foto dan video pribadi sang aktor. Saya rasa ini membantu para aktor untuk membangun brand pribadi."

Di umur 21 tahun, Lexi Lore sudah menikmati banyak kesuksesan dalam dunia porno. Tapi dia juga menyadari sesuatu tentang industri ini: bahwa mudah sekali bagi performer untuk lelah secara fisik dan emosional. Tapi kalau kamu istirahat, tidak ada uang yang masuk. Penghasilan sampingan dibutuhkan agar karier di dunia porno bisa terus langgeng.

Demi memperluas sumber penghasilannya, Lore mempekerjakan manajer media sosial untuk mencarikan dia sponsor. Dia mulai mengunggah konten berbayar di Instagram, tempat dia memiliki 230.000 follower. Dia mempromosikan brand seperti produk makanan anjing Fomo Bones CBD. Kini, dia melakukan hal yang sama lewat kanal YouTubenya. Biarpun sudah mendaftar ke YouTube semenjak Januari 2018, dia baru mulai rajin mengunggah konten setahun setelahnya. Dalam periode pendek itu, dia menjadi salah satu bintang porno terpopuler di YouTube dengan angka follower melebihi 400.000.

“Saya hanya menunjukkan realita industri film porno,” ujarnya. “Sepertinya banyak orang tertarik dengan itu. Ini misteri bagi banyak orang, seperti apa sih aktor film porno di dunia nyata? Saya besar menonton YouTube dan YouTuber dan selalu tertarik dengan hal macam itu.”

Sama seperti Sins, kebanyakan konten Lore terbilang aman, kalau bukan manis: bermesraan dengan pacar dalam sebuah perjalanan helikopter ke Hawaii, mencoba berbagai makanan eksotis, atau hanya berbagi rutinitasnya sebelum tidur di malam hari. Dia juga mengajak penggemar menyaksikan adegan di belakang layar, berbicara terbuka tentang kesehatan mental, dan di sebuah video yang mengharukan, menjelaskan bagaimana dia berhasil keluar dari sebuah hubungan asmara yang abusif.

Upaya untuk menjadi influencer ini ternyata terbukti menguntungkan.

"Lewat industri porno, saya mungkin mendapatkan sekitar $1.300 per hari, namun kelelahan secara fisik dan mental," ujarnya. "Sementara di YouTube, kalau saya membuat satu video bersponsor, saya bisa mendapatkan sekitar $1.200."

Namun bagi bintang porno yang menggunakan YouTube untuk membahas sepak terjang mereka di dunia porno, mencari titik keseimbangan yang pas tidaklah mudah. YouTube memiliki panduan dan aturan yang jelas, dan pelanggaran bisa dijatuhi konsekuensi yang permanen. Produser dan performer fetish Ariel X mengalaminya sendiri. Salah satu situsnya, evolvedfights.com, berisikan video gulat co-ed, di mana setelah bertarung para pegulat berhubungan seks. Dia mulai mengunggah cuplikan dan konten-konten PG, seperti panco, untuk menarik traffic.

Ariel X mengatakan bahwa dalam hitungan bulan setelah mulai melakukan itu, dia menerima laporan bahwa ada komplain tentang videonya dan kontennya akan dihapus. Ariel X menambahkan bahwa biarpun email dari YouTube tadi tidak merujuk ke peraturan spesifik yang dia langgar, YouTube memang melarang konten fetish.

"Saya sadar kenapa YouTube menurunkan konten saya," ujarnya. “Kami menaruh logo kami di belakang dan kurang lebih mengatakan “Untuk menonton lebih banyak, kunjungi situs porno ini.” Saya tidak merasa diperlakukan tidak adil. Saya tidak menunjukkan puting atau bahkan membicarakan seks. Tapi saya tidak membaca panduan dan kebijakan mereka secara menyeluruh saat itu."

Alex Raymond, salah seorang pemilik firma humas berorientasi industri porno, Star Factory bersama istrinya, mantan aktor porno Tanya Tate, mengatakan biarpun jumlah subscriber YouTube dan follower Twitter bukanlah metrik yang paling akurat dalam mengukur popularitas seorang aktor, angka-angka tadi memang diperhitungkan dalam industri.

"Saya rasa terlalu mudah untuk melihat seseorang dan mengatakan ‘Tuh, dia punya satu juta follower, dia pasti populer, ayo kita pekerjakan," ujarnya. "Ayo kita kerja bareng dia, agar jangkauan kita makin luas, dan dampaknya makin besar."

Lynx, yang memiliki gelar sarjana penyiaran dan bekerja di bidang komunikasi sebelum masuk ke industri porno, mengaku dia hanya mendapatkan “10 dollar” dari YouTube, tapi kesempatan branding dari situ tidak ternilai.

"Buat saya, bikin konten di YouTube seperti menanam benih buat masa depan," ujar Lynx. “Saya melakukan ini karena berbagai alasan, bukan buat cari duit, saya melakukannya karena ada hal-hal yang ingin saya sampaikan dan pesan yang ingin saya sebar."

Bagi setiap orang yang masuk ke industri porno, waktu mereka sangat terbatas. Semua orang bisa digantikan dan pertanyaan “habis ini, ngapain?” akan terus terdengar. Ada beberapa aktor yang menggunakan YouTube untuk mempromosikan karya mereka saat ini, namun ada juga yang menggunakannya untuk mempersiapkan fase karier mereka selanjutnya.

Lynx melakukan debutnya di porno pada 2014. Dia bergabung dengan YouTube di tahun yang sama dan mulai mengunggah secara regular tahun lalu. Kini, dia menggunakan platform tersebut untuk berbagi tip makeup, menjawab pertanyaan fans, curhat dan mempromosikan proyek EDMnya, Fancy Monster.

"Saya sangat sadar perihal masa depan karier saya," jelas Lynx. "Orang cenderung mengkategorikan bintang porno dan mengira ‘Oh mereka masuk ke industri porno karena tidak punya pilihan.’ Tapi itu salah ‘Saya melakukan ini karena saya memang mau.’ Saya ingin menunjukkan ke orang bahwa seseorang bisa menjadi bintang porno, namun tetap pintar dan punya nilai yang layak dibagikan dengan orang lain. Saya masuk ke industri porno untuk membangun brand saya, dan kepribadian saya adalah bagian besar dari brand saya. Saya tahu dari awal bahwa suatu hari saya tidak akan di dalam industri porno dan saya harus punya rencana yang matang."

Bagi Johnny Sins, YouTube terlihat seperti fase karier yang baik setelah porno. Dia sudah setengah-pensiun dari industri porno. Biarpun dia dan Kissa masih membuat dan mengunggah konten ke situs mereka, dia tidak lagi bekerja untuk studio besar saat ini. Saking banyaknya orang yang mengenal kepribadian Johnny lewat video-video YouTubenya, mereka bahkan mengaku kesulitan menonton video-video porno beliau.

"Banyak orang yang menonton vlog saya mengatakan tidak bisa lagi menonton video porno saya karena mereka merasa sudah mengenal saya," ujar Johnny. “Mereka mengatakan rasanya seperti menonton seorang teman berhubungan seks."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.