Kolase foto oleh Dicho Rivan. Sumber: akun Youtube komunitas Eden dan Wikimedia Commons/ CC lisensi 2.0

Aku Membahas Proses Datangnya Kiamat Bersama Pengikut Lia Eden

Komunitas Eden percaya bakal diselamatkan UFO saat hari kiamat kelak. Setelah berulang kali dipersekusi pemerintah, mereka bersedia membuka diri kepada VICE.

|
Apr 11 2018, 11:03siang

Kolase foto oleh Dicho Rivan. Sumber: akun Youtube komunitas Eden dan Wikimedia Commons/ CC lisensi 2.0

VICE Indonesia merilis rangkaian cerita mengenai gagasan distopia maupun utopia di negara ini, bersamaan dengan tayangnya VICE Magazine Edisi Dystopia and Utopia. Untuk artikel perdana, kami menyoroti Komunitas Eden di Jakarta. Gerakan agama baru ini nyaris dua dekade berupaya membangun surga di bumi, sekaligus aktif meramalkan datangnya kiamat walau rutin dikriminalisasi pemerintah. Berikutnya, VICE mengangkat cerita tentang mereka yang percaya utopia Kerajaan Nabi Sulaiman di Tanah Air, kota buatan sebagai antitesis Jakarta, serta ambisi tinggal di pulau terpencil tanpa piranti modern.


Perasaan euforia membanjiri kepalaku, ketika menyadari sebentar lagi aku akan berada di surga dunia. Setengah tak percaya, aku menapakkan kaki di tempat ini: markas Komunitas Eden. Di rumah bertingkat bilangan Bungur, Jakarta Pusat, para pengikut Eden berkumpul melewati hari-hari dan mengabdikan diri pada Tuhan dengan cara yang mereka percaya. Rumah inilah yang disebut sebagai surga dunia oleh para pengikut Eden.

Sekira 13 tahun lalu, ketika aku masih kecil, tempat ini—atau lebih tepatnya komunitas ini—tak lebih dari sekadar berita yang selintas lalu lewat di teve. Tak sedikitpun terbayang setelah dewasa aku menyambangi rumah tempat mereka tinggal.

Aku masih ingat betul saat aku SMP, sekitar 2005, beragam teve dan media cetak santer menyiarkan berita soal tertangkapnya orang yang dianggap “sesat” karena mengaku-ngaku sebagai “nabi” atau “malaikat”. Mayoritas penduduk (dan media) menganggapnya “gila” sekaligus mencap perempuan ini “delusional” karena imannya berbeda dari kepercayaan lazim penduduk Indonesia. Dia adalah Lia Aminuddin, pimpinan dari komunitas Eden, yang oleh pengikutnya sering dipanggil Paduka Bunda Lia.

Misiku ke rumah ini satu: Aku hendak mencari tahu mengenai konsep kiamat yang dipercaya Eden, komunitas eskatologis yang paling tersohor di Indonesia, sekaligus yang paling ditabukan oleh kelompok keagamaan ortodoks Tanah Air. Bagaimana mereka membayangkan hari akhir? Apa yang bisa kita lakukan agar selamat dari penghakiman? Maka awal Maret lalu, berangkat lah aku ke sana meski belum bikin janji sama siapapun dari komunitas Eden.

Memasuki rumah di kelurahan Bungur yang jadi tempat tinggal anggota Komunitas Eden. Foto oleh Ananda Badudu

Aku terlalu kikuk, bahkan untuk memencet bel rumahnya saja aku dibantu warga sekitar. Kepalaku masih dipenuhi banyak prasangka soal betapa tertutupnya komunitas ini. Aku takut nanti langsung ditolak mentah-mentah. Singkat cerita aku beranikan diri, bel pun berbunyi. Tiba-tiba muncul suara menggema tanpa rupa, “dari mana dan mencari siapa?”

Aku kaget setengah mati! Ah, ternyata itu hanya CCTV dan pengeras suara. Sesaat aku pikir bisikan wahyu Tuhan. Tak lama berselang, seorang perempuan paruh baya berusia 60-an membukakan pintu bagiku.

Ia memperkenalkan dirinya padaku, tapi sesuai kesepakatan Ia menolak disebutkan namanya di dalam artikel, karena perintah Tuhan tidak membolehkan anggota manapun menonjolkan diri. Ia bercerita bahwa sudah lebih dari 21 tahun ia bergabung bersama Komunitas Eden. Demi kelancaran cerita di artikel ini, aku putuskan memanggilnya pakai julukan Eden Satu.

Tak sepenuhnya salah menyebut rumah Eden sebagai surga dunia. Untuk ukuran rumah di Jakarta, tempat mereka tinggal memang enak, nyaman, dan asri. Kesan itu sudah terasa sejak aku duduk-duduk di teras rumah. Halaman depan mereka adalah replika kecil ‘surga di sudut Jakarta’. Pohon-pohon bunga tertata rapi, sementara itu gemericik air berasal langsung dari sebuah kolam ikan dengan air mancur. Rasanya mirip suasana vila di Puncak, bedanya di sini panas menyengat luar biasa. Saat kutengok ponsel, sampai 36 derajat celsius siang itu.

Aku kaget betapa ramah anggota Komunitas Eden menyambutku. Semua prasangka ludes sudah setelah aku duduk dan disuguhi air Eden, air yang bersumber dari mata air Eden, yang dipompa langsung dari dalam tanah di bawah rumah Eden. Konon Lia Aminuddin sendiri lah yang menemukan mata air itu. Suatu hari saat sedang duduk-duduk di depan rumah, ada bola cahaya melesat dan menghujam bumi tepat di tengah rumah Eden. Rupanya cahaya itu mendarat di mata air Eden, sumber air yang mereka pakai untuk minum setiap hari. Air itu langsung dialirkan melalui keran dan menurut mereka bisa langsung diminum.

“Silahkan diminum, ini air Eden. Di rumah ini kami punya tiga mata air,” kata Eden Satu yang kembali dengan membawa gelas bertangkai berisi air sirup kelapa. “Yang di depan ini rasanya agak payau, nah ini yang untuk minum rasanya agak manis, sedangkan yang di belakang rasanya asin untuk pengobatan.”

Minum air Eden yang mengucur dari keran di halaman depan. Foto oleh Ananda Badudu

Aku tak pikir panjang, pasrah lah aku tenggak saja air keran dari dalam tanah Jakarta Pusat yang punya reputasi buruk itu.

Tak lama, Eden Satu menghampiriku. Dia berkata Komunitas Eden tak lagi menerima wawancara untuk liputan maupun riset, terutama setelah Paduka Bunda Lia Eden—pimpinan komunitas tersebut—bebas dari hukuman penjara. Aku kecewa. Aku siap berbenah pergi meninggalkan markas Eden.

Mendadak seorang anggota komunitas lain datang, kita sebut saja ia Eden Dua. Ia mengucap salam, membungkukkan badannya. Ia datang dengan sebuah kabar yang Ia bisikkan pada Eden Satu, setelah mereka bertanya pada Tuhan melalui Paduka Bunda Lia, aku diizinkan melakukan wawancara dan peliputan. Satu saja syaratnya: wawancara hanya membahas soal “hari akhir.” Tidak kurang, tidak lebih. Ini kali pertama mereka bersedia bicara pada media setelah bertahun-tahun diam. Bagi dua orang di hadapanku, perintah bunda mengejutkan.

“Barusan Paduka Ruhul Kudus, Paduka Bunda mengatakan kenapa Zia diterima, karena fokus penulisannya di doomsday (kiamat). Karena kedatangan Paduka Ruhul Kudus ke Bumi sesungguhnya untuk membawa manusia terselamatkan,” ujar Eden Dua yang membawa kabar baik tersebut.

Dari situ, dan dari beberapa pengalaman setelahnya, aku baru sadar kalau hampir seluruh kegiatan yang hendak dilakukan oleh anggota komunitas Eden selalu ditanyakan dulu pada Tuhan, melalui Paduka Bunda Lia. Ketika kami menurunkan tulisan ini, pihak komunitas Eden menolak jika nama masing-masing orang disebutkan dalam tulisan, karena mereka mengaku sedang berada dalam proses penyucian.

Dalam masa penyucian, mereka pantang menonjolkan diri. Mereka pun menolak difoto, kendati mengizinkan kami memotret rumah bagian depan dan ruang tengah tempat ritual keagamaan penting dilakukan. VICE juga diizinkan mengambil foto mereka di situsweb resmi.

Dalam perbincangan, berulangkali mereka berusaha membatasi pertanyaan. Sedikit saja pertanyaanku dianggap “melenceng” dari kesepakatan soal “hari akhir”, mereka buru-buru memotong. “Eh tapi kayaknya enggak usah dibahas sampai ke situ, Arzia hanya ingin bertanya soal doomsday, bukan?” tanya mereka.

Pintu depan rumah Komunitas Eden. Foto oleh Ananda Badudu.

Hari akhir adalah salah satu konsep paling menarik yang dibawa oleh komunitas yang menyebut kelompok mereka sebagai “Institusi Surga dan Kerajaan Tuhan” ini. Eden menolak disebut kultus, justru Eden mengklaim anti pada pengkultusan, mereka berpendapat tokoh yang mendapat pengkultusan akan mendapatkan balasan dari Tuhan yang berat. Hal tersebut sempat membuatku bingung, lantas ada dalam posisi manakah Lia Eden?

"Salamullah itu dilarang mengkultuskan, Paduka Bunda Lia Eden sebatas orang yang mendapat mandat dari Tuhan,” ujar salah satu dari mereka. Setelah persekusi dan berbagai penghakiman yang menimpa kelompok ini, Eden berikrar menjalani penyucian menjelang akhir zaman, agar mereka selamat dibawa ke surga di Bumi dalam galaksi yang lain.

Video di atas adalah rekaman doa pengikut komunitas Eden

Penyucian yang dijalani Eden 1 dan Eden 2 tak lain adalah upaya persiapan menjelang hari akhir yang menurut mereka akan terjadi sebentar lagi. Salah satu bagian Komunitas Eden yang bicara padaku menjelaskan bahwa Tuhan mengadakan penyelamatan manusia menjelang kiamat. Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang telah melewati masa penyucian. Mereka yang pada hari akhir masih hidup dan terpilih, akan dibawa oleh Tuhan ke Bumi baru yang masih segar, baik, dan memiliki peradaban yang lebih tinggi dari yang ada sekarang.

“Peradaban surga namanya [di Bumi yang lain]. Nanti ada kategori-kategori. Yang tidak terpilih akan tertinggal di bumi ini dan melalui proses kiamat, ada [juga] yang berubah kodrat. Tuhan punya kategori sesuai dengan karma perbuatan masing-masing.”

Aku sejenak berpikir, menerka, lalu coba bertanya. Galaksi lain? Bumi yang lain? Pemindahan manusia? Ke mana? Mereka akan ke sana pakai apa?

“Ya pakai pesawat!” ujar Eden Satu.

Eden Dua lalu menimpali, “UFO! Semacam UFO!”

Ngobrol-ngobrol dari jam 12 siang hingga 4 sore bersama Eden 1 dan Eden 2 yang tak mau tampil di dalam foto.

Mei 2015 lalu, Komunitas Eden pernah mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta izin melakukan pendaratan UFO Jibril di Monas. Lia mengirimkan surat tersebut dalam sebuah boks biru berisi tujuh buah amplop dan beberapa DVD. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Jibril datang ke Jakarta dengan menunggangi Unidentified Flying Object (UFO) adalah untuk mengangkat para rasul Eden menuju ke kediaman baru di galaksi yang lain. Saat itu, Komunitas Eden mengaku tidak mendapatkan respon apapun dari Jokowi. Pada tanggal tersebut, tak pernah ada UFO yang pernah mendarat di Monas.

Eden menyebut peristiwa tersebut sebagai “uji coba pendaratan." Menurut mereka memang belum saatnya hingga Tuhan menurunkan ilmu pada ilmuwan dunia untuk membuat UFO. Mereka merasa dipermalukan di depan publik, apalagi dengan peliputan media yang menyoroti langkah mereka menyurati Jokowi. Namun mereka menyebut kejadian tersebut sebagai salah satu fase awal penyucian. Agar Tuhan melihat kekukuhan mereka.

“Jadi kita sendiri sudah tahu bahwa pada saat itu kita tahu bahwa itu ujian buat kita. Bagaimana kita dipermalukan habis oleh Tuhan terhadap publik. Ketika kita sudah teruji kita kukuh,” kata Eden Dua. “Setelah kejadian Monas itu, Tuhan menurunkan banyak sekali wahyu-wahyu yang luar biasa, dan baru ilmunya. Bagaimana wujud Tuhan, bagaimana bumi ini. Nah itu turunnya setelah periode Monas.”

Lantas siapa saja umat yang terpilih? Siapa yang berhak menumpang UFO pemberian Tuhan itu? Komunitas Eden yakin mereka yang berhasil melewati proses penyucian niscaya turut dibawa untuk diselamatkan. Tapi apakah mereka satu-satunya yang diselematkan? “Kami enggak mau bilang seperti itu. Tapi yang jelas kami bukan satu-satunya, karena surga di bumi ada dua, satu lagi di Yerusalem. Mereka juga dibawa nanti,” kata Eden dua.

Sesudah nubuat UFO di Monas, banyak wahyu lain menyusul. Beberapa bisa dilihat melalui website komunitaseden.com yang kini sudah diblokir oleh Pemerintah Republik Indonesia. Situs tersebut hanya bisa diakses menggunakan akses VPN. Ada wahyu, sebagai contoh, yang menyatakan bahwa wujud “Tuhan” adalah bulat.

Lantas, apa saja tanda-tanda kiamat itu versi Eden? Ternyata menurut mereka tanda-tanda akhir zaman sudah terlihat sekarang. Fenomena seperti menghilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370; kemunculan sinkhole yang dibuat oleh para alien jahat; hujan darah; hujan ikan, katak, cacing, dan daging; fenomena pelepasan gas metana dari lapisan es abadi dan luapan gas di berbagai belahan bumi, salah satunya Lumpur Lapindo. Itu semua adalah tanda-tanda akhir zaman versi mereka.

Satu lagi yang tak kalah penting adalah perang nuklir. “Ancaman terbesar kehancuran bumi dan umat manusia itu kan perang, perang nuklir. Jadi itu yang sebetulnya dihindari. Karena dampaknya terlalu besar... manusia juga akan musnah kalau terjadi perang nuklir,” kata Eden Dua. “Jadi program penyucian umat manusia itu sebetulnya untuk menghindari terjadinya perang nuklir,”

Aku menghabiskan sore di teras rumah Komunitas Eden

Eden Dua mengatakan bahwa permasalahan paling krusial di Bumi saat ini yang mengarahkan Bumi pada bencana besar sudah dapat dilihat gejalanya. Ironisnya, jika agama semestinya hadir sebagai sumber damai semua umat di Bumi, ternyata menurut Komunitas Eden, bencana justru datang dari konflik antar-agama itu sendiri. Itulah sebabnya menurut Eden, Tuhan hendak meniadakan semua bentuk agama di Bumi.

“Agama dipakai untuk kebanggaan diri sendiri, untuk kekuasaan. Jadi akhirnya Tuhan menghapuskan agama, di Eden yang penting adalah absolute monotheism,” kata Eden Dua menjelaskan. “Percaya seutuhnya kepada Tuhan, tapi tidak ada lagi agama secara institusi, yang ada adalah konsep ketuhanan.”

Konsep penetralan agama inilah yang saat ini yang jadi tujuan orang-orang di Eden. Konsep inilah yang disebut salah satu peneliti Eden, Al Makin, sebagai salah satu bentuk kritik dan pendobrakan atas ortodoksi agama-agama tradisional dalam masyarakat. Eden berpendapat bahwa agama semestinya adalah corong perdamaian. Namun yang terjadi saat ini sebaliknya.

Prosesi pernikahan di Komunitas Eden. Sumber foto: komunitaseden.com

Komunitas Eden tak setuju dengan hasil penelitian Al Makin. Akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu dianggap sebagai peneliti yang ceroboh karena memelintir informasi agar sesuai dengan kerangka berpikirnya. Al Makin pernah meneliti Komunitas Eden, dan komunitas-komunitas keagamaan lokal lain, selama hampir delapan tahun lamanya. Penelitian itu lantas dibukukan, judulnya Challenging Islamic Orthodoxy: Accounts of Lia Eden and Other Prophets in Indonesia, setebal 244 halaman.

Merujuk penelitian tersebut, Ia menggolongkan Eden sebagai gerakan agama baru alias New Religious Movement (NRM). Dalam istilah antropologi, komunitas Eden mengusung ajaran “milleniarsme” atau “mahdiisme”. Intinya kepercayaan macam ini percaya bahwa dunia sudah mengalami dekadensi moral, sehingga akan segera kiamat. Maka, menjelang hari akhir, dibutuhkan sang mahdi, sang juru selamat.

Menurut Al Makin, fenomena kemunculan Eden dan NRM lainnya sebetulnya sangat lazim di Indonesia. Kemunculan NRM menjadi bentuk respon terhadap realita. Al makin menerangkan, bahwa sejak 1999, ada banyak kelompok agama baru mulai lahir yang ajaran utamanya berdasar pada konsep hari akhir. Kebanyakan NRM lain muncul sebagai respons krisis politik yang terjadi di republik ini saat reformasi, atau anggapan bahwa 99 adalah angka terakhir, sehingga 1999 adalah akhir zaman. Satu lagi persamaan yang membuat NRM khas di Indonesia sejak zaman kolonialisme: sinkretisme ajaran berbagai agama tradisional.

Bunda dan pengikutnya saat berkumpul bersama. Foto dari komunitaseden.com

Di sisi lain, Al Makin menganggap Eden punya keistimewaan dibandingkan dengan 1.300 gerakan agama baru lain yang pernah ada di Indonesia. Ia secara tegas menyebut Eden pemberani, bisa bertahan, dan menawarkan kritik terhadap establishment dan ortodoksi agama. Bagi Al Makin, solusi yang ditawarkan Eden pun gamblang. Misalnya, Eden membaca hampir semua kitab-kitab suci agama-agama established di dunia seperti Injil, Weda, Al Quran, dan lain-lain. Menurut Al Makin, dengan demikian Eden sanggup meluaskan pandangan dan menjadikan kelompok mereka inklusif.

“Eden ini satu-satunya yang berani mengritik di pengadilan. Dua kali masuk penjara, dua-duanya dia tegas mengkritik Islam sebagai sebuah tradisi, sebuah masyarakat. Jangan sempit [memandang Islam] hanya sebagai kekuatan teologi, dan saya suka,” kata Al Makin saat kuhubungi terpisah. “Anda tahu bahwa Islam ini sangat sulit dikritik. Mengkritik Islam ini hanya bisa di Indonesia, enggak mungkin mengkritik di Saudi, apalagi di Afghanistan,”

Al Makin memandang kritik Eden justru kuat karena relevan dengan masalah kekinian. Di saat orang-orang takut untuk mengkritik Islam, Eden justru berani terang-terangan. “Kritik terhadap kekerasan, radikalisme, dan konservatisme. Umat muslim di Indonesia masih sangat teologis, sensitif. Fatalnya, politisi kita memanfaatkan itu,” kata Al Makin.


VICE peduli dengan kultus yang bermunculan di Indonesia. Berikut dokumenter kami mengenai sekte penghapus utang dengan misi mengembalikan harta Soekarno kepada rakyat di Cirebon:


Sebagai akademisi Al Makin memandang ada beberapa kritik terhadap Eden. Al Makin sadar betul Eden tidak senang terhadap kritiknya sebagai akademisi. Misalnya sifat Eden yang kini tertutup dan tidak melakukan rekrutmen ataupun konversi dan cenderung eksklusif. Eden tidak melakukan syiar ajarannya, yang dilakukan hanya menuliskan wahyu-wahyunya dalam situs dan kanal YouTube mereka.

Hal ini membuat mereka sekarang digolongkan sebagai world-rejecting movement, cenderung menutup diri. Padahal komunitas Eden sebelumnya masuk kategori world-affirming movement, di mana kegiatan mereka bisa diikuti siapapun yang bukan tergolong kelompoknya. Dampaknya, pesan peringatan Eden terutama soal akhir zaman sulit disebraluaskan kepada khalayak luas.

Eden sendiri baru-baru ini mengeluarkan respon setebal 101 halaman atas penelitian Al Makin yang dianggap “salah kaprah”, lantaran memakai wahyu-wahyu yang telah dihapuskan. Eden mengeluarkan kritikan balik atas pandangan Al Makin dan menyatakan bahwa Eden tidak bisa dipandang dengan skeptisisme. Eden menjelaskan pula bahwa ada beberapa wahyu yang menjadi materi buku Al Makin tak relevan lagi.

Proses pembuatan video untuk menyiarkan wahyu. Diambil dari komunitaseden.com

Siang itu juga, aku pamit dari kediaman Eden. Aku harus mengakui bahwa aku suka konsep universal dan inklusivitas Eden dalam merespon realita kekinian. Eden menawarkan hal baru yang seringkali dianggap keluar dari konsep yang rigid. Dan mereka berani dan konsekuen atas kepercayaan itu. Dipenjara dan dipersekusi tak melunturkan keyakinan mereka. Eden membantuku meredefinisi surga, yang selama ini kerap dianggap sebagai pencapaian akhir bagi manusia saleh.

Bahwa surga sebenarnya bukan soal yang ada nun jauh di sana, tapi surga ya apa yang kita hadapi sehari-hari di sini. Eden dan NRM lainnya akan senantiasa muncul dan terus ada sebagai respon dari realitas yang ada. Lantas, apakah mempersekusinya adalah hal yang tepat?

Kali ini aku benar-benar pamit. Tepat di dekat pintu keluar rumah berkelir putih ini, sebuah foto Lia Eden saat di dalam penjara dan sebuah kalimat di bawahnya terpampang besar seakan menjadi pengingat bagiku. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang istimewa hanya sebuah kalimat humanis yang tak banyak diingat orang selama komunitas ini terus menutup diri.

Kalimat itu tertulis: “Aku dipenjara untuk satu tujuan, demi kebebasan beragama yang penuh damai."

More VICE
Vice Channels