Persoalan Rumah

Mimpi Beli Rumah di Menteng Bakal Menyadarkan Anak Muda Kalau Mereka Miskin

Kontributor VICE merancang skema membeli rumah di kawasan elit dan bersejarah Jakarta itu. Dia bertanya ke pakar properti, mengapa harga rumah di Menteng bahkan sulit ditebus yang gajinya dobel digit.
Alasan harga rumah di Menteng termahal di Jakarta
Pemandangan di salah satu ruas jalan menuju kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Semua foto oleh penulis. 

Tinggal di Jakarta selama lebih dari tiga tahun membuat saya mulai lebih mengenal kota ini. Dari keluh kesah sesama pengadu nasib, jam-jam macet yang bikin mulut seringkali mengumpat begitu lepasnya, hingga dinamika elit politik yang saling berebut panggung tanpa henti.

Namun Jakarta tak melulu soal urusan-urusan yang pelik. Di lain waktu, Jakarta bisa jadi ruang sentimentil atau pengepul segala hal yang berbau romantis. Kamu bisa patah hati dan jatuh cinta di kota ini dengan paripurna. Kamu dapat menelusuri kepingan-kepingan masa lalu, memikirkan kesalahan yang pernah diperbuat, sebelum akhirnya memantapkan diri untuk terus menatap masa depan dengan kepala tegak.

Iklan

Bagi saya, tempat terbaik guna menyalurkan kepingan-kepingan romantisme itu terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Sejak pertama datang ke kota ini demi mencari sesuap nasi, saya mendaulat Menteng sebagai sudut favorit di Jakarta. Pohon-pohon rindang yang berkelindan bersama taman kota yang senantiasa terjaga kerapiannya, misalnya, menjadi titik pelarian sempurna dari rutinitas pekerjaan yang menyita pikiran atau bermacam tuntutan hidup yang bikin kita kesulitan mencari jeda.

Hal utama yang bikin Menteng unik ialah fakta bahwa kawasan ini jadi episentrum rumah-rumah besar. Beberapa di antaranya bergaya modern atau kontemporer, sementara yang lain masih mempertahankan bentuk lamanya: arsitektur dengan sentuhan pengaruh Eropa klasik khas peninggalan era kolonial Hindia Belanda. Tiga faktor di atas itulah yang lantas membuat saya kesengsem dengan pesona Menteng dan sebisa mungkin menyempatkan rutin menghabiskan waktu akhir pekan di sana.

Bahkan, kecintaan itu juga yang mendorong saya bertekad, kelak, bisa punya rumah di Menteng. Saya membayangkan betapa syahdunya mengisi sore dengan menyiram pekarangan, duduk menenangkan diri dengan doing nothing, atau menyiapkan jamuan pesta sederhana untuk pasangan dan mengajaknya berdansa bersama diiringi balada “Hari Ini” milik Rafika Duri. Semua imajinasi tersebut bakal terasa istimewa dengan Menteng sebagai latar tempatnya.

Masalahnya, mimpi-mimpi ini ternyata butuh ongkos yang mahal—dan betulan mahal, bos!

Iklan

Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan indeks harga rumah (House Price Indeks) tertinggi di Indonesia. Keadaan itu membuat keinginan memiliki properti rumah di ibu kota, apalagi kalau kamu anak muda yang gajinya cuma beberapa tingkat di atas UMR, tak ubahnya ambisi yang muluk-muluk.

Dani Indra Bharata, Vice President Coldwell Banker, perusahaan properti dan real estate terkemuka, mengungkapkan perkembangan dunia properti, pada umumnya, ditentukan oleh tiga faktor. “Harga di pasar, pengembang, dan pemodal,” katanya saat dihubungi VICE.

Di Jakarta sendiri, menurut Dani, selain akses dan lokasi strategis, yang bikin harga properti melambung ialah faktor mapan atau tidaknya suatu kawasan. Dani mencontohkan kawasan Sudirman Business District Center (SCBD) yang dikenal sebagai pusat perkantoran elit. Ketika kawasan tersebut sudah mapan, Dani bilang, maka harga properti di sekelilingnya turut melonjak.

Sedangkan faktor kedua yaitu sejarah yang dimiliki kawasan bersangkutan. Inilah yang lantas jadi jawaban mengapa harga rumah atau properti di Menteng dikenal begitu mahal. Anton Sitorus, Kepala Riset Savills Indonesia, konsultan properti, menjelaskan nilai historis yang dipunyai Menteng ialah kawasan ini jadi tempat tinggal para pejabat maupun tokoh-tokoh penting sejak zaman Belanda.

“Memang sudah jadi trademark-nya Menteng, ya, sebagai kawasan elit. Pasalnya, sejak zaman Belanda berkuasa, terlebih ketika Batavia jadi pusat pemerintahan, Menteng ini dipakai pejabat pemerintahan atau pebisnis kaya,” terangnya. “Itu berlanjut sampai pasca-kemerdekaan maupun sekarang.”

Iklan

Tak hanya itu, representasi sisi historis Menteng juga dapat disimak kala sebagian ruang di kawasan Menteng, seperti di sekitar Taman Surapati, memperoleh status sebagai cagar budaya.

Dani menjelaskan Menteng menempati posisi pertama kawasan dengan harga rumah tertinggi di Jakarta. Jauh di atas Kebayoran, Pondok Indah, Kelapa Gading, serta Pantai Indah Kapuk (PIK). Prinsipnya sederhana: manakala harga rumah di kawasan lain meningkat, Menteng juga ikut terdampak naik.

_HVZ5168.JPG

Salah satu ruas jalan di kawasan Menteng. Foto oleh penulis.

Dua analisa pakar properti itu membikin saya penasaran berapa sebenarnya harga rumah di Menteng. Saya membuka situs jual beli rumah, rumah.com, dan mengetik kata “Menteng” di kolom pencarian. Hasilnya, ada sekitar 1.355 rumah dijual di Menteng dengan rata-rata harga rumah di sana berada di kisaran angka belasan hingga puluhan miliar rupiah.

Tentu saja saya bergidik melihat daftar harga tersebut. Sebagai anak muda yang berpenghasilan pas-pasan, harga rumah miliaran Rupiah di Menteng seperti pukulan uppercut yang mendarat tepat di muka, membuyarkan semua mimpi menyiram pekarangan dan menikmati sore di kawasan itu semasa tua nanti.

Kendati begitu, saya memberanikan diri membuat simulasi bagaimana caranya memperoleh satu rumah di Menteng. Beruntung, beberapa situs properti menyediakan fasilitas penghitungan beli rumah melalui sistem KPR.

Saya lalu mencari rumah sesuai imajinasi: memiliki pekarangan, satu lantai, dan cukup luas. Akhirnya, saya menemukan yang cocok, berlokasi di Jalan Cirebon. Luas tanah dan bangunan masing-masing sebesar 679 dan 359 meter persegi. Harga tanah per meternya mencapai Rp55,9 juta sehingga total harga keseluruhan adalah Rp38 miliar.

Iklan

Bila menggunakan fasilitas KPR, saya mesti mengeluarkan Rp7,6 miliar untuk biaya DP—artinya 20 persen dari harga. Cicilan tiap bulan yang harus saya bayar ke bank adalah Rp223.064.430, dengan estimasi suku bunga sebesar 8 persen, dan jangka waktu cicilan selama 30 tahun.

Anggap saja penghasilan saya dalam dua tahun mendatang meningkat jadi Rp10 juta tiap bulannya. Andai saya mati di usia lazim dan bisa hidup lagi untuk kesempatan kedua, gagal jadi pemilik perusahaan yang masuk ke indeks bursa saham LQ45, sekalipun gaji naik tiga kali lipat harga yang dipatok buat rumah Menteng tetap tak terjangkau.

Yang lebih miris lagi, dengan harga cicilan tiap bulan sebesar itu, kamu bisa memperoleh satu rumah tapak di daerah Depok. Tapi namanya juga tidak terlatih jadi orang kaya, mimpi beli rumah di Menteng kok masih KPR. Bisa beli rumah di sana sudah pasti rumahmu bukan cuma satu.

“Milenial pengin punya rumah di Menteng itu hampir mustahil, ya, kecuali kalau keturunan sultan,” ujar Andy seraya tertawa. “Jangankan di Menteng, di [kawasan utama] Jakarta sendiri aja itu sudah susah. Solusinya adalah kalau enggak beli di pinggiran, ya, sewa apartemen. Itu lebih rasional.”

Masalah kepemilikan rumah kelompok milenial memang jadi topik pembahasan yang seksi beberapa waktu belakangan. Sebagai bagian dari golongan milenial, saya tak memungkiri bahwa keinginan punya rumah merupakan tantangan tersendiri, yang seringkali bikin kepala pusing tujuh keliling.

Iklan


Untuk milenial yang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, kondisinya jauh lebih pelik lagi. Mereka dihadapkan dengan problematika riil seperti gaji yang tak tinggi maupun harga rumah yang tak bersahabat.

Untuk kasus Ibu Kota, biaya hidup adalah faktor penyedot penghasilan tak sedikit. Bagi mereka yang masih single, rata-rata biaya hidupnya mencapai Rp7,9 juta tiap bulan merujuk survei Lokadata. Sedangkan yang sudah berkeluarga, dengan asumsi punya dua anak, biaya hidupnya bisa menyentuh Rp27 juta tiap bulan. Ini tentu profil keluarga kelas menengah, yang suami maupun istri sama-sama bekerja lho.

Tidak heran apabila jumlah milenial yang sanggup memiliki rumah di Jakarta di bawah angka nasional (50 persen), dan belum jelas berapa persen dari angka itu yang berhasil mendapatkannya selain lewat warisan ortu.

Alhasil, solusi yang dipilih yaitu mencari rumah sekaligus berebut dengan milenial lainnya di daerah pinggiran seperti Bekasi, Depok, Tangerang Selatan, atau Bogor yang notabene jauh dari tempat kerja—walaupun ada fasilitas transportasi massal. Jika alternatif itu masih dinilai memberatkan, milenial bisa menyewa apartemen di kota, yang secara harga, mungkin, lebih terjangkau dengan pemasukan bulanan.

Andy Nugroho, perencana keuangan dari Advisors Alliance Group, menyatakan kondisi riil yang dialami anak muda Indonesia di bawah 30 tahun dalam mencari rumah adalah gerak antara peningkatan gaji dan harga rumah tidak seimbang.

Iklan

“Misalnya begini, 4 atau 5 tahun lalu, gaji fresh graduate berada di kisaran Rp4 atau Rp5 juta. Sementara harga rumah sendiri, katakanlah, Rp200 juta. Sekarang, kondisinya jadi begini: gaji mereka tidak mengalami perubahan signifikan, sedangkan harga rumahnya bisa naik jadi Rp400 juta atau Rp500 juta,” paparnya kepada VICE.

Walaupun berada pada situasi yang tidak ideal, Andy percaya milenial punya kesempatan untuk membeli rumahnya sendiri. Syaratnya, Andy menjelaskan, ada tiga. Pertama, kompromi dengan kondisi. Artinya, standar yang dipasang jangan kelewat tinggi.

“Biasanya orang beli rumah itu mempertimbangkan tiga aspek: harga, jarak tempuh ke kantor, dan luas rumah. Untuk milenial, kurangi berharap tiga kriteria itu bisa terpenuhi semuanya. Kalau dapat rumah dengan harga terjangkau tapi lokasinya berada di pinggiran, sikat saja,” jelasnya.

_HVZ5173.JPG

Sudut lain Menteng yang romantis, tapi harga rumahnya membuatmu menangis. Foto oleh penulis.

Lalu syarat kedua yakni melihat gaji yang diperoleh dalam satu bulan. Gaji menjadi patokan milenial agar mampu merealisasikan pelbagai proyeksi di masa mendatang, termasuk membeli rumah. Kemudian yang terakhir ialah rencana milenial ke depan. Andy memberi contoh bahwa apabila anak muda yang yakin akan menetap lama di Jakarta untuk meniti karier, kepemilikan rumah bisa jadi salah satu priotitas.

“Sebaliknya, jika milenial ingin berkelana, dalam artian ingin pindah ke kota lain atau luar negeri untuk, misalnya, sekolah dan bekerja, solusinya jangan beli rumah terlebih dahulu,” jawabnya. “Karena banyak yang beranggapan bahwa rumah adalah bentuk investasi. Tidak salah. Tapi, kalau rumah itu ditinggal pemiliknya dalam jangka waktu lama, bisa jadi terbengkalai. Kasus semacam ini sudah banyak dijumpai.”

Harus diakui bahwa persoalan kepemilikan rumah adalah mimpi buruk yang senantiasa muncul di kepala mereka yang baru menginjak usia 30-an. Lebih-lebih jika rumah yang diinginkan itu ada di Menteng. Memikirkannya seperti menghina diri sendiri. Masokis sekali. Bikin survei berapa harga rumah di Menteng dan mempelajari cara mendapatkannya, seketika membikin saya tersadar bahwa saya itu miskin.

Faisal Irfani adalah jurnalis lepas di Jakarta. Follow dia di Instagram