Iklan
Setahun VICE Indonesia

Deretan Cerita Terbaik VICE Indonesia Setahun Belakangan

Terima kasih pembaca, VICE resmi setahun hadir di Indonesia. Untuk mengenang perjalanan 12 bulan terakhir, kami hadirkan kompilasi artikel terbaik yang pernah muncul di situs ini.

oleh VICE Staff
07 November 2017, 8:55am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Tak disangka 12 bulan cepat sekali berlalu. Ketika VICE—media digital fokus pada generasi muda—memutuskan membuka biro di Indonesia, kami sadar tantangan sangat berat. Ada banyak media di Tanah Air sama-sama menyasar pembaca di segmen 'millenials' maupun 'generasi z'. Perjalanan VICE dimulai dengan tim sangat kecil. Kami mulai bekerja sejak Agustus 2016. Jumlahnya tak sampai 20 orang. Mimpi bersama itu akhirnya terwujud pada 7 November 2016, tepat berselang setahun dari hari ini, ketika situs VICE tayang bagi pembaca di seluruh Indonesia dalam format dwibahasa.

Kami beruntung. Walaupun kecil, tim yang kami punya memiliki kesamaan visi. Keberuntungan lain kami dapat dari deretan kontributor berbakat yang bersedia membagikan cerita-cerita luar biasa lewat VICE Indonesia. Jejaring kontributor ini mencakup jurnalis lepas, penulis, aktivis, copywriter, fotografer, musisi, seniman, hingga sastrawan. Tanpa kontributor, mustahil kami bisa menghadirkan laporan maupun opini memikat. Jika ada dari pembaca termasuk kontributor yang membantu redaksi 12 bulan terakhir, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih tak terhingga.

Semua orang yang menjadi tulang punggung VICE sejak awal-awal kehadirannya di Indonesia menyadari ada peluang bagi media ini untuk meraih tempat di hati pembaca. Syaratnya kami wajib berkomitmen pada nilai yang membuat VICE sukses melebarkan sayap di 37 negara seluruh dunia.Yakni, konsisten menjalankan komitmen kami melayani pembaca muda yang berminat pada jenis cerita tak banyak dilirik oleh media massa lainnya.

Cerita yang memperkaya perspektif dan pengalaman, opini provokatif menggebrak standar kelaziman, keberpihakan pada mereka yang termarjinalkan, sampai video dokumenter dari tema-tema yang selama ini dipandang sebelah mata. VICE tidak ingin menambah jumlah konten biasa-biasa saja untuk pembaca Indonesia. Mulai dari pengalaman menjadi anak preman, mencoba memboikot produk zionis, sampai seharian menghabiskan waktu bersama mantan teroris.

Setelah setahun berjalan, dari sisi jumlah pembaca maupun semua pihak yang berminat berkolaborasi bersama kami, redaksi bersyukur VICE mulai memiliki tempat tersendiri dalam belantara media di Tanah Air.

Kami berangkat dengan kesadaran penuh, dilandasi kerendahan hati, bahwa VICE tidak berhak mengklaim posisi sebagai juru bicara anak muda. Justru kami setiap hari dipandu pembaca, melalui kritik, cacian, saran, dan usulan ide liputan. Karena pembaca loyal kami, yang sering dijuluki millenials itu, sejatinya lebih tahu tentang dunianya. Mereka, generasi muda yang selalu hendak ditafsirkan kebiasaannya oleh perusahaan periklanan, membutuhkan media alternatif, yang memberi ruang tetirah dan berkontemplasi, di tengah derasnya arus informasi Abad 21.

Ketika semua media berminat menghasilkan artikel atau tema viral baru, kami melawan arus: menghadirkan cerita-cerita kecil yang semoga bermakna. VICE juga berupaya menghadirkan slow journalism, jurnalisme lamban mementingkan kedalaman cerita dan akurasi data, ketika rekan-rekan media lain fokus pada kecepatan. Semoga upaya kami menjadi otentik ini bisa selalu diterima oleh pembaca.

Selain itu, VICE di Indonesia menyadari pembaca kami adalah anak muda yang berwawasan global, sangat aktif di media sosial, serta punya kesadaran politik dan sosial khas. Tak keliru rasanya jika setahun terakhir, pembaca bisa melihat kami fokus menggarap tema konservasi lingkungan, perjuangan kelompok minoritas (mulai dari penganut sekte tertentu atau kawan-kawan LGBTQ), memerangi misogini, dan penghormatan terhadap keragaman gagasan. Sebab tema-tema itulah yang diyakini banyak generasi muda Indonesia.

Pekerjaan rumah kami masih jauh dari sempurna. Kekurangan tercecer di sana-sini. Hanya karena dukungan pembacalah, VICE masih percaya diri melangkah menyajikan konten-konten yang bisa memberi nilai tambah untuk semua. Sebagai ungkapan terima kasih, VICE menyajikan deretan cerita-cerita terbaik berdasarkan respons pembaca. Setiap artikel dalam daftar ini berhasil memicu perbincangan publik, bahkan sukses memperkenalkan kami kepada pembaca yang sebelumnya tak akrab dengan media bernama VICE. Dari sudut pandang redaksi deretan cerita ini pun membanggakan, hasil kerja keras seluruh staff writer, fotografer, ilustrator, editor, dan tim media sosial, menyajikan yang terbaik buat pembaca.

Terima kasih banyak. Selamat membaca daftar berikut, jangan ragu menambahkan cerita terbaik VICE pilihan kalian di media sosial. Semoga kebersamaan ini terus berlanjut hingga bertahun-tahun ke depan.


Bapakku Gun Jack, Preman Terbesar Yogyakarta

Foto oleh Dea Karina.

Artikel ini menjadi perkenalan yang manis bagi VICE dengan pembaca Indonesia tahun lalu. Kisah yang dituliskan oleh kontributor berbakat kami, Dea Karina, berhasil menjangkau banyak orang, baik dari segi traffic, jangkauan di medsos, maupun komentar balik pembaca. Tak hanya kuat dari segi tema, cerita tentang sosok preman yang dihormati masyarakat itu sekaligus menabalkan ciri khas cerita-cerita VICE. Sampai sekarang, artikel ini menjadi standar kami demi mempertahankan mutu bagi pembaca sekalian.


Jalan Hidup Baru Sang Guru Militan Asia Tenggara

Foto oleh Renaldo Gabriel.

Setiap staff writer di VICE diminta memilih beat (atau topik liputan) tersendiri untuk mereka dalami. Redaksi sadar, mustahil jurnalis menguasai semua isu sama kuatnya. Adi Renaldi, yang berulang kali membuat geger jika menulis musik, memilih beat terorisme. Terbukti, untuk tema-tema ini, Adi sanggup menghadirkan cerita yang sulit dilupakan. Feature mendalam soal Nasir Abas di atas adalah kulminasi perjalanan Adi menelusuri jejaring kelompok radikal di Tanah Air yang jarang diangkat oleh media massa.


Kembalinya Persitara, Si Anak Tiri Sepakbola Jakarta

Foto oleh Renaldo Gabriel.

Sepakbola merupakan fenomena sosial luar biasa di Indonesia. Sepakbola juga keseharian anak muda—tema yang tak dilupakan oleh redaksi VICE. Fanatisme suporter klub lokal Indonesia segera menarik perhatian kami. Sebelum beranjak ke kota-kota lain, kami menemukan cerita yang sangat kuat dari Jakarta, ibu kota yang selama ini dianggap hanya terwakili oleh satu klub sepakbola. Daya juang para pendukung Persitara ini patut diabadikan.


Pengalamanku Melamar jadi Pramusaji Hooters Pertama di Indonesia

Foto oleh Premnath Kudva via Wikicommons.

Eksperimen sosial merupakan salah satu format cerita khas yang dipakai redaksi VICE seluruh dunia. Kolom 'That Was Easy', ambil contoh, merupakan cara tutur yang kami pilih agar pembaca bisa terlibat dalam pengalaman si jurnalis. Cerita dari bekas rekan kerja kami Daniella Syakhirina ini, berhasil mengoptimalkan kelebihan sudut pandang orang pertama dalam sebuah kisah. Pembaca diajak merasakan detail peristiwa yang biasanya sulit dirasakan semua orang. Dalam artikel ini, tentu saja, topik utamanya mengajak kita semua membayangkan sendiri betapa riilnya seksisme dunia kerja.


Derita Orang Indonesia Dengan Nama Cuma Satu Kata

Ilustrasi oleh Ilham Kurniawan.

'Views My Own' adalah kolom VICE Indonesia untuk menampung opini pribadi yang narasinya kuat sekaligus memikat. Sebisa mungkin, opini tersebut harus mengguncang keyakinan mapan, sekaligus memberi perspektif baru terhadap para pembaca. Opini dari kontributor kami, Alice, di atas adalah contoh terbaiknya. Lewat satu fenomena kecil, soal nama hanya satu kata berawal dari pengalamannya sendiri, Alice sukses mendedah jalinan panjang diskriminasi rasial dan politik di negara kita, warisan primitif yang seharusnya tak ada lagi setelah Indonesia menjadi lebih demokratis.


Orang-Orang Memanggilnya Pendeta Jalanan dari Semarang

Foto oleh Iyas Lawrence

Redaksi VICE memiliki kepedulian pada mereka yang termarjinalkan. Lebih dari itu, kami ingin orang-orang yang bergerak riil mengatasi persoalan kemanusiaan mendapat dukungan dari masyarakat. Sosok pendeta Agus Sutikno di Semarang adalah contoh terbaik profil yang kami harap bisa mengundang pembaca terpanggil melakukan perubahan kecil. Bila negara ini terjalin berkat ide bernama tenun kebangsaan, maka Pendeta Agus merupakan penenun yang gigih, bekerja dalam diam, merawat simpul-simpul kemanusiaan selama membantu pekerja seks dan anak terlantar di bantaran kali timur Semarang. Kisah hidupnya layak dibaca siapapun.


Dilema Para Penulis 'Pabrik Naskah' Sinetron Indonesia

Cuplikan adegan dari RCTI mobile.

Budaya populer secara tidak langsung menggambarkan kematangan sebuah bangsa. Sinetron, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, tentu saja artefak yang perlu direkam secara layak. Melalui liputan ini, yang sukses memancing respons pembaca maupun komunitas pekerja industri kreatif pertelevisian, VICE mengungkap faktor-faktor pemicu sekian problem logika plot sinetron Indonesia yang kita benci sekaligus dirindukan.


Memori Anak-Anak Curian Dari Timor Leste

Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina.

Bangsa yang dewasa tidak akan melupakan sejarahnya. Termasuk bila itu sejarah pahit betapa Indonesia pernah melanggar pembuka Undang-Undang Dasar-nya sendiri, yang seharusnya menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi. Kontributor kami dari Makassar, Eko Rusdianto, mengajak pembaca menilik kembali kelamnya tindakan militer Indonesia selama Perang Seroja di Timor Leste. Korban pelanggaran HAM itu, anak-anak yang diculik, sampai sekarang belum mendapat permintaan maaf dan pemulihan haknya dari negara.


Kami Mengulas Rasa Paket Ransum TNI Buat Kalian

Foto oleh Iyas Lawrence.

Kuliner adalah tren yang lekat dengan anak muda. Sudah pasti, VICE juga memberi ruang besar bagi tema-tema mengenai makanan dan manusia yang berkreasi dengan cita rasa dan bumbu tersebut. Karena kami ingin menghadirkan sudut pandang otentik, Renaldo Gabriel yang berpengalaman jadi asisten koki, menjadi andalan redaksi. Salah satu topik paling menarik dari Renaldo adalah ulasan kami tentang ransum TNI ini. Cerita di atas berhasil menjangkau banyak orang, termasuk para personel TNI. Hanya saja, perlu kami ingatkan, membeli ransum militer di luar jalur resmi sebetulnya tidak diperkenankan lho. Jadi, jika ingin mencoba, sebaiknya minta baik-baik kepada kawan atau keluarga yang beprofesi sebagai TNI.


Siapa Manusia Layak Disebut Pribumi di Indonesia?

Ilustrasi oleh Iyas Lawrence.

Pandangan rasis menyeruak kembali dalam perbincangan nasional di negara kita setahun belakangan. Sebagian politikus berusaha membangun garis demarkasi, memisahkan antara 'kita' dan 'mereka' memakai pola pikir era kolonial dalam istilah pribumi. Redaksi VICE secara tegas menolak rasisme. Maka reporter andalan VICE, Arzia Wargadiredja, kami minta menempuh perjalanan panjang menelusuri mengapa istilah pribumi—dari kajian ilmiah, politik, maupun linguistik—masih saja bertahan sampai sekarang. Hasilnya adalah artikel di atas.


Pelecehan Seksual Menghantui Kancah Musik Independen Indonesia

Sumber Foto arsip band.

Kancah musik independen Indonesia berkembang pesat sejak Orde Baru runtuh. VICE merekam berbagai perkembangan musik yang mengasyikkan dari Tanah Air. Sayang, di balik gegap gempita semangat komunitas, ada satu masalah yang terus menghantui, yakni maraknya seksisme dan pelecehan seksual terhadap perempuan di skena. Laporan dari penulis kami Yudhistira Agato berikut secara gamblang membedah peta persoalan dan akar masalah yang harus dibasmi, supaya kancah musik lokal kembali asyik buat semua gender.


Sosok di Balik Lebahganteng

Sumber foto: flickr/Kenneth Lu

Ada banyak subkultur berkembang di Indonesia, yang berangkat dari komunitas digital. Meme, parodi, vlog, hingga komunitas penerjemah subtitle swadaya, adalah beberapa di antaranya. Penulis kami, Manan Rasudi, memiliki spesialisasi menggarap topik offbeat dan nostalgia. Ketika datang kesempatan mewawancarai lebahganteng, yang namanya dikenal semua penikmat film hasil file-sharing di Tanah Air, tentu saja Manan paling cocok mengampu tanggung jawab tersebut. Cerita ini sukses menabalkan ciri khas VICE di mata pembaca sebagai situs yang peduli pada beragam subkultur digital.


Kenapa Anak Muda Indonesia Mau Terbebani Resepsi Pernikahan Mahal?

Foto oleh Indi dan Rani Soemardjan (Flickr)

Pernikahan adalah topik yang selalu relevan bagi anak muda. Gara-gara kuatnya institusi pernikahan pula, sampai sekarang guyonan basi tentang jomblo tetap direproduksi. Penulis kami, Syarafina Vidyadhana yang fokus pada isu-isu perempuan, menangkap problem yang lebih besar dari maraknya pernikahan lewat artikel di atas. Terutama, tekanan sosial yang membuat anak muda terbebani biaya resepsi di luar kemampuan. Mengakhiri praktik resepsi berbiaya mahal bisa menjadi solusi agar hidup anak muda lebih bahagia. Selain itu, format tulisan tersebut berupa wawancara beragam narasumber (biasa kami sebut vox pop) secara jujur dan tanpa basa-basi, adalah ciri khas yang membentuk karakter artikel VICE Indonesia.