IMG_0423
Ilustrasi kebiasaan mencium bra habis dipakai oleh Bobby Satya Ramadhan.
Bertanya Buat Teman

Kebiasaan Cewek Mencium Bau Bra Bekas Pakai Tak Aneh, Tapi Harusnya Jangan Dilakukan

Ternyata aku tak sendirian yang suka gini di Indonesia. Banyak cewek demen memperlakukan branya kayak makanan sisa. Diciumin baunya baru diputuskan, akan dipakai lagi atau masuk keranjang cuci.
05 Desember 2019, 9:55am

Begini Skenarionya:
Selama bertahun-tahun aku punya kebiasaan yang sempat kukira aneh: Suka menciumi bau bra yang baru aja aku lepas. Jadi, setiap kali ganti baju setelah pulang dari bepergian atau pas aku mau mandi, bra akan aku ciumi dulu baunya baru aku gantung atau lempar ke keranjang pakaian kotor.

Sebenarnya baunya gitu-gitu aja. Kadang bra itu nyaris nggak berbau karena cuma aku pakai untuk rebahan seharian. Tapi lebih sering braku berbau keringat. Sama kayak bau baju lembap sehabis dipakai membersihkan rumah selama satu jam. Kadang bra itu agak basah karena aku berkeringat banyak, tapi tidak menghalangiku untuk menciumnya lagi dan lagi.

Kenapa aku melakukannya: Yang jelas karena sudah jadi kebiasaan. Sama kayak aku bisa melakukan gerakan salat tanpa perlu mikir, mencium bra kulakukan dengan otomasi robotik. Aktivitas ini selalu masuk dalam rangkaianku mencopot pakaian.

Karena menulis artikel ini aku jadi mikir, kenapa aku melakukannya? Mencium bra kulakukan untuk mengukur apakah bra itu sudah cukup bau untuk diganti atau masih tertahankan untuk dipakai. Kurasa kita memang terbiasa memakai hidung sebagai ukuran sesuatu masih bisa atau tidak untuk dikonsumsi atau dikenakan. Kaus-kausku kuperlakukan begitu, juga makanan sisa semalam yang pasti aku cium dulu sebelum aku kebauan sendiri dan buru-buru memasukkannya ke keranjang sampah.

Kadang, bra lembap yang sudah cukup bau tidak serta-merta aku masukkan ke tas laundry. Aku akan menyampirkannya di kursi atau gantungan pakaian atau disangkutkan di kapstok sampai bra itu cukup kering dan esok hari aku memakainya lagi.

Tindakan ini juga beralasan karena aku pernah diajari kapan harus mengganti celana dalam atau pembalut menstruasi atau pantyliner, tapi tidak dengan bra. Waktu aku divonis punya kista, dokterku menasihati agar mengganti celana dua kali sehari dan pembalut menstruasi tiap 4 jam sekali serta berhenti sama sekali pakai pantyliner. Dia bilang, pantyliner mengandung pembunuh bakteri yang justru membunuh bakteri baik di vagina. Pemakaian pantyliner secara terus-menerus juga membuat bakteri kebal dan justru berkembang biak di luar batas normal.

Tapi soal bra? Tidak ada informasi sama sekali. Lagian enggak kayak celana dalam yang bisa basah karena cairan vagina dan dapat menyebabkan horor semua cewek umur 20-an, yaitu keputihan, bra kotor kayaknya enggak berisiko apa pun selain bau menyengat.

Alasan aku khawatir: Sama sekali bukan soal kesehatannya. Pertama, aku kepikiran jangan-jangan ini tanda penyakit jiwa atau kelainan mental berupa fetish bra kotorku sendiri. Aku juga enggak berani tanya ke teman-teman cewekku apakah mereka melakukan hal serupa. Kurasa itu karena, lain dari para cowok yang bisa santai membicarakan masalah-masalah kelamin, cewek cenderung menutup rapat rahasia tubuh pribadinya.

Gimana kalau aku bisa dicap aneh karena kebiasaan ini? Gimana kalau suamiku kelak bakal syok dan menuntut cerai karena merasa beli kucing dalam karung—menikahi cewek aneh maniak bra kotor?

Alasan yang bikin aku nggak khawatir lagi: Setahun lalu aku membaca artikel tentang panduan mengganti bra. Satu kalimat sudah cukup bikin aku tenang. Si penulis artikel sepintas lalu bilang, kurang lebih, “Bra kotor yang suka kamu ciumi itu sebenarnya penuh bakteri.”

Yay! Dia pasti juga kayak aku, suka menciumi bra kotor itu. Atau paling enggak dia tahu ada wanita-wanita lain di luar sana yang punya kebiasaan demikian.

Artikel itu selama setahun terakhir membuatku meyakini kebiasaanku tidak aneh. Baru kemudian, untuk kebutuhan artikel ini, aku memberanikan diri bertanya ke grup WhatsApp cewek-cewek teman kuliahku.

“Kalian pernah nggak sih nyium bau bra sendiri yang baru selesai dipakai?”

“Sering banget!” jawab Rhea, temanku.

“Aku mau nulis soal ini di VICE.”

“Jangan tulis namaku!”

“Sip.”

Kenyataan sebenarnya: Ini hasilku surfing di situs-situs yang membahas isu seputar cewek. Sports bra harus dicuci setiap habis pakai karena ia sangat menyerap keringat. Bra katun non- sports bra juga harus diperlakukan sama. Sedangkan bra berbahan lain bisa dipakai 2 sampai 3 kali sebelum dicuci. Tapi, jika kamu berkeringat banget dan _push-up bra_-mu basah, ia tetap harus dicuci meski baru dipakai satu kali.

Pakar lingerie yang diwawancarai Cosmopolitan mengingatkan bra yang dipakai berulang harus diberi “waktu bernapas” agar tali dan karetnya tetap elastis serta bentuk cup bra tetap bagus. Ia menyarankan kita memakai empat bra berbeda sepanjang Senin-Kamis, kemudian mencucinya berbarengan. Intinya satu bra jangan dicuci-pakai terus-menerus karena bakal cepat rusak.

Situs-situs itu juga menekankan bahwa mencuci bra sebaiknya dikucek dengan tangan, jangan dicuci dengan mesin cuci. Ketika disimpan di rak pakaian, bra dengan cup harus diletakkan dengan posisi kacamata dan ditumpuk dengan cup_-masuk-dalam-_cup, bukannya dilipat dua.

Kesimpulan: Suka mencium bra sendiri bukan hal aneh karena aku dan kamu enggak sendirian. Tapi yang “tidak aneh” tidak otomatis jadi “baik” karena bra punya limit sebelum ia menjadi pakaian kotor. Memakai bra terlalu sering juga merusak bahan. Mengingat harga bra termasuk mahal dan mencari bra yang cocok itu sulit, hargailah kerja keras bramu agar umurnya panjang.

Fakta lain: Dalam penelusuranku demi menulis artikel ini aku menemukan fakta yang enggak kusangka-sangka. Ternyata ada cowok yang doyan banget nyiumin bra cewek dan memakainya sebagai bahan masturbasi.

Guys, seriusan?


Bertanya Buat Teman adalah rubrik khusus untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar kesehatan, yang paling tolol sekalipun. Jadi, kalau ada teman yang punya masalah kesehatan tapi enggak berani tanya ke pakarnya, bisa kalian wakili lewat rubrik ini.