Fenomena Sosial

Menyelidiki Sekian Penyebab Pelajar Indonesia Rutin Alami Kesurupan Massal

Apakah karena banyak sekolah di negara ini berhantu atau angker? Psikolog punya kambing hitam selain faktor mistis.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
02 April 2019, 9:44am

Peristiwa kesurupan massal pelajar SMK 3 Yogyakarta setelah upacara bendera pada 2014. Foto oleh Kresna, diunggah seizin merdeka.com

Saat enam teman sekolahnya bertumbangan, rebah ke tanah, menangis sesenggukan, dan mendadak meracau di kelas, Fachruzio Alfarisi tak sempat berpikir macam-macam. Dia buru-buru menolong mereka. Temannya jadi korban peristiwa yang jamak terjadi di Indonesia: kesurupan massal pelajar.

Insiden itu terjadi pada 2018, saat ia masih duduk di kelas 3 SMA negeri di Kota Tangerang, Banten. Dia ikut menggotong enam orang teman yang kesurupan ke pelataran masjid sekolah. Saat keenam temannya sadar, ia kembali ke kelas. Tiba-tiba, dia merasakan hal aneh perlahan menjalar di tubuhnya. Fachruzio merasa tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Dia amat yakin gejala itu hanya bisa dilawan dengan bacaan ayat suci Al Quran, karena berasal dari kuasa jahat.

"Ketika gue sampai di kelas, gue bengong sebentar, tiba-tiba gua langsung merasa kaya ada yang aneh, gue enggak bisa kontrol pikiran," kata Fachruzio kepada VICE. "Gue bilang ke temen, kalau gue juga kena [kerasukan], tapi temen sekelas satupun enggak ada yang percaya, mungkin karena waktu itu gue terlihat tenang. Habis itu gue telepon nyokap buat bacain ayat kursi, karena susah banget buat gue saat itu baca ayat-ayat suci tersebut."

Tak berapa lama kemudian, Fachruzio hilang kesadaran.

Dia tidak ingat apa yang dilakukannya selama pingsan. Menurut keterangan teman-temannya, dia berteriak dan meronta selama hampir 30 menit, sebelum akhirnya tenang dan kembali membuka mata.

Fachruzio mengaku awalnya bukan tipe yang percaya pada kekuatan gaib, hantu, dan semacamnya. Tapi setelah kejadian di sekolahnya tersebut, mau tak mau ia percaya bahwa ada roh yang bisa mengendalikan tubuh manusia secara sepihak.

Menurutnya, apa penyebab insiden kerasukan massal di sekolahnya hari itu? Rumor beredar, itu semua ulah makhluk halus jahat dari sebuah universitas tempat kawan-kawan perempuannya ikut kompetisi tari beberapa hari sebelumnya.

Mahluk jahat yang gemar merasuki manusia tampaknya banyak berkeliaran di sekolah-sekolah negara ini. Sebab, Pengalaman Fachruzio bukan hal baru. Sempatkanlah mengetik kata kunci 'pelajar kerasukan massal' di kolom pencarian Google, maka kalian akan mendapatkan ratusan berita merujuk insiden macam itu sepanjang kurun 2008-2018.

Kesurupan menimpa pelajar manapun, dari kota besar macam Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga kota kecil macam Lingga, Payakumbuh, ataupun Malili. Seringkali, kesurupan massal sampai mengganggu aktivitas belajar mengajar. Beberapa sekolah terpaksa meliburkan siswa, ketika banyak anak didiknya tak sadarkan diri, meraung, dan histeris akibat pengaruh mahluk halus. Pendek kata, kesurupan massal adalah peristiwa yang terjadi dari Sabang sampai Merauke. Jumlah korban seringkali dalam hitungan jari, tapi kadang bisa mencapai ratusan siswa. Dalam kondisi terdesak, sekolah mengundang ustaz atau paranormal untuk mengusir mahluk halus yang mengganggu tersebut.

Kronologi terjadinya peristiwa itu beda-beda. Kadang kerasukan terjadi begitu saja tanpa aba-aba. Beberapa kasus bermula setelah pelajar mengunjungi tempat tertentu yang dianggap angker. Tapi ada satu benang merah. Biasanya akan ada satu atau dua pelajar yang pingsan lebih dulu, mendadak histeris, baru kemudian teman-temannya mengalami hal serupa.

Hmm, bukankah itu dalam gejala psikologi disebut histeria massal?

Akademisi pun menduganya demikian. Tim dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sempat melakukan riset di satu SMA Kota Bandar Lampung, yang pernah mengalami kesurupan massal. Dari empat siswi yang mengalami kesurupan, ditemukan variasi intensitas gangguan kecemasan dan depresi yang sebelumnya dialami tiap subyek penelitian.

Bisa dibilang, faktor bawaan itu yang membuat mereka mengalami 'kesurupan', sementara pelajar lain di sekolah yang sama aman dari ulah iseng mahluk halus.

Dosen Psikologi Unika Soegijapranata Semarang, Siswanto, bertahun-tahun meneliti kesurupan massal. Dia sampai pada kesimpulan yang sama dengan kolega dari UI. Kata Siswanto, kesurupan adalah terminologi khas Indonesia untuk menyebut gejala Dissociative Identity Disorder (DID).

Siswanto menyebut kesurupan, termasuk yang rutin dialami pelajar di negara ini, sebagai bagian kasus kepribadian majemuk, sesuai International Classification of Diseases 11 yang dilansir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kesurupan jadi terasa mistis, bahkan dianggap menular, karena dalam kebudayaan Indonesia tubuh dan jiwa dianggap tidak terpisahkan. "Di daerah-daerah dengan pengaruh agama dan kepercayaan pada supernatural yang kuat, kesurupan dipahami sebagai faktor eksternal yakni masuknya ruh gaib ke dalam tubuh manusia," ujarnya saat dihubungi VICE.

Dari sudut pandang antropologi dan psikologi klinis, ada dua jenis kesurupan yang jamak terjadi di Indonesia, menurut Siswanto. Yakni kesurupan yang mengganggu dan tidak mengganggu. Kesurupan yang tidak mengganggu dapat dilihat dari beragam ritual adat di Indonesia, seperti kuda lumping atau reog. Sementara kesurupan massal di tempat umum, termasuk sekolah, menurut Siswanto sudah masuk kategori gangguan yang tidak dikehendaki.


Tonton dokumenter VICE soal tradisi sunat gila-gilaan di Jawa Barat yang melibatkan kuda menari dan orang kerasukan:


Lantas, kenapa pelajar yang sering jadi korbannya? Mengapa pula insiden seperti ini lebih sering dialami sekolah, dibanding kantor? (Padahal, VICE Indonesia pernah menulis kunjungan paranormal yang bilang kalau kantor kami banyak hantunya lho).

Siswanto memberi satu petunjuk penting: pantau kapan peristiwa kerasukan massal terjadi dan siapa yang mengalaminya? Periode terjadinya kesurupan biasanya September hingga Februari, dialami lebih sering oleh pelajar kelas 3 SMA ataupun SMP, artinya mereka yang tengah berjuang untuk lulus.

Itu fase paling penuh tekanan bagi pelajar, terutama saat ujian nasional menjadi momok banyak pelajar. Sejak 2006 Ujian Nasional disebut sebagai penentu utama kelulusan siswa. Pelajar yang gagal melewati nilai minimal rata-rata harus mengulang ujian di tahun berikutnya.

"Kesurupan sering terjadi saat dulu UN menjadi penentu kelulusan," kata Siswanto. "Kalau sekarang sudah lebih jarang."

Setelah diingat-ingat lagi, Fachruzio mengakui insiden yang dia alami terjadi dalam periode 'panen kesurupan' seperti kriteria Siswanto. "Kejadian itu pas gue kelas 3 SMA semester dua, berarti di sekitar Januari sampai April 2018," ujarnya. Jadi mungkinkah penyebab kesurupan yang dialaminya karena ujian nasional? Fachruzio menampiknya. Dia tetap percaya mahluk halus sebagai biang keladinya. "Pikiran gue kosong jadi lebih mudah kemasukan yang gaib."

Baiklah. Tapi UN memang tak selalu bisa menjelaskan fenomena ini. Beberapa kasus kesurupan terjadi di saat pelajaran normal, atau saat siswa mengikuti kegiatan kemah di luar sekolah. Bagaimana psikolog memahami pola yang berbeda tersebut?

Siswanto merasa perlu ada kajian kasus per kasus, apakah ada aktivitas yang menguras fisik maupun emosi dalam situasi sebelum terjadi kesurupan massal. Tekanan yang dihadapi pelajar, terutama, karena sistem pendidikan di Indonesia amat mementingkan nilai dan kompetisi antar individu, layak dicurigai.

"Bagi anak-anak sekolah, kesurupan massal bisa jadi semacam jadi coping mechanism di tengah lingkungan sekolah yang sangat tidak baik," kata Siswanto. "Bayangkan dulu saat sistem UN menentukan kelulusan. Kepala daerah memberikan pressure pada guru, sekolah pun ikut menekan pelajar, sehingga yang ada hanya belajar setiap hari. Seisi sekolah stres. Belum lagi orang tuanya mengharuskan dapat nilai bagus, anak-anak enggak tahu tekannnya harus dialirkan ke mana."

Teror UN baru sedikit mereda pada 2015, setelah Menteri Pendidikan kala itu, Anies Baswedan, tak lagi menetapkan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa. Penghapusan total sistem Ujian Nasional hampir terealisasi di masa kepemimpinan Muhadjir Effendy yang menggantikan Anies. Namun, tiba-tiba saja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membatalkan rencana tersebut. Asumsinya, siswa tidak akan mau belajar kalau tidak ada UN.

Penjelasan Siswanto mengingatkanku pada teror pada 2010 dulu, ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Sekolahku, SMA negeri di Purwakarta, berharap semua pelajar kelas 12 bisa lulus UN. Kami diminta mengikuti doa bersama. Ini acara yang lazim bagi banyak sekolah di Tanah Air. Solusi spiritual bisa membantu kami lebih rilesk secara psikologis, dan sukses dalam ujian.

Hasilnya? Tak lama setelah acara doa bersama mulai, Beberapa kawanku menggeliat tak karuan. Sebagian pingsan. Ada dua orang lainnya kesurupan di kelas matematika. Satu orang terlihat mencakar-cakar meja, beberapa lainnya menari jaipong. Tragis ya. Sekolahku justru mengalami kesurupan massal saat menggelar acara keagamaan yang seharusnya menjauhkan kami dari gangguan mahluk halus.

Siswanto menganggap tradisi sekolah mengangani kesurupan lewat pendekatan spiritual perlu diubah. Sekolah wajib menyodorkan pendekatan berbeda, fokus pada penanganan psikologis.

Sebab mantra dan doa tak bisa selalu manjur "menyembuhkan" orang yang sedang kesurupan, apalagi jika itu dalami massal. Mencegah kesurupan bisa jadi lebih efektif dengan memisahkan orang-orang yang masih sadar dan sehat, agar memberikan sugesti positif dan keceriaan pada mereka yang sedang histeris.

Pasalnya, akan selalu ada satu pelajar pertama yang histeris. Ekspresi histeris itu menyebar ke orang-orang lain di sekitarnya yang kemungkinan—dari kacamata psikologi—merasakan tekanan, rasa takut, dan stres serupa.

"Kalau diberikan bacaan-bacaan semacam doa-doa, hal itulah yang justru akan menambah rasa takut," ujar Siswanto. "Karena orang semakin percaya bahwa setannya itu ada."

Tagged:
indonesia
Gangguan Mental
Psikologi
Pendidikan Indonesia
Stres Pelajar
Histeria Massal
Kesurupan Massal