Iklan
Takut Patung

Duyung Ancol Dipaksa Pakai Kemben Wajar Kok, Bangsa Indonesia Kan Emang Takut Sama Patung

Apakah dalam "budaya ketimuran", orang gampang horni liat patung? Kalau ada manusia kayak gitu, tolong kabari redaksi VICE. Mau kita angkat jadi artikel.

oleh Adi Renaldi
26 Maret 2019, 10:25am

Patung Dewa Guan Yu di Klengteng Tuban terpaksa ditutup kain putih karena tekanan masyarakat. Foto oleh Aguk Sudarmojo/Antara Foto/via Reuters 

Dua patung putri duyung telanjang di Taman Impian Jaya Ancol ‘disensor’ pakai kain berwarna emas di bagian dada oleh pihak manajemen. Kebijakan tersebut viral sejak akhir pekan lalu. Padahal dua patung tersebut sudah bertahun-tahun berada di utara Jakarta. Kenapa baru sekarang dikasih kemben?

Pihak Taman Impian Jaya Ancol beranggapan tampilan patung tersebut, setelah dikaji internal oleh mereka, tidak sesuai budaya ‘ketimuran’. Manajemen memutuskan buat menutup auratnya. Lah, emang ada yang horni cuma gara-gara ngeliat patung? (Eh, kalau ada tolong kabari VICE supaya bisa dijadiin artikel).

"Kita kan orang timur kita budaya ketimuran jadi yang tadinya tidak terlihat pantes ya kita pantesin," kata Rika Lestari, selaku corporate communication manager Taman Impian Jaya Ancol, saat dikutip media. "Ini silakan saja berpersepsi masing-masing karena yang kami lakukan itu yang memang baik buat kita ya karena kita memang orang timur dan itu memang baik kenapa enggak."

Untunglah masih ada segelintir pengguna Internet yang sanggup menertawakan keputusan absurd tersebut. Mereka berbagi meme di kolom reply postingan Twitter The Jakarta Post yang pertama kali mengunggah laporan tersebut.

Tapi topik ini harus kita bicarakan lebih serius deh. Kalau udah menyinggung istilah “budaya ketimuran”, orang Indonesia sering kali berubah menjadi suci. Sementara kalau sudah menyangkut budaya barat, orang Indonesia bisa menjadi anti banget. Padahal budaya timur sendiri susah didefinisikan.

Misalkan kalau memakai bikini itu bukan budaya ketimuran, kenapa pula kita selalu rajin ikut ajang Miss Universe? Kalau musik ajep-ajep itu budaya barat, kenapa pula Djakarta Warehouse Project rutin digelar dan berhasil menggalang massa?

Penyensoran seni patung, sayangnya, tak cuma kali ini terjadi di Tanah Air.

Di Yogyakarta, saat pameran Museum Tanpa Tanda Jasa pada Oktober 2016, dua buah patung perempuan telanjang, karya seniman Cekoslovakia tahun 1938, harus rela diberi pakaian lantaran "dianggap meresahkan masyarakat." Pada 2017, saat raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud melawat ke Istana Bogor, sejumlah patung bugil di sana juga tak luput dari sensor. Kata pihak Istana, itu semata-mata demi "menghormati tamu-tamu."

Eh, enggak cuma patung bugil saja yang disensor. Patung simbol keagamaan juga enggak sepenuhnya aman dari gunting sensor. Di Tuban, Jawa Timur ada patung dewa perang besar yang harus rela ditutup kain putih, karena dianggap tak sesuai berada di tengah-tengah masyarakat muslim. Sementara di Magelang ada patung Buddha yang wajahnya mirip Abdurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, yang ditutup pada 2010.

Bicara soal patung yang dianggap enggak sesuai budaya ketimuran, dan mungkin bikin turn on, menunjukkan problem kebudayaan di Indonesia. Padahal nih ada fakta dari Kominfo: Indonesia adalah negara pengakses situs porno terbanyak ketiga di dunia, sebelum adanya sensor berupa filter permanen di mesin pencari Google.

Sejak zaman Orde Lama, dan menjadi lebih parah di era Orde Baru, Indonesia memang getol melakukan sensor terhadap apa yang enggak sesuai dengan budaya timur. Di era internet pun semangat "langsung main sensor" tak kunjung punah, dari mulai acara TV, musik yang dianggap cabul, media massa, hingga buku tak luput dari upaya sensor.

Walau, terus gimana nasib arca dan relief di candi-candi Hindu dan Buddha di seluruh Indonesia? Apa perlu disensor semua?

Repot memang hidup di negara yang sulit dibilang selalu menjaga nilai ‘ketimuran’, sementara ‘kebarat-baratan’ juga enggak. Akhirnya semua serba nanggung.

Saya sih ada sedikit masukan buat para seniman patung Tanah Air. Ada baiknya sekarang teman-teman perupa menyediakan kemben portabel atau kancut yang dijual terpisah. Paling enggak calon klien enggak perlu kebingungan kalau ternyata patung tersebut dirasa tak sesuai budaya ketimuran.

Tagged:
indonesia
Views My Own
Budaya
sensor
Opini
Konservatisme
Telanjang
Adat Ketimuran
Rezim Moral
Ancol
Patung Duyung Ancol