Film Reboot ‘Mulan’ Sepenuhnya Menggunakan Aktor Asia

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Akhir-akhir ini banyak debat di dunia Hollywood mengenai whitewashing—istilah yang digunakan di dunia sinema ketika karakter dari kaum minoritas diperankan oleh aktor kulit putih—dan bagaimana sulitnya aktor Asia mendapatkan peran yang bebas dari stereotip ras. Namun film live-action reboot Mulan yang akan dirilis Disney—yang dikabarkan seluruh perannya menggunakan aktor berdarah Cina—artinya menjadi film Hollywood pertama yang semua perannya dimainkan aktor Asia.

Videos by VICE

Ketika Matt Damon muncul di trailer The Great Wall, aktris keturunan Taiwan dari serial TV Fresh off The Boat, Constance Wu mengkritik keras film kolaborasi Hollywood-Cina tersebut karena makin melanggengkan mitos bahwa hanya pria kulit putihlah yang bisa menyelamatkan dunia di dalam layar lebar. “Pahlawan di negara kami tidak terlihat seperti Matt Damon,” katanya.

Bahkan aktor sepopuler Steven Yeun dari The Walking Dead tidak lolos dari diskriminasi Hollywood. Menurut komedian Bobby Lee, Yeun sempat diaudisi untuk peran sebuah film dan hanya diberikan lima baris dialog. “Saya jamin kalau yang diaudisi aktor kulit putih seperti Aaron Paul, gak mungkin cuman dikasih lima baris dialog,” kata Lee di TigerBelly, podcast miliknya.

Di episode podcast Lee yang sama, Margaret Cho, seorang komedian Amerika Serikat keturunan Korea yang tampil di komedi situasi Asia-Amerika pertama di jaringan TV terestrial AS menjelaskan bagaimana Tilda Swinton, seorang aktris kulit putih menghubunginya untuk berdiskusi seputar kontroversi pemilihan Swinton memainkan peran the Ancient One di Doctor Strange. Peran tersebut awalnya ditulis sebagai karakter asal Tibet. Cho mengatakan pengalamannya ngobrol dengan Swinton membuatnya merasa direndahkan. Swinton sendirilah yang akhirnya merilis percakapan email tersebut—yang awalnya dia minta dirahasiakan. Di akhir email tersebut dia mengatakan bahwa dia tengah membuat “Film setengah berbahasa Korea/setengah berbahasa Inggris pertama” yang menampilkan aktor Steve Yeun. Lee menganggap bahwa Swinton berusaha pamer bahwa dia “tidak rasis.”

Dalam sebuah interview setelah insiden email tersebut, Cho mempertanyakan kenapa aktor kulit putih boleh memainkan peran Asia (yellow face) ketika aktor kulit putih sudah tidak boleh lagi memerankan peran karakter kulit hitam (black face).

Jadi tidak heran banyak yang protes ketika orang dalam industri film Asia-Amerika membeberkan lewat blog Angry Asian Man bahwa skrip The Legend of Mulan akan menampilkan cerita seorang pedagang asal Eropa yang jatuh cinta dengan Mulan dan kemudian menyelamatkan negara Cina.

Setelah itu, tagar #MakeMulanRight muncul sebagai bentuk kritik negatif sosial media terhadap keputusan pembuat film untuk menggunakan aktor kulit putih sebagai jagoan. VICE ngobrol dengan Sarah Chang dan Simu Liu, aktor asal Kanada keturunan Asia yang mencoba mendapatkan peran di film Mulan tersebut dan mengapa film reboot ini sangat penting bagi mereka dan komunitas aktor Asia Amerika di sana.

Audisi Sarah Chang untuk ‘The Legend of Mulan

Bagi Chang dan Liu, film Mulan versi tahun 1998 mengajarkan mereka representasi dinamika ras di Amerika Serikat, jauh sebelum boneka Barby berambut hitam dibuat dan bintang YouTube keturunan Asia menjadi sukses dan terkenal. Di kultur pop AS, selain karakter Wanda dari The Magic School Bus atau Ranger Kuning (dari Power Rangers), hanya ada Mulan yang merepresentasikan ras Asia. Mulan adalah karakter utama di filmnya, berbicara bahasa Inggris tanpa aksen dan tidak hanya sekedar karakter pembantu yang jago matematika. Film animasi tersebut juga tidak esoterik macam cerita di sekolah Mandarin dan tidak melibatkan zodiak Cina ataupun asal muangsal tarian Barongsai.

Chang mengatakan ke VICE bahwa melihat karakter utama Asia dalam sebuah film menginspirasi dirinya untuk berlatih Wushu, sejenis seni bela diri kontemporer. Dia sempat berlatih di bawah naungan Zhang Guifeng, rekan bintang laga Jet Li semenjak kecil di McLean, Virginia.

Bagi kaum milenial Asia, General Li Shang—kapten tentara Cina dan pujaan hati Mulan—merepresentasikan sosok lelaki Asia yang tidak lemah dan justru seorang pahlawan.

Liu yang kini berakting dalam serial TV Kim’s Convenience di stasiun TV CBC dan berperan sebagai Faaron di Taken yang ditayangkan oleh NBC mengatakan bahwa ketika masa remaja, dia sulit mendapatkan pacar karena sosok lelaki Asia yang selalu ditampilkan ‘tidak menarik atau macho’ oleh media. Gebetannya di kelas lima SD memuja-muja anggota boyband berambut pirang. Akibatnya dia ingin menjadi seperti Justin Timberlake, agar lebih disukai cewek-cewek.

Ini adalah masalah yang dialami hampir semua penduduk AS keturunan Asia. Dan akibatnya, warga keturunan Asia selalu merasa diabaikan oleh kultur pop negara Barat.

Biarpun Li Shang bukan orang sungguhan, karakternya di Mulan adalah seorang lelaki Cina yang seksi. Sering mengunggah swafoto bertelanjang dada di media sosial, Liu ingin membuktikan bahwa lelaki Cina juga bisa dianggap menarik oleh semua kalangan.

“Warga keturunan Cina berhak untuk merasa menarik dan berperilaku narsistik, sama seperti ras lain,” kata Liu ke VICE. “Saya menolak untuk dikategorikan sebagai kaum minoritas yang selalu digambarkan sebagai teman kutu buku.”

Mantan stuntman di seri Hero’s Reborn ini mengatakan mimpinya adalah untuk memerankan Li Shang di film Mulan.

“Jarang-jarang Disney membuat versi layar lebar film animasi dan jarang-jarang juga sebuah film layar lebar mengisahkan warga Cina,” kata Liu.

Simu Liu: “Saya bangga mempunyai darah Cina.”

Lahir di Harbin, Cina, Liu tertarik dengan seni bela diri semenjak kecil akibat figur-figur ikonik seperti Bruce Lee dan Jackie Chan. Mereka adalah laki-laki Asia yang dihormati dan tidak diperlakukan sebagai karikatur kaum rasis semata. Namun biarpun begitu, orang tua Liu tetap kekeuh memaksanya les piano dan sepak bola.

Selain ketika sedang main kartu Pokemon di sekolah Mandarin di masa kecilnya, Liu menolak untuk menggunakan bahasa Mandarin dan kerap menggunakan bahasa Inggris ketika mesti merespon.

Namun tetap saja dia tumbuh menjadi figur Asia yang sempurna, lulus dengan gelar s1 akunting dan kerja kantoran 9-to-5. Namun setelah diberhentikan pada tahun 2012, Liu menolak kembali ke Bay Street (versi Kanada Wall Street) dan justu mencari peran akting di situs internet Craigslist. Ketika akhirnya dia masuk ke set pembuatan film untuk pertama kalinya, dia merasa dalam kendali hidupnya.

Menurut Chang, Mulan adalah sosok panutan spiritual, sebagai perempuan mandiri dan prajurit yang cekatan. Tidak heran Chang berusaha keras untuk mendapatkan peran Mulan. Dia dilatih oleh Zhang Hua dari Beijing Film Academy yang juga melatih bintang Zhao Wei di film live-action Mulan versi Cina untuk mempersiapkan dirinya mengikuti audisi. Dia juga berkonsultasi dengan Zhao Qing Jian, mantan Juara Dunia Wushu tentang teknik bela dirinya.

Dibantu beberapa teman, Chang merilis sebuah trailer berjudul The Rise of Mulan sebagai bagian dari audisinya.

Chang juga dilirik oleh produser CCTV di Cina. Stasiun televisi nasional Cina tersebut menayangkan sebuah dokumenter di bulan Desember yang menunjukkan perjuangan Chang menjadi Mulan, lengkap dengan adegan-adegan behind-the-scene ketika dia berlatih dan mempersiapkan diri.

Biarpun versi reboot Mulan tidak akan siap tayang sebelum November 2018, Liu berharap bahwa akan ada kemajuan.

Liu, seorang nominasi di Canadian Screen Awards mengatakan bahwa keberagaman ras dan suku di antara aktor-aktor Hollywood akan makin berkembang, tapi dibutuhkan waktu yang lama.

“Kita tahu harus ngapain—masih banyak kemajuan yang harus dicapai dan kita mencoba berkontribusi,” kata Liu. “Ada banyak yang mendukung dan yang tidak, tapi biar bagaimanapun, saya bangga berdarah keturunan.”

Follow Amy Chyan di Twitter.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.