Psikologi

'Kejar Passion-mu' Ternyata Saran Menyesatkan Untuk Pengembangan Karir

Ada beberapa tips praktis hasil penelitian ilmiah yang sebaiknya kalian terapkan daripada berlama-lama mencari 'passion'.

oleh جيسيكا دوري
12 Juli 2018, 12:28pm

Foto ilustrasi oleh Thomas Barwick/Getty Images

Gairah, cita-cita, minat, ambisi, dan hobi yang kau geluti sepenuh hati. Ada banyak kosa kata untuk menmbahasakannya, tapi anak muda di Indonesia lebih suka menjulukinya dengan istilah asing: passion. Masalahnya, pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari ternyata sering bermasalah.

Menurut beberapa penelitian terbaru, passion sebaiknya dikembangkan dan bukan dicari. Kamu pasti sering dengar motivator bilang “temukan passionmu”, tapi saran tersebut kurang tepat dan keliru bagi Paul O’Keefe, peneliti dan dosen psikologi dari Yale-NUS di Singapura.

“Kesannya mereka sudah punya minat dan passionnya sendiri, dan akan langsung sukses kalau sudah menemukan passionnya,” ujar O’Keefe.

O’Keefe bekerja sama dengan Carol Dweck, pelopor dalam bidang penelitian pola pikir, dan Greg Walton, dosen psikologi di Stanford University, untuk mendapatkan alasan mengapa ada segelintir orang yang sukses mengejar dan mengembangkan minat mereka. Para peneliti menarik kesimpulan dari penelitian Dweck, yang menemukan bahwa pola pikir sangat memengaruhi ketahanan seseorang dalam menghadapi tantangan.

“Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pola pikir bisa membuat orang memaknai tantangannya dengan cara berbeda. Ada yang menganggap kalau kecerdasan mereka sudah ada dari lahir dan tidak bisa diubah, sedangkan yang lainnya berupaya untuk mengembangkannya.”

Penelitian Dweck hanya berfokus pada dampak pola pikir terhadap kecerdasan, sedangkan O’Keefe dan rekan ingin melihat apakah pola pikir punya dampak yang sama pada pengembangan passion dan minat.

Serangkaian penelitian yang melibatkan 470 peserta menunjukkan bahwa mahasiswa yang pola pikirnya berkembang lebih bersedia untuk mencoba minat baru. Itu artinya pola pikir berkembang memungkinkan kita untuk memiliki minat lain agar bisa lebih maju. Mereka tidak akan puas pada satu minat saja.

“Banyak hal yang bisa dipelajari agar hidup kita jauh lebih baik. Minat yang sudah ada pun bisa dikembangkan,” lanjut O’Keefe.

Selain membuat hidup jauh lebih bermakna, kita bisa menciptakan hal baru dengan menggabungkan segala minat yang kita miliki. Banyak bidang pengetahuan baru yang tercipta karena ini.

Penelitian-penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa romantisasi konsep "passion" ternyata bermasalah sebab orang akan mulai menyerah ketika jalan untuk mewujudkan passion mereka ternyata sangat pelik.

Dalam sebuah penelitian, sejumlah siswa diminta menonton video animasi menarik tentang lubang hitam dan astrofisika untuk memancing minat mereka. Kemudian setelah itu, mereka diminta membaca artikel riset tentang lubang hitam beserta persamaan matematika yang rumit dan bahasa abstrak. Dalam kasus ini, mereka yang merasa bahwa kecerdasaan adalah sesuatu yang sudah jadi alias ajeg akan kehilangan minatnya terhadap astrofisika meski sekian menit sebelumnya terlihat begitu tertarik.

“Ekspektasi mereka sudah dihancurkan. Mereka berpikir minat baru mereka akan disertai dengan kekuatan magis yang sifatnya motivasional dan begitu apa yang mereka temukan makin rumit, mereka mengevaluasi ulang ketertarikan mereka dan berkata ‘Ah mungkin, minat saya bukan ini’” ujar O'Keefe. Kelompok ini cenderung menyakini bahwa passion saja sudah jadi modal yang cukup untuk membuat perjalanan mewujudkannya jadi lebih mudah.

Meski minat pada kelompok yang yakin bahwa kecerdasan bisa dikembangkan juga menurun, mereka rata-rata masih menunjukkan ketertarikan. Kesadaran bahwa ketertarikan baru tak serta merta dibarengi stok inspirasi yang tak habis-habisnya serta bahwa mereka harus berjuang menekuni bidang baru ini lumayan membuat mereka tetap tertarik.

Kecenderungan untuk menganggap kecerdasan bersifat ajeg atau sebaliknya bisa dikembangkan mungkin dipelajari sejak dini. Penelitian penelitian Dweck yang menggemparkan pada 1998 membuktikan bahwa anak kecil yang kerap dipuji karena kepintaran mereka cenderung percaya bahwa kecerdasaan bersifat ajeg. Sementara itu, anak-anak yang mendapatkan pujian atas upaya yang mereka lakukan biasanya percaya bahwa kecerdasan masih bisa diakali dan ditingkatkan.

Penelitian Dweck tersebut berhasil mengidentifikasi asal dari kedua cara pikir di atas. Tapi, jangan khawatir, kalau kamu memang sering dipuji karena kecerdasanmu saat kecil dulu, masih ada waktu untuk mengubah cara pandangmu. Dosen psikologi dari Stanford, Greg Walton, salah satu peneliti dalam riset terbaru yang kita bahas di atas, mengatakan bahwa cara kita mendekati passion dan ketertarikan baru barangkali bergantung pada pilihan kita belaka. Artinya, introspeksi diri bisa membantu kita menyadarkan tiap cara pikir bahwa kecerdasaan bersifat ajeg muncul sehingga kita bisa mengantisipasinya.

“Misalkan kamu seorang mahasiswa, dan kamu sedang mencoba kelas baru. Lalu kamu mikir seperti ini, ‘Aku pikir kelasnya akan menyenangkan ternyata malah membosankan.’ Kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri: apakah pemikiranmu ini valid? apakah cara pikir ini mewakili pandangan kalau passion itu menunggu kita temukan? atau mungkin ini passion baru yang bisa aku kembangkan?” ujar Walton. Sederet pertanyaan ini bisa membantu tiap orang mengambil pilihan passion yang sesuai dengan tujuan hidup dan nilai yang mereka yakini.

Dan, bagi mereka yang terus menerus mencari ketertarikan dan mengembangkan passion baru, Zorana Ivcevic, seorang ilmuwan periset di Yale Center for Emotional Intelligence dan Direktur Emotion and Creativity Lab, merekomendasikan untuk terus memasang dan berusaha memenuhi target baru terkait ketertarikan baru yang mereka miliki.

“Menurut hipotesa kami, membangun passion dan ketertarikan baru bisa dimulai dengan komitmen. Caranya dengan menggabungkan aktivitas baru dalam kehidupan sehari-hari seseorang dan memasang target-target baru. Begitu seseorang terbiasa dengan aktivitas barunya dan makin percaya diri, mereka akan mempunyai keinginan untuk melanjutkan aktivitas tersebut, membangun komponen emosional dari sebuah passion,” kata Ivenic.

Dia juga mengimbuhkan memiliki minat yang luas bisa menginspirasi munculnya ide-ide segar baru. Ini mungkin menjelaskan kenapa beberapa penerima hadiah Nobel diketahui memiliki ketertarikan terhadap seni dan kerajinan tangan, lebih dalam dari orang biasa.

Dengan kata lain, “temukan passionmu” mungkin bukanlah nasihat paling buruk yang pernah diberikan manusia. Hanya saja, kita perlu lebih bijak menggunakan sebab menemukan passion baru hanyalah langkah pertama dari perjuangan panjang, dan kadang pelik, untuk mewujudkan passion baru.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.