Tradisi Sandur Bangkalan Madura Arisan Paling Heboh di Indonesia
Seorang peserta Sandur asyik menari di hadapan lenggek. Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin/VICE.
Budaya

Tak Ada Arisan di Nusantara Lebih Heboh Dibanding Sandur Bangkalan

Ada perputaran uang ratusan juta, penyanyi cross dresser, bekas pembunuh, tua muda menari, hingga peserta bermain judi kartu semalam suntuk. Ini pergelaran khas komunitas Madura asal Bangkalan.
11 Maret 2020, 11:42am

Ketika malam kian mendekati pergantian hari, tabuhan gamelan yang dimainkan pengrawit baru mulai dimainkan. Dua ‘lenggek’ dengan anggun mulai menari dan melantunkan tembang tradisional Madura. Sesosok pria paruh baya mendekati keduanya, tangan kanannya memegang ‘once’ alias pipa cerutu berbahan gading gajah. Pakaian si lelaki khas jawara Madura, berbalut jaket kulit lengkap dengan sarung, dan peci hitam. Penuh percaya diri dia melenggang di antara ratusan lelaki lainnya yang duduk bersila melingkar di bawah tenda, didirikan memanjang hingga 500 meter, menutup sepenuhnya jalan utama kampung tersebut.

VICE pada malam Natal tahun lalu, mendatangi perhelatan Sandur di Sidotopo Wetan, Kota Surabaya, tidak jauh dari Jembatan Suramadu. Ini acara hiburan yang secara teknis lebih tepat disebut 'arisan'. Kalian tidak salah baca. Arisan komunitas Madura dari Kabupaten Bangkalan ini berbeda dari lazimnya tradisi menabung berantai yang diikuti ibu-ibu kampungmu.

Dalam sandur pesertanya selalu ratusan lelaki yang bisa mencapai 500 orang, melibatkan tarian heboh, penyanyi cross dresser, perputaran uang ratusan juta, hingga judi semalam suntuk para pesertanya. Sandur adalah arisan yang disakralkan bagi komunitas Madura asal Bangkalan.

Dulu seringkali peserta sandur adalah mantan pembunuh, ataupun jawara yang biasa disebut blater oleh masyarakat kawasan barat Pulau Karapan Sapi. Kini, politikus di DPR, wali kota, pengusaha, hingga jaringan organisasi bawah tanah membaur dalam sandur, selama mereka berada dalam satu paguyuban.Citra seram itu masih tertinggal dalam busana. Kalian bisa mengintip golok, celurit, dan parang disembunyikan di balik pakaian para peserta selama sandur berlangsung.

Kak Tuan Sadi menjadi tuan rumah malam itu. 'Kak Tuan' adalah julukan hormat untuk tokoh masyarakat senior. Satu per satu nama disebut oleh pembawa acara, mulai dari pejabat hingga masyarakat biasa. Kak Tuan Jabir, sosok 'godfather' Bangkalan, jadi yang pertama dipanggil. Dengan raut bangga dan senyum terkembang, dia mendekati panggung utama di ujung tenda. Para ‘lenggek’, diperankan laki-laki berdandan seperti perempuan lengkap dengan riasan dan kebaya, menyambut Kak Tuan Jabir dengan tarian anggun.

Lembar demi lembar uang diserahkan Kak Tuan Jabir ke wadah penyimpanan uang yang disiapkan tuan rumah. Malam itu dia menyetor lebih dari Rp1 juta dalam pecahan Rp100 ribu. Wadah itu dijaga dua orang, tugas mereka memastikan jumlah uang yang diberikan tiap peserta sandur sesuai utang yang tercatat lengkap dalam buku kas.

salah satu peserta sandur berusaha menari seelok mungkin dalam iringan nyanyian lenggek.

Tiap pemain sandur diwajibkan memiliki buku serupa. Tujuannya agar tidak terjadi salah hitung nominal oleh petugas pencatat. Berbeda dari arisan lain yang berakhir dengan tawa atau gosip kampung, di masa lalu sandur dengan persoalan selisih utang sering berakhir dengan carok—adu bacok sampai mati yang biasa ditempuh lelaki Madura buat menuntaskan konflik yang mencoreng harga diri. Terakhir terjadi carok mematikan gara-gara sandur, menurut Kak Tuan Jabir, terjadi awal 2000-an.

"Saya dulu sering membantu anggota sandur yang kabur menghindari utang-piutangnya," ujarnya pada VICE.

Selesai memberikan uang dan menyalami tuan rumah, pemain sandur biasa menyiapkan pecahan kecil Rupiah untuk diselipkan di selipan bra penyanyi lenggek, sebelum akhirnya menari di depan mereka. Setiap pemain sandur berusaha memiliki ciri khas tarian tersendiri, gerakan tangan pesilat itu kadang dipadukan tarian burung merak simbol kegagahan orang Madura. Rata-rata peserta menari selama satu menit, kemudian lanjut duduk di tempat semula. Bisa juga urutannya berkebalikan, menari dulu baru menyetor uang arisan. Semua senjata dititipkan dulu oleh peserta sebelum maju menari.

Bagi peserta yang namanya belum dipanggil, mereka akan menghabiskan waktu bermain kartu domino melibatkan uang taruhan besar, dari mulai acara sampai subuh menjelang. Tapi judi dan menari itu, menurut Tuan Jabir hanya selingan. "Sandur ini mejadi ajang mempererat solidaritas, melanggengkan kekuasaan antar pemilik kepentingan," ujarnya. itu sebabnya, selepas dipanggil, sebagian besar tak buru-buru pulang. Obrolan penting antar tokoh sering terjadi dalam lingkaran kecil mereka yang bersila, sembari memainkan domino.

Tradisi Sandur ditengarai bermula di Bangkalan sebelum tahun 1940-an. Sandur juga berkembang di beberapa daerah Provinsi Jawa Timur meliputi Surabaya, Probolinggo, dan Jember. Semuanya diikuti komunitas Madura yang garis keluarganya dari Bangkalan.

Salah satu peserta sandur memberikan jatah uang arisan kepada yang mengelola hajatan malam itu.

Ada tiga babak yang utama dalam sandhur, yakni ‘dhing-endhingan’. Artinya, diputar iringan ‘gending-gending’ Madura tanpa lantunan tembang/syair lagu selama menanti kedatangan para peserta sehabis salat Isya. Berlanjut ke babak kedua ‘ndhung-endhung, yakni momen tarian dan nyanyian menyambut tamu jelang tengah malam, diakhiri 'andongan' di mana tamu undangan atau anggota sandur maju bergilir membayarkan utang dan seraya menari bersama lenggek.

Tuan rumah dipilih bergilir. Karisma si tuan rumah akan menentukan jumlah peserta dan uang yang berputar semalaman. Kak Tuan Jabir, karena reputasinya dalam paguyuban ini selama 30 tahun, pernah menggelar sandur diikuti lebih dari seribu peserta. "Saya pernah mendapatkan Rp1,7 miliar dalam acara sandur ini," kata Kak Tuan Jabir.

Pengelola mencatat nama-nama yang sudah membayar dalam buku sandur yang wajib dimiliki semua peserta.

Dari penelusuran VICE, di Bangkalan sendiri sandur masih rutin digelar meski justru tak seheboh pergelaran di tanaha perantau. Menurut beberapa jurnal komunitas sandur juga hampir punah karena hanya tersisa satu paguyuban saja. Supaya bisa terlibat dalam sandur, kau tinggal bergabung dalam paguyuban. Keanggotaannya seumur hidup.

Namun, dalam kesempatan langka, sandur yang pesertanya tokoh-tokoh ternama pernah diselenggarakan di alun-alun Kota Bangkalan, memblokade jantung kota itu dengan tenda yang terbentang sepanjang satu kilometer jauhnya.

Satu komunitas sandur biasa melakukan kegiatan arisan selama empat kali dalam seminggu. Ongkos menggelar acara ini bisa lebih dari Rp30 juta. Jika dihitung-hitung, menjadi pemain sandur justru malah merugi. Bayangkan berapa kocek yang harus dirogoh untuk biaya sewa tenda, piranti sound, konsumsi, belum lagi uang yang harus setor dimuka kepada para pengrawit, lenggek, dan pembawa acara.

R. Moh Hasan, seorang seniman yang menggeluti sandur selama bertahun-tahun, mengaku menekuni kesenian sandur sebetulnya membuat kondisi keuangannya sengsara. "Saya menyadari bahwa saya macet secara finansial jika dibandingkan dengan teman-teman seniman lain yang secara finansial jauh lebih makmur," ungkapnya.

Tapi buat Kak Tuan Jabir, tujuan Sandur memang bukan mencari untung seperti arisan biasa. Tujuannya adalah silaturahmi, sekaligus wahana untuk konfigurasi kekuasaan antar kelas sosial yang berbeda dalam komunitas Bangkalan.

"Ini sudah merupakan kebudayaan turun temurun, jadi ya saya harap generasi muda keturunan madura asli harus bangga dan meneruskan kebudayaan sandur," tuturnya.