Alasan Ada Orang Indonesia Tak Percaya Hantu
ILUSTRASI OLEH AUSTIN JORDAN/VICE. KARYA-KARYA JORDAN LAINNYA BISA DISIMAK DI AKUN IG @IMNOTJORDADDY
supranatural

Kami Minta Orang yang Tak Percaya Hantu Ngobrol Sama Pembawa Acara Supranatural

Hantu adalah topik akrab dalam keseharian orang Indonesia, tapi tak sedikit menganggapnya omong kosong. Apakah dua orang yang kami pertemukan ini bisa saling memahami posisi satu sama lain?
29.10.20

Saban 31 Oktober, banyak orang di berbagai negara memperingati Halloween. Menurut sejarah, tradisi yang mengakar dalam budaya pop di Benua Amerika dan Eropa tersebut bermula dari keyakinan masyarakat Celtic ribuan tahun lalu. Mereka menggelar Festival Samhain yang dirayakan pada 1 November, dengan memakai kostum yang terbuat dari kulit atau kepala binatang.

Berdasarkan kepercayaan mereka, tanggal itu menandakan akhir dari Musim Panas dan awal Musim dingin yang gelap ketika banyak orang tidak mampu bertahan, lalu meninggal dunia. Di antara 31 Oktober dan 1 November, orang Celtic meyakini batas antara dunia yang hidup dan mati menjadi kabur. Dengan begitu, arwah orang mati, atau yang kemudian dikenal sebagai hantu, bisa kembali ke bumi dan berada di sekeliling manusia.

Meski Indonesia tidak merayakan Halloween, namun kepercayaan soal koeksistensi hantu dan manusia sudah mengakar kuat di negara ini. Di Tanah Air, bahkan bukan cuma saat 31 Oktober saja hantu bisa berkeliaran di sekitar kita. Mahluk-mahluk astral itu tiap hari bisa ditemui, sampai dikomodifikasi jadi tayangan-tayangan mistis yang menghiasi TV dan YouTube kalian.

Namanya kepercayaan, tentu saja ada yang mengamini keberadaan hantu, ada juga yang menganggap mahluk astral bualan belaka. Biasanya yang skeptis dengan keberadaan hantu beralasan karena tidak ada buktinya. “Gue bukan enggak percaya sih, tapi enggak pernah lihat. Jadi masih abu-abu,” kata Zimi Tamara, seorang karyawan swasta, kepada VICE.

Sepanjang empat dekade terakhir bermunculan teori-teori untuk menawarkan penjelasan ilmiah mengapa hantu tidak nyata. Ilmuwan Michael Persinger pada 1980-an meminta beberapa orang menggunakan helm elektromagnetik. 

Stimulasi pada otak bagian depan menyebabkan 80 persen di antara mereka merasakan “kehadiran yang tak bisa dijelaskan di dalam ruangan”. Teori lain adalah keracunan gas karbon monoksida. Setidaknya ini yang dialami oleh jurnalis Amerika Serikat Carrie Poppy. Ia mengira didatangi makhluk astral di rumahnya dan menceritakan kejadian tersebut ke sebuah forum.

“Salah satu dari mereka berkata, ’Oke, pernahkah kamu mendengar soal keracunan gas karbon monoksida?” tuturnya kepada NPR. “Gejala-gejala keracunan gas karbon monoksida termasuk terasa ada tekanan pada dada, halusinasi pendengaran, perasaan lelah yang tak bisa dijelaskan,” jelasnya.

Lalu dia memanggil perusahaan gas agar melakukan pemeriksaan, rupanya benar bahwa ada kebocoran gas di rumah Carrie. “Petugasnya bilang, ’Bagus sekali Anda menghubungi kami malam ini sebab Anda bisa saja meninggal dalam waktu cepat,” imbuhnya.

Sementara Intan Dianty, karyawan di Jakarta yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional punya pendapat lain. “Aku percaya semua makhluk hidup di dimensi masing-masing,” kata dia, sambil menambahkan bahwa dia yakin ada yang disebut sebagai malaikat dan iblis.

Masalah percaya atau tidak percaya pada hantu, setan, makhluk supranatural atau apapun sebutannya ternyata menarik perhatian banyak pihak sampai ada surveinya. Misalnya, lembaga The Harris Poll menemukan pada 2013 lalu bahwa 42 persen orang Amerika Serikat percaya hantu. Sebanyak 64 persen juga percaya kebangkitan jiwa setelah mati.

Tujuh tahun sebelumnya, sebuah survei di Taiwan mengungkap 87 persen mahasiswa percaya hantu itu ada. Sementara, belum ada survei di Indonesia untuk mencari tahu seberapa besar jumlah populasi orang yang, dengan beragam alasan, meyakini sosok makhluk halus bukan sekadar omong kosong.

Karena dunia supranatural adalah topik menarik yang takkan pernah ada habisnya, VICE mengundang dua orang dengan posisi berlawanan untuk ngobrol. 

Pertama adalah Bayu D. Wicaksono yang merupakan host PM:AM, sebuah program pencarian makhluk halus yang ditayangkan lewat YouTube. Ia meyakini bahwa hantu benar-benar ada di sekitar kita.

Lawan ngobrolnya adalah Achmad Hidayat Alsair atau yang akrab disapa Ayat. Lulusan Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Hasanuddin itu berpendirian bahwa tidak ada yang namanya hantu.

Masing-masing pihak berkesempatan menanyakan seputar keyakinan masing-masing, terutama kenapa salah satu dari mereka percaya mahluk halus, atau sebaliknya, menganggap hantu hanya bualan. Dengan begini, mereka yang selama ini berada dalam kutub berbeda itu, semoga, bisa saling memahami satu sama lain.

Bayu: Kenapa Ayat tidak percaya hantu?
Ayat: Karena tidak ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikannya. Aku percaya [hantu] kalau ada jurnalnya, terus ada juga riset dari lembaga ilmiah terkait.

Ayat: Kamu sendiri dari skala 1 sampai 10, seberapa percaya dengan hantu? Apa alasannya?
Bayu: Aku 10, karena mengalami langsung, melihat langsung, dan berinteraksi langsung sejak kecil. Tapi tergantung soal persepsi apa itu hantu. Aku sendiri percaya hantu bukan arwah orang meninggal, tapi memang ada makhluk ciptaan Tuhan, istilahnya setan, yang bisa menyerupai orang yang sudah meninggal. Misalnya mengambil wujud, karakter dan kisahnya, jadi seakan dia adalah arwah orang meninggal.

Bayu: Ada beberapa alat yang diciptakan buat membuktikan [keberadaan hantu]. Contohnya bandul yang digantung di tempat yang tidak ada angin, lalu berputar. Terus ada pengembangan kamera thermal yang ketika suhunya terbaca ada yang aneh, padahal tidak ada sesuatu di situ. Apa itu belum cukup sebagai bukti?
Ayat: Selama ini aku percaya hal seperti itu, misalnya perubahan suhu di tempat yang sama sekali enggak ada pengaruh dari hal lain, terus perputaran bandul, itu murni dari aktivitas elektromagnetik bumi. Ada aktivitas anomali alam. Tetapi aku enggak punya kapasitas untuk bicara soal itu.



Ayat: Aku penasaran. Coba jelaskan proses interaksi kamu dengan makhluk halus.
Bayu: Kalau dulu pas masih kecil susah untuk membedakan antara orang beneran atau enggak, jadi seperti interaksi dengan orang biasa. Ngobrol biasa. Kalau sekarang sudah menghindari [interaksi] karena kalau bagi orang yang bisa melihat, ketika kita terlalu berinteraksi, khawatirnya mereka minta bantuan macam-macam dan terlibat lebih [dalam kehidupan]. Maka saat sudah dewasa aku menghindari interaksi kecuali dibutuhkan, seperti karena syuting.

Bayu: Menurut persepsi Ayat, apa sih arti kesurupan?
Ayat: Aku percaya ada faktor lain [bukan setan], entah dari tubuhnya sendiri yang sedang lemah atau pikiran dan gangguan psikologis. Bisa juga trauma. Yang paling aku ingat itu teman SMA pas upacara bendera, tiba-tiba seperti kesurupan. Dia langsung dimasukkan ke ruang perawatan, sayangnya alih-alih ditangani medis, dia justru dapat bantuan dari pendeta setempat. Katanya penyebab kesurupan itu karena beberapa hari sebelumnya dia cekcok besar dengan salah satu orangtuanya sampai harus tinggal di rumah teman. Dia cerita kenapa hubungannya dengan orangtua tidak akur, bagaimana dia enggak nyaman di rumah, dan puncaknya pas upacara, dia enggak sarapan ke sekolah. Beban pikiran juga banyak. Akhirnya muncul ledakan psikologis. Itu sih istilahnya.

Bayu: Jadi, dengan beban psikologis itu dia mengeluarkan energi yang enggak pernah dia kontrol, yang enggak pernah dia keluarkan sebelumnya?
Ayat: Menurutku begitu.

Ayat: Setuju atau enggak kalau penampakan hantu di film horor itu dilebih-lebihkan?
Bayu: Tergantung film horor yang mana dulu. Ada yang dilebih-lebihkan, ada yang enggak. Misalnya di Indonesia, kebanyakan standar [penampakan] memang seperti itu. Kalau di luar negeri, aku jujur tidak tahu, karena selama pengalamanku melihat [hantu], memang tiap daerah punya sosoknya masing-masing. Contohnya di Kalimantan ada sendiri, di Jawa ada sendiri. Balik lagi, setan sebagai makhluk ciptaan Tuhan punya bentuk sendiri. Tetapi ketika berusaha menampakkan diri atau mengganggu orang, mereka cenderung mengambil wujud lain, salah satunya apa yang dipercaya oleh mayoritas masyarakat setempat. Ibaratnya kalau di Harry Potter itu kayak Boggart, berwujud sesuai ketakutan kita.

Ayat: Jadi, kalau ketakutanku adalah ular, makhluk ini akan memanifestasikan ketakutanku dalam bentuk ular?
Bayu: Bisa jadi. Apalagi misalnya ada pendatang yang enggak tahu tentang cerita di daerah situ. Bisa jadi tidak ditampilkan dalam wujud yang sesuai [daerah itu], karena dia enggak tahu ceritanya seperti apa. Tetapi kalau dia tahu, misalnya di daerah ini ada puyang, nanti [hantu] akan berwujud puyang.

Bayu: Kalau ada orang di sekitar Ayat yang menyatakan bisa melihat hantu, apa yang pertama kali ada di pikiran Ayat?
Ayat: Mengagumkan, karena mereka mengaku bisa melihat hal-hal yang sama sekali saya tidak tahu. Untuk sikap pribadi, aku tetap enggak percaya sih, cuma asyik kalau di tongkrongan dia berbicara tentang hal mistis. Aku bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang untuk mencari tahu karena aku belum percaya. Tetapi sebagai topik pembicaraan, sebagai hiburan, sebagai metode untuk menjelaskan hal-hal yang jauh dari nalar manusia, itu oke aja.

Ayat: Apa pendapat kamu soal beberapa video di sebuah kanal YouTube yang memperlihatkan, katanya, makhluk halus dilempari ketapel, dipukul sapu? Aku menangkapnya si pemilik kanal ingin memperlihatkan interaksi dengan entitas menyeramkan sebenarnya tidak perlu dipandang tabu. Seperti mereka bisa bermain-main [dengan makhluk halus]. Seperti ingin mengikis anggapan hantu itu menyeramkan, kalau diganggu buktinya tidak melawan.

Bayu: Mereka [makhluk halus] adalah sesuatu yang tidak tersentuh. Butuh ilmu lebih untuk benar-benar kontak fisik sama mereka. Sama halnya mereka butuh energi lebih untuk menggerakkan benda atau melempar sesuatu. Jadi enggak bisa asal dilakukan. Mereka adalah makhluk Tuhan yang punya perasaan. Ibaratnya kayak hewan enggak punya akal, tapi punya perasaan. Mungkin kebetulan dalam video itu tidak apa-apa dibuat mainan. Tetapi sama halnya kita menghormati orang, sebaiknya mereka dengan dengan alam sendiri juga perlu dihormati. Mungkin ada yang sabar, tetapi akan ada yang bereaksi dan marah. Sama halnya dengan kita menjadikan monyet sebagai atraksi topeng monyet. Enggak selayaknya mereka disiksa atau diperlakukan untuk sekadar jadi hiburan.

Bayu: Apa respons Ayat kalau ada yang ngajak ngejulidin orang yang mengaku bisa melihat [hantu]?
Ayat: Sejauh ini sih enggak ada teman-teman yang ngejulidin itu. Aku menghormati mereka. Salah satu cara aku respect adalah menunjukkan ketertarikan dengan pengalaman-pengalaman mereka selama berhubungan dengan dunia supranatural.

Ayat: Pernah di-bully?
Bayu: Pertama aku bisa melihat hantu itu SD, tapi enggak tahu. Pas SMP, karena mungkin bangunan bekas Belanda, jadi sosok-sosoknya sangat mengerikan. Pas kelas 1 SMP, aku banyak melihat sosok mengerikan, kayak luka-luka atau leher digantung, di lab bahasa. Aku teriak, menjerit. Teman-teman heran aku nangis ketakutan. Dari situ aku dianggap aneh, dijauhi, diomongin, ya di-bully fisik juga. Jadi, aku enggak punya teman selama SMP. Tapi, untung dibimbing sama guru agama. Waktu SMA membiasakan diri walau sekolahku, SMA 1 Malang, salah satu yang paling angker di Indonesia. Baru aku mulai punya teman.

Bayu: Selain riset saintifik, apa yang bisa meyakinkan kamu bahwa makhluk halus itu ada?
Ayat: Sejauh ini hanya itu karena menurutku hal-hal yang tak kasatmata bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi entah apa metode yang mereka pakai. Biar teknologi yang menjawab.

Ayat: Ada enggak pengalaman menyeramkan saat berinteraksi dengan mereka [makhluk halus]?

Bayu: Selama syuting, aku berkali-kali kesurupan. Tapi rasanya enggak seram, maksudnya saat kesurupan penuh itu enggak sadar apa yang terjadi, tiba-tiba kayak bangun tidur aja. Tetapi ketika kesurupan setengah, dalam artian aku masih sadar tapi enggak bisa mengontrol tanganku atau kakiku…Aku tahu badanku bergerak ke mana, apa yang aku omongin, tapi enggak bisa mengontrol mulutku, itu yang menyeramkan. Misalnya, syuting di Bali, tiba-tiba ngomong Bahasa Bali. Atau di Goa Jepang, ngomong Bahasa Jepang. Dan takut misalnya dalam keadaan setengah sadar bisa terjun ke mana atau lari ke tengah jalan.

Ayat: Kalau yang menyenangkan?
Bayu: Balik lagi, aku enggak percaya arwah penasaran. Cuma sempat ada sosok yang mengambil orang-orang, misalnya kerabat yang meninggal, dan menceritakan sesuatu tentang anggota keluarga--sesuatu yang aku belum pernah dengar atau sebenarnya mereka simpan. Ketika aku konfirmasi ke orangnya langsung, ternyata benar. Ini menyenangkan karena aku jadi bisa kenal lebih dekat dengan orang sekitarku.

Ayat: Ada pesan buat orang yang enggak percaya hantu?
Bayu: Banyak—aku enggak bilang semua ya, karena memang ada beberapa yang mencari ilmu agar bisa melihat [hantu]. Tetapi banyak yang tidak meminta untuk terlahir atau mendapatkan kemampuan itu, dan itu bisa membuat depresi atau sangat mengganggu aktivitas mereka karena sebenarnya mereka ingin hidup normal. Kami mau hidup normal. Jadi perlakukan seperti orang normal. Kalau ada yang mengganggu, misalnya dia tampak ngomong sendiri, kasih tahu baik-baik aja. Saling respect.