Sejarah Kuliner

Berbagai Bangsa Saling Berebut Klaim Sebagai Penemu Resep Kopi Dalgona

Kopi dikocok ratusan kali yang ngetren itu sekilas dari Korsel. Ternyata orang Makau, India, Yunani, sampai Kuba merasa resepnya tiruan versi mereka. Penelusuran kami sampai pada kesimpulan mengejutkan.
Bettina Makalintal
Brooklyn, US
17.4.20
Siapa Penemu Resep Kopi Dalgona yang viral
Foto ilustrasi kopi dalgona oleh Jennifer Gauld via iStock / Getty Images Plus 

“Kopi Dalgona” merupakan salah satu tren kuliner terpopuler selama pandemi corona. Kopi kocok krim ini dibuat dengan cara mengaduk bubuk kopi instan campur gula, dan sekarang ke manapun mata menoleh di media sosial, kita pasti nemu saja postingan orang yang menjajal bikin minuman ini. Nama "kopi dalgona" sendiri tergolong baru ramai diperbincangkan netizen sedunia mulai akhir Februari lalu.

Tren baru ini—yang memiliki nama sama dengan produk permen madu Korea—populer berkat seorang YouTuber Korea. Pemicunya adalah cuplikan acara TV Korea yang diunggah pada bulan Januari, menampilkan aktor Jung II Woo sedang menyicipi minuman kopi kocok di Makau, menurut artikel South China Morning Post.

"Rasanya kayak permen gula manis ya?" ujar salah satu komentator—maka dari itulah namanya "kopi dalgona", dalgona secara harfiah adalah gula manis dalam bahasa Korea. Berkat internet dan orang-orang yang bosan di rumah selama menghindari penularan virus corona, resep minuman ini semakin marak.

Ketika resep minuman ini menjadi lebih dikenal secara global, asal-usul dan bahkan nama dari minuman ini sendiri sering diperdebatkan, karena banyak negara mengklaim versi mereka sendiri-sendiri. Tapi yang jelas, sejarah dan signifikansi kopi instan kocok tersebut jauh melebihi sekedar tren media sosial di era pandemi ini.

Untuk melacak sejarah kelahiran resep “kopi dalgona” kita tentu harus menengok kembali ke Makau. Cafe kecil tempat Jung menjajal minuman ini adalah Hon Kee Cafe, dibuka pada dekade 90'an oleh mantan pembuat kapal Leong Kam Hon, setelah dia mengalami kecelakaan yang hampir membuat lengannya diamputasi.

Biarpun lengan Leong bisa disambung kembali, kondisi fisik yang lemah membuatnya banting setir jadi barista. Dia membuka kafe untuk para pekerja kapal, merujuk laporan CNN pada 2013. Sebelum membuka kafenya, dia mempelajari kung fu, yang membantunya melatih stamina dan berguna ketika membuat minuman kopi yang membutuhkan banyak tenaga.

Iklan

Leong mengatakan ke CNN bahwa dia mempelajari teknik mengocok kopi instan hingga menjadi krim pada awal 2000an dari “pasangan turis” yang menghadiri Macau Grand Prix setiap tahun, biarpun dia tidak tahu persisnya negara asal pasangan tersebut. Saking intensnya teknik mengocok yang dibutuhkan, “kopi dalgona” kini juga sering disebut sebagai “kopi 400x,” mengacu pada jumlah kocokan yang dibutuhkan supaya kentalnya pas. Leong merasa teknik ini “sangat merepotkan” sehingga dia biasanya memilih kopi biasa saja.

Kemudian pada 2004, aktor Hong Kong Chow Yun-Fat mengunjungi Hon Kee. Berusaha membuat takjub sang aktor, Leong membuat minuman kopi kocok. Sang aktor menyukainya, dan ini membuat banyak orang mengunjungi kafe untuk mencicipi minuman tersebut. Minuman ini bahkan sempat dikenal dengan julukan "Kopi Chow Yun-Fat", menurut CNN. Hype akibat kehadiran Chow Yun Fat tidak bertahan lama, kopi kocok tangan ini tetap menjadi produk khas kafe tersebut, mengacu pada resensi di TripAdvisor.

Masalahnya, teknik pembuatan kopi macam ini bisa ditemukan di berbagai pojok dunia jadi sulit mengatakan siapa penciptanya.

Menurut berbagai blog kuliner, video-video tua YouTube, dan sebuah laporan dari Economic Times, minuman ini sudah lama dikenal di India dan Pakistan, serta memiliki banyak nama. Di antaranya: “kopi pheta (halus)”, kopi phenti hui”, “kopi phitti hui”, “cappuccino India”, dan variasi lainnya. Tidak peduli apapun sebutannya, cara pembuatannya persis sama dengan “kopi dalgona”: yakni mengocok kopi instan dan gula hingga teksturnya tebal dan berbusa, kemudian disajikan dengan susu.

Minuman sejenis juga bisa ditemukan di benua lain. Di Yunani, minuman ini dikenal sebagai “frappe”, dan bahkan berjuluk "minuman nasional tidak resmi" negara tersebut. Di Libya—di mana minuman ini dikenal sebagai “cappucino gaya Libya” atau Nescafe, seperti merek kopi instant—saking umumnya minuman ini, banyak keluarga dan cafe menyimpannya di kulkas, menurut blog We Are Food. Sesuai artikel Huffington Post yang tayang pada 2017 mengulas “cappucino India,” proses pembuatannya mirip dengan cafe cubanos Kuba yang ikonik. Bedanya, warga versi Kuba mengocok espresso panas pakai gula.

Kita harus ingat, kopi instan merupakan pilihan bagi konsumen di banyak negara. Kopi instan digunakan “lebih dari 34 persen bisnis retail kopi di seluruh dunia,” menurut data industri. Popularitas kopi instan terbesar mudah kita dapati di Asia, Australia dan Eropa Timur. Teknik pengocokan kopi dengan tangan bukan hanya membuat minuman sederhana menjadi lebih seru, tapi juga menjadi cara alternatif menyiapkan minuman bagi mereka yang tidak memiliki susu atau mesin espresso di rumah.

Sekalipun masuk akal ketika Korea diklaim sebagai tempat asal “kopi dalgona,” banyak budaya lain yang keberatan. Dalam thread Twitter yang populer, sebuah akun skeptis dengan kenyataan bahwa orang “terkagum-kagum dengan ‘penemuan’ teknik baru membuat kopi ini. Dia menambahkan bahwa cara pembuatan frappe gaya Yunani ini awalnya diakibatkan kurangnya ketersediaan susu.

Iklan

India Today malah mengaitkan popularitas “kopi dalgona” sebagai tiruan resep susu kunyit budaya mereka. Surat kabar tersebut menulis: "Oh, negara Barat baru saja menemukan Kopi Dalgona dan sedang terobsesinya dengan penemuan baru mereka. Tapi apa bedanya minuman ini dengan Kopi Phenti Hui yang sudah lama kita minum di negara kita sendiri?"

Media sosial membuat kita sadar bahwa di seluruh dunia, bermacam budaya menikmati jenis minuman serupa. Secara global, kopi kocok merupakan produk rumahan yang simpel dan dibuat karena keterpaksaan, namun seiring warga Amerika Serikat mulai mengadopsi tren ini, mungkin nasibnya tidak akan beda jauh dengan “latte kunyit” di AS. "Columbising" merupakan istilah slang yang mengacu pada fenomena orang kulit putih yang berperilaku seakan-akan mereka baru saja “menemukan” sesuatu yang baru, padahal hal itu sudah lama ada di dunia. Perilaku tersebut biasanya disusul dengan “branding ulang” dan “peningkatan mutu” dan dipasarkan untuk warga Amerika kulit putih kelas menengah ke atas. Seperti yang dijelaskan penulis kuliner Khushbu Shah di Taste edisi 2018, apa yang dia kenal sebagai minuman herbal buatan ibu dijual sebagai “Gold Latte” seharga 8 dollar secangkir di New York dan “Golden Herbal Tonic” di Los Angeles seharga US$7.

Kalau kamu stres melihat harga “kopi dalgona” yang mahal di menu-menu kedai kopi terdekat, ingatlah bahwa minuman ini tadinya merupakan produk buatan rumahan. Kamu sendiri bisa kok membuatnya, tinggal butuh niat dan kesabaran mengaduk—ya lumayanlah buat melatih otot tangan.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES