Apalah Arti Sebuah Nama?

Begini Rasanya Jadi Anak Muda Indonesia Bernama Asli 'Master Hitler'

"Di satu sisi [namaku] lucu ya, tapi di sisi lain itu kan tragis," kata Hitler yang tak memiliki kumis kotak itu saat diwawancarai. 'Apalah arti sebuah nama?' kata pujangga. Lha ini nama terinspirasi penjahat Perang Dunia II coy, surem dong.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
01 November 2018, 10:57am

Ilustrasi oleh Farraz Tanjoeng

Orang-orang bernama Budi di Indonesia boleh jenuh namanya muncul di tiap buku pelajaran. Orang bernama Agus dan Asep tergerak membentuk perkumpulan karena mungkin terlalu banyak orang yang punya nama sama seperti mereka. Nama pasaran kini coba dihindari. Orang ingin sekali anak-anaknya mempunyai nama yang khas. Apalagi di Indonesia. Semakin panjang dan semakin sulit dieja namanya, makin dianggap bagus. Tapi bagaimana jadinya, ketika namamu tiada duanya di planet ini, gara-gara di akta hingga KTP tertulis: Hitler. Masihkah kau bangga tak punya nama pasaran macam Asep atau Budi?

Pujangga William Shakespeare beberapa kali dituduh jadi sumber pemeo populer “apalah arti sebuah nama?” Katakanlah benar itu kutipan karyanya, kita wajib ingat kalau namanya William, bukan nama-nama tak lazim yang berpotensi jadi sumber perundungan di Inggris semasa ia hidup.

Di Indonesia, banyak etnis punya pola pemberian nama anak yang unik. Makanya, dua tahun lalu sempat viral nama-nama orang yang dianggap unik. Mulai dari nama “Slamet Hari Natal”, “Satria Baja Hitam”, sampai “Anti Dandruf”. Buat sebagian orang beruntung yang lahir dengan “nama-nama keren”, atau minimal 'pasaran', kegiatan menertawakan nama unik orang lain seakan-akan jadi kepuasan tersendiri.

Sayangnya, punya nama mirip sosok paling keji dalam sejarah Abad 20 jelas berisiko mendatangkan beban tersendiri. Tiap berkenalan, lawan bicaramu mendadak teringat sosok yang bertanggung jawab atas pembantaian massal jutaan warga Yahudi dan minoritas di bawah kekuasaan Nazi Jerman.

Setelah Perang Dunia kedua, nama Hitler menjadi sorotan banyak pihak yang penasaran: masih adakah orang yang bernama Hitler di Bumi dan apa yang terjadi dengan mereka? Pertanyaan ini muncul di berbagai forum, termasuk di forum The Guardian dan Quora. Bayi yang dinamai Adolf masih cukup banyak. Tapi kalau Hitler? Ternyata ada saja lho, walau tidak sampai ratusan. Sutradara Matt Ogens sampai bikin dokumenter kehidupan orang-orang yang hidup setelah Perang Dunia Kedua yang sengaja atau tanpa sengaja diberi nama Hitler oleh orang tua mereka.

Di negara-negara yang akrab dengan tragedi Holocaust dan punya sejarah panjang rasisme, memiliki nama Hitler mengindikasikan persoalan serius: jika keluarga atau dia bukan simpatisan ideologi Nazi, jelas ada beban besar yang mengikutimu sepanjang hidup. Sebaliknya di Indonesia, narasi sejarah rasisme dan politik identitas supremasi kulit putih tak banyak diajarkan di pendidikan dasar dan menengah, kecuali soal betapa kolonial Belanda datang untuk memperbudak orang-orang Kepulauan Nusantara berkulit coklat.


Tonton wawancara VICE bersama penulis Norman Ohler yang percaya Hitler memakai narkoba dan teler di tengah Perang Dunia II:



Hitler di Indonesia tak jarang malah dianggap sebagai simbol keberanian, patriotisme, anti-Yahudi, atau bahkan ‘keren’. Lihat saja kampanye politik Pilpres 2014 untuk calon presiden Prabowo Subianto yang dilakukan musisi Ahmad Dhani dengan pakaian bernuansa Nazi. Pantas pula jika publik ada yang berusaha membela kelakuan Syahrini di Museum Holocaust.

Jangan lupa juga bagaimana pada 2017 lalu sebuah museum Yogyakarta memajang patung Hitler dengan latar belakang kamp konsentrasi Auschwitz untuk sarana atraksi selfie pengunjung. Bahkan pemikir sekaligus Indonesianis terkemuka, Ben Anderson pernah menyebut presiden pertama Indonesia Sukarno menyampaikan pidato penuh nada kekaguman pada konsep Third Reich yang dicetuskan Hitler. Intinya fasisme, rasisme, dan politik identitas malah masih laku di Indonesia, sebab banyak orang tak menyadari betapa bermasalahnya perilaku Nazi di masa lalu.

VICE lantas bertemu anak muda Indonesia yang menanggung nasib tak enak tadi di semua dokumen resminya. Sila cek KTP, Kartu Keluarga, akun BPJS, sampai ijazah sekolahnya. Semua mencantumkan nama yang bikin kening berkerut itu: Master Hitler.

Lelaki yang usianya kepala tiga ini mengakui punya beban tersendiri karena tumbuh besar menyandang nama Hitler. Bayangkan, dua dekade terakhir harus dia lewati dengan kesadaran penuh bahwa namanya punya konotasi buruk di Eropa. Tapi profesinya betul-betul tidak ada kaitannya sama sosok keji di Jerman dulu. Hitler dari Indonesia itu menekuni profesi sebagai akuntan.

Kepada VICE, Hitler dari keluarga Batak Toba ini bercerita betapa nama pemberian yang ia jaga sampai sekarang itu lebih mirip tragikomedi. "Di satu sisi [namaku] sih lucu, tapi di sisi lain itu kan jadi tragis."

Berikut cuplikan obrolan kami:

VICE: Siapa sih nama elo yang sebenarnya?
Master Hitler:
Kalau nama sesuai akta itu Master Hitler, tapi kalau di kartu keluarga itu ada nama marga gue, Marpaung. Jadi kalau di ijazah yang semua berhubungan dengan pendidikan kan pakai akta tuh, jadi “Master Hitler” tapi kalau di KTP sama kartu keluarga jadinya Master Hitler Marpaung.

Pernah nanya sama orang tua apa arti nama Master Hitler?
Kebeneran gue orangnya cuek, jadi ya sudah itu jadi misteri aja sih. Cuma bebannya ada di gue tetap. Salah satunya karena kan gampang diingat orang yah.

Apa aja pengaruh yang elo rasain gara-gara nama?
Ada plus dan minusnya sih. Minusnya yang pertama, di sekolah misalnya ada dosen atau guru dari TK atau SD pasti mereka nyari nama orang yang aneh untuk terus-terusan dikasih pertanyaan di kelas. Sementara itu, gue bukan anak yang aktif, pinter banget atau yang tipe leader gitu. Gue selalu berusaha untuk nggak terlalu kelihatan, tapi gue malah dipanggil terus. Misalnya dosen nih dia nanya terus “ya,Hitler ini apa jawabannya?” Padahal gue lagi ngantuk, karena hobi gue tidur di kelas. Jadi aduh ini bisa jadi backfire. Enggak menguntungkan. Untung kalau lagi bisa jawab pertanyaan dosennya, kalau enggak yasudah seumur hidup dosen bakal underestimate kita.

Nah itu kan yang sederhana, kalau beban yang rumit kayak gimana?
Ada, misalnya kalau kita mau apply kerja. Kalau di perusahaan lokal sih nggak masalah, tapi kalau di perusahaan multinasional itu bisa jadi masalah. Dua kali kejadian sih pas gue lamar kerja di perusahaan multinasional. Jadi yang pertama itu, ceritanya gue sudah wawancara sama expats bosses di Indonesia, dan semua sudah oke lah, tapi kan masalahnya nggak berhenti sampai interview dengan bos di Indonesia saja. Untuk certain level, CV kita harus dikasih ke regional untuk di-review.

Pas masuk ke seleksi regional, gue ditolak. Padahal gue direferensikan sama teman gue yang jadi konsultannya di perusahaan yang sama. Waktu CV gue dikirim ke regional itu ternyata umur CEO-nya sekitar 50-60-an yang ternyata punya darah Yahudi. Asumsi gue, mungkin dia punya pengalaman buruk lah, atau mungkin orang tua atau saudaranya ada yang jadi korban juga, jadi agak sensitif kan. Sampai si orang itu nanya ke management yang di Indonesia, "are you sure you want to hire this person?" Di satu sisi sih lucu ya, tapi di sisi lain itu kan jadi tragis.

Insiden kedua akibat nama kembali begitu, yang kedua itu benar-benar nggak tahu kenapa gue apply. Pas gue udah apply, manajemen lokalnya sudah oke, lalu dilempar lagi ke regional untuk video call interview. Pas pihak regional itu menjanjikan jadwal video call, tiba-tiba lewat seminggu sampai dua minggu enggak ada kabar. Ternyata, temen gue tiba-tiba tahu kalau gue apply ke perusahaan itu, dan dia nanya “eh lo apply ke company ini ya? Dulu orangnya bekas klien gue, terus dia cerita lagi mau rekrut orang namanya Master Hitler tapi kebetulan enggak bisa diproses sama regional karena namanya.

Waktu kecil pernah bertanya-tanya enggak “kenapa nama gue ya yang paling diingat sama orang?”
Waktu kecil sih diceritain bahwa (Hitler) pernah genocide kelompok tertentu. Itu gue diceritain sama orang-orang dan kakak. Mulai ngerti itu pas mulai masuk TK besar. Di satu sisi waktu kecil sih biasa aja, makin lama gue kesel juga, gue kan tipenya yang stay low nggak mau standout. Gue nggak tahu kenapa gue dikasih nama Hitler, mungkin karena bokap gue orangnya iseng kali yah. Hal yang gnama gue “Master” itu karena nyokap pengen at least gue bisa S2 lah. Mungkin alasan nama “Hitler” biar gue cari-cari aja sendiri.

Ada ga keuntungan punya nama “Hitler”?
Keuntungannya mungkin orang jadi cepat ingat gue. Dari situ gue jadi belajar untuk jaga nama. Kalau nama gue mungkin orang bakal inget, jadi once gue kasih mereka kesan jelek mungkin mereka akan inget gue seumur hidup.

Elo pernah khawatir enggak dibolehin masuk Uni Eropa atau Jerman gara-gara nama?
Gue pernah nanya ke temen yang kerja di maskapai dan dia punya branch office di Belanda. Dia bilang sih harusnya enggak masalah. Zaman sekarang seharusnya sudah lebih open minded orang-orang. Tapi temen gue itu ngasih tahu aturan imigrasi di Uni Eropa secara lisan yah. Sejauh ini gue pergi ke negara-negara yang nggak pakai visa aja.

Gimana cara memperkenalkan diri di depan orang baru? Kayak gimana reaksi orang yang pertama kenalan sama elo?
Awalnya gue suka disangka bohongan, palingan panggilan doang. Tapi waktu dikasih tahu nama gue itu betulan, pasti mereka langsung pengin lihat KTP. Gue sih lihatin tapi gue nggak mau KTP gue difoto. Tapi maksa-maksa minta ditunjukin ke orang baru biasanya teman yang sudah gue kenal.

Gimana kalau kenalan sama orang asing, misalnya orang Jerman? Gimana reaksi mereka?
Kebetulan baru-baru ini gue kenalan sama anak muda kuliahan orang Jerman ada beberapa. Itu pas April kemarin ada marathon di Jogja dan kita ikutan tour sunrise gitu. Nah kita kenalan, dia nanya nama gue siapa, gue jawab “Master”. Terus gue iseng nih ke dia “elo mau tau nama tengah gue enggak?”. Soalnya nama “Master” aja udah bikin awkward situasinya. Terus gue jawab aja nama tengah gue “Hitler”. Trus dia langsung, "Nooooo waaaay!"

Tapi dia ketawa-ketawa gitu soalnya muka dia bingung dan kaget. Karena mungkin dari perspektif mereka nama itu adalah aib dan itu masa lalu kelam yang enggak mau dibahas. Tapi ini malah ada orang dikasih nama itu.

Elo pernah kepikiran ganti nama aja biar enggak ribet lagi?
Kalau kata teman-teman gue sih ya tinggal ke pengadilan saja ganti nama kan. ‘H’-nya dihilangin kek atau gimana kek. Tapi gue pikir kalau ganti nama kayaknya enggak sih. Gue jalanin aja kecuali kalau sudah mentok banget. Kalau misalnya nama gue sudah benar-benar bikin gue mentok dan bikin gue nggak bisa memenuhi cita-cita gue, ya mungkin. Tapi kemungkinannya tipis sih. Lagian kan [Master Hitler] sudah jadi identitas gue.