Beirut

Penggemar Teori Konspirasi Yakin Ledakan di Beirut Akibat Bom Nuklir (Padahal Ngawur)

Pakar nuklir Jeffrey Lewis menyatakan tidak semua awan jamur dipicu oleh bom nuklir. "Ledakan di Beirut tak ada seujung kukunya dari efek bom nuklir kecil," ujarnya.
05 Agustus 2020, 4:34am
Teori Konspirasi Yakin Ledakan di Beirut Akibat Bom Nuklir Keliru Menurut Pakar
Foto dari screenshot Twitter.

Ledakan dahsyat terjadi di Pelabuhan Beirut, Ibu Kota Libanon, pada Selasa (4/8) siang waktu setempat. Rekaman ledakan itu segera menyebar di media sosial. Proses yang terjadi sebelum dan sesudah ledakan itu memang sangat mengerikan, ditandai pula dengan munculnya awan jamur membumbung ke angkasa. Dalam hitungan detik, gedung-gedung hingga belasan kilometer dari pelabuhan rata dengan tanah.

Penyebab ledakan masih simpang siur, meski pemerintah meyakini biang keroknya adalah gudang di pelabuhan yang menyimpan zat kimia amonium nitrat, yang bisa menjadi bahan peledak, dalam jumlah besar. Namun dalam situasi serba tak pasti, sebagian netizen dengan follower banyak nekat menyebar teori bahwa ledakan itu dipicu oleh bom nuklir. Malah, sudah ada yang menduga “pelakunya” adalah pemerintah Israel, yang menyasar gudang bahan peledak milik Hizbullah, ormas paramiliter Syiah yang punya basis operasi besar di Libanon.

Perkembangan informasi seputar ledakan Beirut ini bisa menjadi contoh nyata, bagaimana teori konspirasi sekarang berkembang sama cepatnya dengan laporan terbaru mereka yang jadi saksi di lokasi.

Redaksi Motherboard menghubungi pakar nuklir untuk menguji teori konspirasi tersebut. Pakar punya pendapat yang tegas: ledakan di Beirut bukan efek dari bom nuklir. Tak ada tanda-tanda proses pelepasan radiasi sama sekali.

“Jelas bukan nuklir. Ledakan di Beirut tak ada seujung kukunya dari efek bom nuklir kecil,” kata Jeffrey Lewis kepada Motherboard, selaku Direktur Middlebury Institute of International Studies yang rutin mengkaji proses pelucutan nuklir di berbagai negara. “Selain itu, proses ledakan nuklir tidak diawali dengan asap membumbung seperti di Beirut, sebagaimana kita saksikan dari rekaman amatir di media sosial.”

Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Libanon, saat diwawancarai BBC, menyatakan sumber ledakan kemungkinan gudang yang beroperasi di pelabuhan sejak 2014. “Ada laporan kalau pemicunya adalah bahan peledak yang pernah disita aparat hukum beberapa waktu lalu,” kata Mayjen Abbas Ibrahim.

Meski sudah ada keterangan resmi semacam itu, tetap saja sebagian influencer medsos bisa melontarkan twit tak bertanggung jawab seperti berikut:

Screenshot.PNG

Palmer, yang akhirnya menghapus twit ngawurnya di atas, adalah mantan koresponden ESPN. Dia punya 100 ribu follower di Twitter. Akibat twitnya yang termasuk pertama berspekulasi ekstrem, beberapa situs konspirasi segera menyebar teori yang sama, kalau ledakan di Beirut adalah efek bom nuklir. Bahkan, ada dua situs segera menuding Israel bertanggung jawab, tanpa ada bukti atau konfirmasi kepada narasumber kompeten.

Dalam pemberitaan awal, dilaporkan bila ledakan ini akibat gudang kembang api di pelabuhan. Teori itu jauh lebih masuk akal dibanding bom nuklir, mengingat ledakan dahsyat akibat kebakaran gudang kembang api beberapa kali terjadi sebelumnya. Tahun ini saja, ledakan kembang api terjadi di pabrik kawasan Tiongkok dan Turki.

Sebagian lainnya ikutan hype konspirasi nuklir, dengan mendramatisir ledakan tersebut seperti postingan berikut:

Screen Shot 2020-08-04 at 12.43.04 PM.png

Satu-satunya “bukti” yang bisa mendukung keyakinan para penganut teori konspirasi adalah munculnya awan jamur. Namun, berkebalikan dengan pemahaman awam, bom nuklir dan hidrogen tidak selalu ditandai dengan awan jamur.

“Sebab, awan jamur juga bisa dihasilkan oleh ledakan akibat bahan kimia tertentu dalam jumlah besar,” kata David Dearborn, fisikawan di Yayasan Lawrence Livermore National Laboratory saat diwawancarai Scientific American pada 1999.

Ledakan kilang minyak di Texas pada 2008 juga menghasilkan awan jamur. Begitu pula kecelakaan di pabrik pupuk Texas 2013. “Salah satu penanda awan jamur akibat bom nuklir adalah warnanya. Sementara yang warna ledakan awal Beirut adalah oranye, menandakan tidak cukup panas seperti nuklir yang biasanya sangat putih,” kata Alex Wellerstein, peneliti nuklir di the Stevens Institute, saat berkomentar di Twitter.

Lewis meminta masyarakat awam berhenti dulu berkonspirasi, karena tak membantu sama sekali proses evakuasi korban di Beirut. Tapi dia yakin, penganut teori konspirasi memang sudah tidak bisa diajak pakai logika. Apalagi sama sekali tidak ada indikasi radiasi di Beirut, yang pasti sudah terpantau oleh beberapa lembaga pemantau nuklir di Asia dan Eropa.

“Mereka tidak akan bisa disodori fakta-fakta,” kata Lewis. “Ini ibaratnya orang di jalan ngeyel baru saja melihat Lamborghini padahal yang mereka tonton sebenarnya cuma truk sampah. Saya tidak bisa berkomentar selain ‘maaf, yang kalian yakini keliru’,” kata Lewis.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard