Iklan
Indonesia Bubar?

Kami Menawarkan Tiga Alternatif 'Kajian' Soal Skenario Indonesia Bubar 2030 Buat Prabowo

Memakai novel sebagai bahan prediksi nasib bangsa tak keliru. Cuma, daripada mengandalkan novel 'GhostFleet' doang, kami usul Capres Gerindra ini membaca tiga fiksi, eh kajian, sejenis.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
23 Maret 2018, 7:44am

Foto Prabowo Subianto oleh Maks Stirlitz/Wikimedia Commons/domain publik; foto reruntuhan pascakiamat oleh pixabay/lisensi creative commons 2.0.

Kalian yang baru dapat gaji lumayan terlanjur mengajukan Kredit Pemilikan Rumah? Ada yang bersiap menikahi kekasih? Atau berikrar skripsi kelar tahun ini? Bagus. Lakukan semua hal yang jadi cita-cita kalian sesegera mungkin, karena umur Indonesia, negara yang kalian tinggali dan cintai ini, tinggal tersisa 12 tahun lagi. Setidaknya itulah prediksi yang disampaikan Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tiga hari lalu yang segera bikin geger media sosial.

Kata-kata Prabowo yang mengejutkan itu berasal dari video di laman Facebook resmi Partai Gerindra. Dalam rekaman berdurasi 1 menit 11 detik tersebut, Prabowo berpidato penuh semangat, sembari bilang Indonesia akan bubar pada 2030 berdasarkan kajian yang dibuat oleh para peneliti di luar negeri.

“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar,” kata Prabowo.

Politikus 66 tahun ini menyinggung hampir seluruh tanah dan alat produksi di Tanah Air sekarang dikuasai elit, di saat rakyat kita cuma mendapat bagian seujung kuku saja.

Beberapa media segera menelisik, sebetulnya kajian yang dikutip Om Prabowo ini dari mana sih? Siapakah ilmuwan yang bilang Indonesia bakal bubar 12 tahun lagi?

Rupanya, Prabowo gemar sekali (kalau bukan hobi) menyebut potensi ambruknya Indonesia pada 2030. Tema ini pernah dia singgung sebelumnya pada 18 September 2017, saat menghadiri acara bedah buku Nasionalisme, Sosialisme, Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo di Auditorium Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia. Prabowo menyebutkan tiga buku rujukannya yang menginspirasinya soal teori Indonesia terancam segera bubar.

Saat itu mantan Danjen Kopassus ini mengatakan dalam waktu dekat, perang hegemoni antara Cina dan Amerika Serikat segera memuncak. Dampaknya Laut Cina Selatan akan menjadi medan pertempuran. Indonesia otomatis terkena imbasnya. Ia pun menunjukkan beberapa buku yang Ia bawa sebagai hadiah untuk FEB UI, salah satunya berjudul Ghost Fleet karya P.W Singer dan August Cole yang mencantumkan kisah Republik Indonesia sudah lenyap pada 2030. Tunggu dulu, buku tersebut ternyata novel bergenre techno thriller yang gayanya mirip fiksi ala Tom Clancy. Di novel tersebut, Indonesia digambarkan bubar sebelum 2030 karena terjadi perang Timor untuk kedua kalinya. Lalu wilayah yang dulunya Indonesia dikuasai bajak laut dan kriminal.

Waduh...

*Disclaimer: Om Prabowo tahu kok Ghost Fleet itu cuma novel, tapi dia menyebut dua penulisnya adalah peneliti isu-isu keamanan global. Jadi pandangan mereka tetap layak menjadi acuan.

Gonjang-ganjing terjadi. Sebagian pengguna Twitter dan Facebook mencemooh pidato Prabowo karena memakai novel sebagai dasar prediksi yang bikin khawatir rakyat Indonesia. Menurut anak buahnya di Gerindra, prediksi berdasarkan cerita fiksi itu tak sepenuhnya keliru. Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerindra, Fadli Zon, membela bosnya kalau topik yang disampaikan Prabowo lebih tepat disebut ‘peringatan’ untuk bangsa ini agar berbenah.

Adapun Wakil Ketua Partai Gerindra, Edhy Prabowo berkukuh novel Ghost Fleet bukan satu-satunya referensi Prabowo saat membicarakan kemungkinan Indonesia bubar pada 2030. Ada beberapa sumber lainnya yang juga dibaca, yakni "kajian sejarah."

"Beliau tahu, baca buku. Jadi tidak mungkin beliau (memprediksi 2030 Indonesia bubar) hanya karena fiksi itu,” kata Edhy saat dihubungi awak media.


Sebelum Om Prabowo bikin prediksi berdasarkan fiksi ilmiah, VICE sudah melakukannya juga lho. Simak salah satu cerpen dari pekan fiksi VICE memprediksi 2038 berikut:

Memakai fiksi sebagai inspirasi pidato politik bukan barang baru. Biasa banget. Beberapa Presiden Amerika Serikat, seperti Gerarld Ford atau Bill Clinton kadang menyitir kutipan novel untuk pidatonya. Lagian tak masalah apapun sumber Pak Prabowo, mau dari science fiction sekalipun. Toh tetap ‘science’ kan ya? Yah walaupun ada embel-embel ‘fiction’ sih. Nah, masalahnya cuma sayang kalau argumen bubarnya negara berpenduduk 261 juta jiwa ini hanya mengacu satu novel saja.

Makanya redaksi VICE mencoba cari fiksi sejenis yang membedah skenario Indonesia bubar. Ingat, ini bukan resensi buku. Ini adalah penggalan cerita, eh "kajian", yang patut kita percaya buat memprediksi bagaimana Indonesia berisiko ambruk di masa mendatang.

This Is Not A Game – Walter Jon Williams

Setelah melalui berbagai pencarian, "kajian" karya Walter Jon Williams yang terbit 2009 ini salah satu yang paling banyak menggambarkan masa depan Jakarta (jika itu bisa dianggap mewakili Indonesia) lewat fiksi ilmiah. Memang sih tidak sebrutal ‘Indonesia bubar 2030’, tapi skenarionya kalau dijadikan pidato lumayan mengerikan. Buku ini menceritakan sosok Dagmar Shaw, perempuan yang memproduksi Alternate Reality Game untuk seorang miliarder. Saat hendak liburan ke Bali, Ia terjebak ketika transit di Jakarta yang saat itu sedang dilanda kekacauan. 'Kajian' ini penting menggambarkan kondisi Jakarta dalam paragraf seram seperti berikut:

“...A lot of women wore headscarves or the white Islamic headdress. She went to the currency exchange to get some local currency, and found it closed. The exchange rates posted listed something like 110,000 rupiah to the dollar. Most of the shops and restaurants were also closed, even the duty-free and the chain stores in the large attached mall, where she wandered looking for a place to change her rupees for rupiah. The bank she found was closed. The ATM was out of order...” (halaman 6-7)

Mungkin penggambaran Walter Jon bisa jadi ‘kajian’ pidato soal potensi kehancuran ekonomi, risiko membiarkan pejabat tetap korup, dan merebaknya konservatisme di Tanah Air. Aku membayangkan pejabatnya berpidato, “Bayangkan menurut kajian peneliti luar negeri 1 dollar jadi Rp110 ribu! Semua transaksi ekonomi kolaps, bisnis hancur!”

Di buku ini, dikisahkan seorang pejabat bank sentral Indonesia hendak kabur ke luar negeri sambil membawa batangan emas. Maka tinggal sebut saja dalam pidatonya, “berdasarkan kajian peneliti luar negeri bernama Walter Jon, pejabat-pejabat Indonesia di masa depan pada kabur bawa harta ke luar negeri!”

Nah ini mungkin ‘kajian ini’ bisa jadi pidato buat membahas utang negara atau jatuhnya nilai rupiah kelak. Boleh banget!

Expatriates: A Novel of the Coming Global Collapse – James Wesley Rawles

Indonesia yang diceritakan James Wesley Rawles dalam Expatriates lebih optimis dibanding 'kajian' sebelumnya. Menurut Wesley, Indonesia beberapa tahun lagi berhasil jadi negara maju, memiliki kekuatan menginvasi negara lain, termasuk Australia. Namun ternyata kekuatan menginvasi itu juga harus dibayar dengan kondisi dalam negeri yang mengkhawatirkan. Adanya peristiwa yang disebut 'The Crunch' membuat kalangan moderat Indonesia kalah jumlah dibanding yang konservatif. Ekonomi kolaps. Indonesia lantas dipimpin seorang teokrat yang menyebarkan ‘Acehnisasi’ ke seluruh negeri. Selamat tinggal Indonesia yang toleran.

“Indonesia’s secular constitution was sharply eroded... The increasingly muzzled Indonesian press at first called this Acehinization but later more discreetly called it “moderation of morals or “return to devout values.” (Bab 11)

“In the new Indonesia, the radical imams had slowly been putting a theocracy in place for more than a decade.” (Bab 11)

“Most recently, under legislation of spearheaded by the Islamic Defenders Front (FPI) and the Justice Welfare Party (PKS), kissing in public had been banned, as well as “lascivious clothing”. To some clerics, the new dress code was interpreted as head-to-toe coverage for women, even in Indonesia’s sweltering climate. All of these steps were heralded as “defense against Western decadence." (Bab 11)

Jujur sih aku menunggu kapan ada politikus atau capres yang berani pidato soal merebaknya konservatisme, persekusi, dan main hakim sendiri seperti dijabarkan beberapa paragraf 'kajian' di atas. Aku pikir sih, kalau pejabat pidato soal skenario masa depan Indonesia yang terjadi dalam buku Expatriates akan lebih ‘realistis’ rasanya ketimbang membayangkan Indonesia hancur 2030.

Eh tapi aku khawatir sih kalau pidato yang terinspirasi 'kajian' Wesley jadi begini:

“Para peneliti luar negeri mengkaji bahwa Indonesia akan jadi negara kuat! Bahkan menginvasi negara maju seperti Australia! Asalkan kita hancurkan budaya baraaaat, budaya asing, budaya kafir!”

Duh rasanya familiar ya sama pidato macam ini.

Ghost in the Shell: Stand Alone ComplexSolid State Society

Nah sebagian pasti menerka-nerka Ghost in the Shell? Memangnya ‘kajian’ soal Indonesia yang bagian mananya sih? Ghost in the Shell kan banyak banget macamnya?

Anime Ghost in the Shell: Stand Alone Complex seri Solid State Society ini diadaptasi dari manga Mashamune Shirow dan disutradarai Kenji Kamiyama. Indonesia digambarkan telah berubah Republik Siak pada 2034. Republik Siak itu di mana sih? Kesultanan Siak menurut cerita adalah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Provinsi Riau.

Plot 'kajiannya' bercerita tentang unit keamanan Public Security Section 9 Pemerintah jepang yang menginvestigasi kematian massal misterius imigran asal Republik Siak. Dalam season 2 anime ini, digambarkan terjadi konflik sosial dan politik yang terjadi setelah terjadinya dua perang dunia besar yang menyebabkan tiga juta orang dari berbagai negara Asia menjadi pengungsi (sebetulnya cuma ⅓ penduduk Jakarta sih). Jepang lantas membuka pintunya bagi para pengungsi tersebut sebagai tenaga kerja murah. Karena setting 'kajian' ini adalah masa sesudah perang, banyak orang menjadi pengangguran. Kondisi itulah yang menyebabkan kekacauan.

Plot 'kajiannya' memang agak njelimet. Namun setidaknya ‘kajian’ ini bisa menjadi hal menarik untuk dibahas dalam pidato politik. Termasuk soal sikap Indonesia soal pengungsi. Coba, bagaimana kalau di masa depan nanti kajian Indonesia hancur terjadi dan ternyata kita yang malah jadi pengungsi di negara lain? Cocok banget jadi bahan retorika verbal politisi yang ingin mengobarkan nasionalisme. Ingat, semua ini bahan kajian ya. Jangan langsung dicemooh. Resapi saja informasi dari 'kajian-kajian' yang kami usulkan.

Daripada nyinyir, mending usahakan raih cita-citamu sebelum 12 tahun berlalu. Nikah kek, jadi sarjana, atau jalan-jalan sesegera mungkin. Kalau Indonesia betulan bubar kan berabe...

Tagged:
Features
indonesia
Prabowo Subianto
Politik
Novel
Berita
ramalan
Sastra
Prediksi
2030
Fiksi
Indonesia 2038
Partai Gerindra
Kajian ilmiah
Calon Presiden