Iklan
Bertanya Pada Pakar

Biasa Nyalahin Hujan, Bus Kota, Atau Motor Sebagai Biang Kemacetan? Pikir Lagi Deh

Pakar tata kota dan transportasi yang kami hubungi mengingatkan ada yang keliru dari cara pikir kayak gitu.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
02 Juli 2018, 7:08am

Potret kemacetan sehari-hari di Jakarta melibatkan mobil, bus, dan sepeda motor. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Macet itu sudah menyebalkan, namun lebih ngeselin kalau truk di depan kita memasang grafitti bertuliskan, “mau cepet? Terbang aja sono…”

Pengin sih. Tapi jalur ke bandara nyatanya juga sering macet tuh. Sampah.

Kemacetan adalah realitas yang dihadapi warga kota-kota besar Indonesia. Apalagi Jakarta. Manusia di ibu kota ini lahir brojol langsung akrab sama macet. Orang Jakarta bisa dibilang pakarnya macet. Mulai dari pakar “mengatasinya” (masuk “jalan tikus”, atau bawa motor sambil nyerobot trotoar), hingga pakar yang jago menuding banyak hal sebagai penyebab kemacetan (hujan, ada voojrider, sama angkot/bus umum ngetm sembarangan).

Saya teringat pernah berdebat sama kawan ketika sama-sama terjebak macet di angkot. Kawan yang gelisah melulu itu saya suruh naik ojek online motor saja kalau ingin cepat. Keki, dia membalas, “ojek online itu enggak menyelesaikan masalah, malah nambah ruwet.”

Siapa yang benar kira-kira ya, saya atau teman yang anti sama sepeda motor tadi?

Saya jadi tertarik membahas soal biang kerok macet yang lazim disebut orang Indonesia. Banyak hal sudah disalahkan sebagai penyebab kemacetan. Tapi mari kita hubungi pakar tata kota dan transportasi publik, Yayat Supriatna selaku pakar Perencanaan Perkotaan dari Universitas Trisakti untuk mengulas asumsi-asumsi yang biasa kita pakai sebagai kambing hitam kemacetan. Berikut rinciannya:

PAS HUJAN LEBAT BIASANYA JALANAN LEBIH MACET TUH. HUJAN = MACET

Secara teknis penyebab macet berhasil dijelaskan gamblang dalam video bikinan channel Hujan Tanda Tanya. Video itu membahas kasus mudik lebaran 2016 di pintu keluar tol Brebes atau yang dikenal dengan julukan 'Brexit'. Dalam kasus yang menyorot perhatian internasional tersebut, ada jutaan kendaraan terjebak selama nyaris 48 jam, sepanjang puluhan kilometer yang menyebabkan korban jiwa akibat stress dan kelelahan berat. Kemacetan ini pun disebut sebagai “kemacetan terparah sepanjang sejarah mudik Indonesia”.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa biang kerok kemacetan justru adalah “kecepatan” itu sendiri. Intinya perubahan kecepatan yang tidak teratur secara mendadak. Kendaraan mendadak berhenti punya efek domino lho. Jika kendaraan makin banyak, wajar bila macetnya makin parah dong! Kembali ke pertanyaan utama, bagaimana dengan hujan? Hujan memaksa para pengendara berjalan lebih berhati-hati atau lebih pelan. Tak lain tak bukan ya karena seringkali ada genangan air cukup dalam atau bahkan banjir.


Tonton dokumenter VICE Indonesia mengenai infrastruktur kota besar, termasuk transportasi umum, yang masih tak ramah difabel:


Di luar itu semua, para pengendara motor pun mendadak berhenti, berteduh di tepi jalan atau di bawah jembatan layang yang bikin jalanan menyempit. Hujan memang bikin motor enggak banyak beredar, tapi masalahnya kan memang bukan di kendaraan yang berjalan, tetapi di kecepatan kendaraan yang tiba-tiba melambat. Makanya kadang aku suka aneh sehabis kena macet dan lalu lintas kembali lancar, penyebab pasti kemacetan tidak pernah bisa terlihat jelas. Pokoknya tiba-tiba lancar aja.

“Kalau macet itu ya macet, [arus kendaraan] berhenti. Kalau kemacetan itu proses kecepatan yang berkurang. Artinya ada proses pelambatan,” kata Yayat. “Jadi kapasitas ruas daya tampung jalan yang tidak sesuai dengan jumlah volume kendaraannya. Bukan karena hujan.”

PENGAWALAN MOBIL PEJABAT TUH NGESELIN. KAYAKNYA VOORIJDER PUNYA ANDIL BIKIN JALANAN MAKIN MACET

Pernyataan semacam ini pernah disebut oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Pada 2014 lalu, politikus akrab disapa Ahok itu masih menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Dia menilai salah satu kemacetan di Jakarta disebabkan oleh pejabat yang menggunakan voorijder. Dengan alasan itulah Ahok menolak adanya pengawalan setiap harinya.

"Kita pikir Jakarta terlalu macet. Voorijder perhatikan, pas pakai kita lewat, dia hanya pikirkan kita lewat. Jadi di (setop-setopkan) orang lain, habis kita lewat berantakan macetnya keluar pergi ikuti kita," kata Ahok kepada awak media pada 2014. "Harusnya mereka kalau mau pakai pengawalan mending buat ambulans, pemadam kebakaran atau bus tingkat, agar orang enggak merasa terhalangi."

Nah sebetulnya logika macet voorijder masih sama dengan yang dibahas sebelumnya. Kendaraan dipaksa menyingkir dan memberikan jalan bagi hal yang semestinya penting dan diutamakan! Nah, yang jadi masalah adalah apakah betul fungsi voorijder masih sesuai? Apakah lantas kita bermacet ria demi kepentingan umum atau situasi darurat, atau sebatas kepentingan orang berduit dan berkuasa?

“Voorijder itu kan sekarang tidak konsisten lagi, banyak orang yang menggunakannya untuk kepentingan personal, karena ada transaksi. Itu sudah menjadi komoditas, menghilangkan fungsi-fungsi yang harusnya berdasarkan kepentingan,” ungkap Yayat. “Kalau pejabat yang sudah tidak mau dikawal lagi, dan dia merasakan macet, semestinya dia berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah kemacetan itu.”

ANGKOT DAN BUS UMUM SUKA NGETEM LAMA ITULAH BIANG MACET. YA ENGGAK SIH?

“Ah macet nih gara-gara angkot ngetem lama,” atau “Ah Kopaja nih biasa berhenti sembarangan bikin mandek aja.”

Familiar dengan pernyataan tersebut? Benarkah justru kendaraan angkutan umum tersebut sering jadi biang macet? Harus diakui sistem transportasi umum di Indonesia masih belum bisa disebut melayani publik secara massal. Badan pengelola Transportasi Jabodetabek menyebutkan baru 15 persen penduduk DKI Jakarta yang menggunakan angkutan umum. Sehingga, ya masyarakat lagi-lagi mencari jalan sendiri untuk mengatasi ketidaknyamanan mereka.

“Kalau kita melihat faktornya karena mereka suka berhenti sembarangan, kenapa? Karena konsepnya setoran. Kalau menuntut setoran ya merek nunggu [ngetem] lah. Kalau Transjakarta enggak berhenti karena mereka gajian,” ungkap Yayat. “Karena ada sistemnya, pegawainya digaji, operator dibayar jadi dia enggak pernah rugi karena dijamin sama pemerintah. Kopaja, Metromini, Angkot ini enggak dapat apa-apa dari pemerintah. Mereka harus menanggung bebannya.”

Iya belum lagi nih, kalau kita bayar angkot atau Kopaja semestinya jauh dekat dengan harga sama, eh kita bayar setengahnya hanya karena kita berasumsi bahwa, “Saya mah rutenya dekat kok”, terus buru-buru lari kabur.

Jadi, gimana nih? Asumsi kita yang klasis, atau emang sistemnya yang busuk yang bikin kita punya cara masing-masing menyelesaikan masalah macet?

JUMLAH SEPEDA MOTOR BANYAK BANGET. MEREKA ITULAH BIANG KEMACETAN

Yayat Supriatna menjelaskan "sumber pemiskinan" yang paling menyedot penghasilan masyarakat Jabodetabek ada tiga aspek: transportasi, sewa rumah atau kosan yang terlalu mahal, dan sembako. Biaya transportasi jadi masalah paling utama, sebab makin ke sini rumah terjangkau hanya bisa dibeli di pinggiran kota antah berantah yang jauh dari akses transportasi massal.

“Karena penggunaan sistem tata ruang perumahan, tidak nyambung dengan sistem transportasi. Rumah murah itu ada di pinggiran kota, ketika dia beli rumah maka dia juga akan beli motor. Jadi kebijakan transportasi tidak sejalan dengan kebijakan pemukiman,” kata Yayat. “Ujung-ujungnya kelompok miskin yang tinggal di pinggiran yang kena sindrom P13: pergi pagi pulang petang pantat panas pinggang pegal pala pusing pendapatan pas-pasan. Terus saja terjadi, [ongkos transportasi] menggerus pendapatan orang 30-40 persen.”

Tak ayal, motor adalah moda transportasi paling menjanjikan. Biaya transportasi umum sehari bisa jadi setara dengan biaya bensin motor seminggu! Inilah mengapa motor dianggap sebagai “SO-LU-SI”. Bagi siapa? Bagi masyarakat kecil yang tidak punya banyak pilihan.

“Ketika mobil tidak pernah direm jumlahnya dan motor terlalu murah artinya memang ada kesengajaan membuat macet, dan bagi pelaku-pelaku usaha, [industri kendaraan pribadi] [mereka anggap] “macet itu bukan urusan saya,” ujar Yayat yang sepanjang karir mengajarnya di universitas selalu menggunakan transportasi umum ini. “Karena macet itulah yang melahirkan ego. Ego di pengambil kebijakan, ego di tingkat masyarakat. karena ketika pemerinta tidak berbuat, apakah macet ini kan dibiarkan?”

Pertanyaan Yayat itu, silakan kalian jawab sendiri. Siapa tahu bisa dapat ilham (atau minimal bisa mengisi waktumu selama kena macet) untuk mencari penyebab dua jam terakhir mobil yang ditumpangi cuma maju 300 meter saja.


Bertanya Pada Pakar adalah kolom VICE Indonesia untuk menguji asumsi atau pengetahuan umum di negara ini dari sudut pandang ilmiah. Simak wawancara/liputan dalam format sejenis di beberapa tautan berikut:

Pengin Harimu Lebih Suram? Mari Simak Skenario Kerusakan Andai Jakarta Kena Gempa

Bekas Teroris Menganalisis Potensi Ledakan Besar Jika Kita Sembarangan Main Kembang Api

Kenapa Manusia Bisa Hidup Sampai 146 Tahun Kayak Mbah Gotho di Klaten?